Inspire | Human Stories

Kala Gen Z Bicara Kemerdekaan

Rabu, 17 Aug 2022 12:00 WIB
Kala Gen Z Bicara Kemerdekaan
Jakarta -

17 Agustus tahun 1945, Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaan. Sebuah pencapaian, yang bisa disebut sebagai buah kolaborasi apik antara generasi muda dengan generasi tua pada masa itu. Berselang 77 tahun kemudian, sambut gayung kemerdekaan perlahan tertuju ke bahu sekelompok muda-mudi yang dikenal sebagai Gen Z, yang lahir dan besar di era kecanggihan digital. Sialnya, dengan segenap inovasi mutakhir yang serba mempermudah, Gen Z justru kerap dijadikan kambing hitam: disebut sebagai generasi manja, ketergantungan akan teknologi, minim skill, bermental rentan, dan lain-lain.

Hal-hal barusan, bergerak mengiringi Gen Z yang kian beranjak dewasa. Menariknya, generasi yang diplot sebagai pemimpin masa datang tersebut justru mulai bergerilya membuktikan diri, tanpa peduli bayangan dan terkaan negatif yang diarahkan kepada mereka. Perlahan, Gen Z mulai berkembang melampaui kesombongan para pendahulunya, yang lebih sering menatap dan meragukan. Tidak terkecuali, dalam menyikapi semangat kemerdekaan lewat cara yang progresif dan segar.

Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-77, kami bertanya dengan beberapa rekan Gen Z lintas profesi, tentang bagaimana cara mereka memaknai dan merayakan kemerdekaan.

.Ilustrasi Gen Z/ Foto: Freepik

Q: Apa yang terlintas di kepala, saat Anda mendengar "Hari Kemerdekaan Indonesia"?

Ilham (23 Tahun) - Desainer Grafis
Penuh perayaan. Dari kecil, 17-an itu identik dengan nyanyi lagu "Hari Merdeka" sambil tepuk tangan sebebas-bebasnya, terus ada juga lomba-lomba seru di jalanan, sama pawai pake baju adat keliling kampung. Asik, sih. Tapi makin kesini, kayaknya ritual-ritual itu cuma jadi momen balas dendam dari perayaan kemerdekaan sesungguhnya, yang sulit kita dapetin di kehidupan sehari-hari.

Dinar (22 Tahun) - Penulis Konten
"Libur! Gue bisa tiduran seharian, sambil nonton upacara 17-an di TV. But honestly, I'm so grateful for this moment. Especially to our founding fathers and the eldest heroes. Soalnya tanpa perjuangan di masa lalu, kayaknya kita nggak akan bisa kayak gini, di zaman ini, ya, kan?

Fransisca (16 Tahun) - Pelajar
Selayaknya pelajar lain, yang saya pikirkan adalah upacara 17-an wajib bagi seluruh murid di sekolah. Mungkin, karena saya memang aktif jadi paskibra sekolah sedari SD. Tapi buat kami [anak-anak paskibra atau purna paskibra], momen 17-an kayak gini selalu bikin deg-degan, terutama waktu lihat Merah-Putih mau dibentangkan.

Q: Menurut Anda, apa definisi Kemerdekaan?

Benita (22 Tahun) - Penata Rias
Menurut saya, kemerdekaan adalah kebebasan. Mulai dari kebebasan berpikir sampai kebebasan bertindak, yang masing-masing tujuannya adalah menciptakan perkembangan dan perubahan lebih baik, untuk diri sendiri dan untuk Indonesia, apapun itu bentuknya.

Althof (24 Tahun) - Atlet
Kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana kita dapat hidup berdampingan tanpa khawatir soal kesenjangan antara satu sama lain. Kemerdekaan adalah kondisi di mana kita semua dapat merasakan kemakmuran di masing-masing bidang yang kita suka. Entah itu dalam berolahraga atau berkesenian, tanpa ada gangguan dari "oknum" tidak bertanggung jawab.

