Inspire | Human Stories

Bercandaan Seksis di Lingkungan Kantor, Mengapa Terus Terjadi?

Selasa, 16 Aug 2022 12:30 WIB
Bercandaan Seksis di Lingkungan Kantor, Mengapa Terus Terjadi?
Jakarta -

Menjaga hubungan baik dengan rekan kerja memang sangat penting dalam karir. Sebab ketika memiliki kesulitan dalam bekerja, siapa lagi yang akan membantu selain rekan kerja lainnya? Oleh sebab itu, komunikasi dan percakapan santai kerap dibutuhkan demi mengembangkan hubungan baik dalam dunia profesional. Namun akhir-akhir ini, sering terdengar selentingan tentang permasalahan percakapan rekan kerja yang mengarah pada obrolan yang seksis. Parahnya lagi, hal tersebut sepertinya telah menjadi budaya kerja di era modern seperti sekarang ini.

Atas nama rekan kerja yang 'akrab', candaan-candaan bernada 'menjurus' pun kerap dilontarkan dalam percakapan di kantor sehari-hari. Entah sejak kapan budaya kerja toksik ini berkembang dan seakan dimaklumi oleh semua orang. Padahal pada kenyataannya, hal tersebut sepatutnya bukan sesuatu yang mesti dilanggengkan dari generasi ke generasi.

Teori disposisi humor ini secara mengejutkan mengungkapkan pelaku bukan hanya dari kalangan adam melainkan para hawa pun ikut andil dalam lelucon seksis yang menjatuhkan rekan perempuan atau laki-laki mereka. Studi lain pun mencatat bahwa humor juga merupakan bentuk kekerasan simbolik—tidak sedikit juga para pekerja perempuan dan laki-laki membiarkan diri mereka menjadi obyek bagi kelompok dominan, sehingga humor-humor seksis yang seharusnya tak terjadi, menjadi terjadi. Semua atas nama pertemanan dan kesetiaan pada kelompok.

Lantas, apa yang membuat lelucon seksis yang mengarah pada pelecehan seksual ini seakan dinormalisasi?

Dilansir Forbes, para peneliti menemukan bahwa ketika komentar seksis disampaikan sebagai lelucon, humor itu mengurangi persepsi bahwa pembicara tersebut berbicara seksis dan menghilangkan pendengar akan menghadapi pelaku. Yang lebih mengkhawatirkannya lagi, kaum seksis cenderung sulit ditegur ketika pesan mereka disampaikan dengan nada humor. Sehingga mereka mereka yang berlindung dalam situasi humor itu menanggapi orang yang tersinggung dengan ucapan mereka adalah orang yang sensitif dan tak tahu selera humor.

Sadar atau tidak, pesan-pesan seksis yang terkandung dalam percakapan grup rekan kerja secara tidak langsung meningkatkan toleransi terhadap pelecehan seksual di tempat kerja. Lelucon atau humor cabul yang merendahkan atau menargetkan perempuan dan laki-laki minoritas, sangat berbahaya bagi budaya kerja suatu perusahaan. Lalu, bagaimana orang-orang yang diam saja dan tak menanggapi humor tersebut?

Hadapi dengan Berani

Sayangnya, mereka yang merasa dirinya tak terlibat dalam percakapan—tidak menanggapi atau melontarkan humor juga—mereka pun bagian dari masalah itu sendiri. Sebab mereka bisa saja mengkonfrontasi pelaku dengan menegur untuk menghentikan situasi pelecehan tersebut. Ketika ada seseorang yang secara terbuka menyerukan anti seksisme di forum mana pun dan menantang para pelakunya, target seksisme akan memiliki kepercayaan diri lebih besar untuk melawan juga. Selain itu, ketika ada yang bicara terang-terangan untuk mengakhiri percakapan yang menyinggung, itu akan mengubah suasana dan lebih mudah untuk membujuk para pelaku.

Menurut Smith dan Johnson, penulis Good Guys, jika pelaku benar-benar salah informasi dan memang tidak dewasa, atau mereka berasal dari generasi dan budaya toksik seperti itu, alangkah lebih baik untuk membicarakannya secara pribadi. Selain itu, jika tidak ada orang yang secara khusus menjadi sasaran atau terpengaruh, atau jika kamu mempunyai hubungan positif dengan pelaku, kemungkinan komunikasi terbuka bisa dilakukan.

Tapi bagi para pelaku yang tidak menyesal melakukannya, seperti cukup dewasa untuk mengetahui hal tersebut bukan sesuatu yang baik dan tetap menyinggung, kamu bisa mempertimbangkan untuk mengkonfrontasinya di depan untuk membantu mengubah perilakunya, Smith dan Johnson juga memperingatkanmu secara khusus untuk memperhatikan orang-orang yang mengatakan, "Saya enggak seksis atau rasis, tapi kan...". Sebab orang-orang ini merasa dirinya tidak seksis dengan melakukan berbagai penyangkalan dengan pemikiran demi 'tujuan' yang baik.

Selain itu, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi orang-orang seperti ini di tempat kerja. Seperti tidak menanggapinya sama sekali dengan berhenti bicara ketika mereka sudah mulai bicara ke arah seksis dan pelecehan. Situasi canggung akan membuat mereka enggan untuk melakukan. Kamu juga bisa melakukan framing ulang dengan menciptakan situasi alternatif, apalagi jika kamu kenal baik dengan pelakunya, kamu bisa mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tanggapi dengan melakukan konfrontasi secara langsung dan tidak langsung. Selain itu, kamu juga bisa menjelaskan dampak