Chriss Derek (23 Tahun) - Pencipta Konten
Kemerdekaan itu bukan hanya sekedar selebrasi tahunan yang kita rayakan untuk mengenang jasa para pahlawan, but also to maintain their fights by protecting our civilians of their basic human rights, so that they can live without fear and terror.

.Ilustrasi Gen Z/ Foto: Unsplash

Q: Sudah 77 tahun Indonesia merdeka. Menurut Anda, apakah kita benar-benar bisa disebut sudah merdeka?

Fransisca (16) - Pelajar
Secara hitam di atas putih, mungkin kita memang sudah merdeka. Tetapi, bagi banyak orang Indonesia, dalam hati kecil masing-masing, kita sama-sama tahu bahwa sejatinya kita belum merdeka sepenuhnya. Terlihat dari ragam masalah akibat blunder-blunder pemerintah, hingga rakyatnya yang masih jauh dari sempurna, pada sejumlah pemberitaan utama di media.

Rasanya, saya ingin berteriak "Eh, ayo lah. You should've known better, you should've done better." Tapi saya juga sadar, bahwa mungkin di mata mereka, saya hanyalah seorang anak SMA yang tidak bisa apa-apa; seorang Gen Z yang sering disamakan dengan para millenials yang menurut mereka hanya bisa protes, protes, dan protes.

Ilham (23) - Desainer Grafis
Harusnya sih kita udah merdeka banget. Secara udah 77 kali 17-an. Tapi kan, nyatanya? Ada orang berekspresi di media atau di jalan, eh malah dituduh inilah, dibilang itulah. Terus, setiap kita ngapa-ngapain, bukannya didukung, malah dicurgain sama "mereka".

Jadi, apa kita betul-betul bisa dibilang merdeka, kalau ruang berekspresi dan berpendapat malah dipersulit? Apa kita bisa dibilang merdeka, kalau setiap karya yang kita buat justru semakin dibatasi? Belum lagi, ada banyak aturan baru yang malah cenderung menguntungkan segelintir pihak.

Benita (22) - Penata Rias
Karena kemerdekaan seharusnya menjamin kebebasan rakyat dalam berpikir juga bertindak, dan hal-hal tersebut belum bisa diimplementasikan dengan baik, maka menurut saya, kita belum benar-benar disebut merdeka. Faktanya, meski menyedihkan, inilah yang masih absen di era sekarang.

Q: Bagaimana cara Anda merayakan Kemerdekaan?

Althof (24) - Atlet
Sebagai kaum muda, kami [Gen Z] merayakan kemerdekaan dengan saling menghargai perbedaan satu sama lain, dengan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan; serta menunjukkan kepribadian yang baik, agar orang di luar sana dapat menilai dan memandang Indonesia dengan respect. Sebagai atlet, saya sendiri mencoba merayakan kemerdekaan melalui prestasi. Misalnya berupaya keras untuk membuat bendera Indonesia berkibar tinggi di mata dunia, beriringan dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan penuh bangga.

Chriss Derek (23) - Pencipta Konten
I used to celebrate Independence day by participating in native games that was held at school or the neighbourhood. But now, I'm more active in participating social events (usually not during independence day) that has concern to the absence of human rights, such as labor day, women's march, etc.

Fransisca (16) - Pelajar
Karena masih duduk di bangku SMA, tentunya saya merayakan kemerdekaan dengan menghadiri upacara 17-an di sekolah, meski sempat pula merayakannya dengan sebatas mengunggah twibbon bernuansa Merah-Putih, karena keadaan pandemi. Tetapi mungkin, jika ingin mengartikan kemerdekaan sebagai sesuatu yang lebih, saya, seorang Gen Z, merayakan kemerdekaan dengan cara berbahagia. Bahagia karena terlahir di Indonesia dengan segala baik dan buruknya. Bahagia karena generasi kami diberi kesempatan untuk menjadi generasi penerus bangsa. Bahagia masih bisa berbuat lebih untuk Indonesia dengan cara kami masing-masing. Ada suatu kebanggaan tersendiri yang hanya datang pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, tentunya dengan vibes dan euforia yang sangat terasa.

.Ilustrasi Gen Z/ Foto: Unsplash

Q: Seberapa optimis Anda, Generasi Z akan menjadi pemimpin Indonesia yang lebih baik di masa mendatang?

Ilham (23) - Desainer Grafis
Kalau generasi ini berani keluar dari kontrol dan kesalahan generasi terdahulu yang sombong, lebih berani tampil sebagai pembeda, dan lebih percaya satu sama lain, rasanya bisa sih. Jadi, ya, optimis aja dulu. Yang penting, bareng-bareng, generasi ini wajib lebih aktif, dan rajin menyuarakan nilai kebenaran yang objektif.

Dinar (22) - Penulis Konten
Actually, we needed to be optimistic. Nah, we should be optimistic, for sure! Maksudnya, kenapa nggak gitu, kan? Kayak, ya, kita kan masih diremehin sekarang. Tapi kan itu kata orang yang cuma lihat dari luar. Nah makanya, this generation should took a regroup and start to stick as one team! Buat buktiin sama mereka, kalau kita tuh sebenernya capable dan bisa banget jadi generasi yang diandalkan untuk membuat Indonesia lebih baik.

Althof (24) - Atlet
Cukup optimis. Apalagi di zaman yang serba canggih ini, kami [Gen Z] punya akses informasi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Hal ini bisa kami manfaatkan sebagai bahan pelajaran; mencontoh hal-hal baik dari negara-negara dengan budaya maju, dan mencoba menerapkannya di sini. Demi membuat Indonesia menjadi negara yang lebih baik dalam segala bidang, salah satunya lewat olahraga.

Benita (22) - Penata Rias
Menurut saya, ini tergantung pada konsistensi kami sebagai Gen Z, dalam memandang dan menyadari bahwa kelompok ini akan menjadi pemimpin Indonesia di masa mendatang. Karena sekarang, yang saya lihat, generasi kami terbagi menjadi dua: ada yang bersemangat tinggi untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih maju, ada juga yang acuh tak acuh.

Kemudian, hal ini juga akan bergantung dengan keaktifan Gen Z dalam menyoroti pemerintah dalam kurun 5-10 tahun dari sekarang, dengan dua kemungkinan. Pertama, jika pemerintah tidak memuaskan dan Gen Z apatis, maka bisa Gen Z semakin tidak acuh. Kedua, jika pemerintah tidak memuaskan dan Gen Z pro-aktif, maka tampaknya generasi ini siap menjadi pemimpin Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

Chriss Derek (23) - Pencipta Konten
I think, setiap generasi merasa "we are the best generation" di mana mereka merasa bahwa mereka bisa membuat negara ini lebih baik. Which is right, but unfortunately the fact itself shows how our country is still far form being Ideal....that's until someone worthy of the power takes an enormous shift to make changes of what had been done. It could be our generation, or the next, or the following after. Until then, we still have a lot of fights to fight.

Fransisca (16) - Pelajar
Sejujurnya, agak aneh rasanya buat membayangkan bahwa di masa yang akan datang, orang-orang seumuran saya akan mengisi pos-pos penting di Indonesia. Mungkin, sudah selayaknya saya bersikap optimis bahwa Gen Z akan menjadi pemimpin Indonesia yang lebih baik di masa mendatang, karena kami sudah melihat banyak kesalahan fatal yang terjadi di waktu kami berkembang. Makanya, kami harus memastikan bahwa kesalahan dan keblunderan yang terjadi saat ini tidak terulang oleh kami nantinya.

We shouldn't be giving up on our own country. Karena kami semua tumbuh di sini, menyaksikan perkembangannya, baik-buruknya. Tidak pantas rasanya jika kami menyerah begitu saja. Intinya, Gen Z harus mengusahakan yang terbaik, karena kami adalah masa depan Indonesia. Mengutip puisi Amanda Gorman saat pelantikan Presiden AS Joe Biden, "While we have our eyes on the future, history has its eyes on us."

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)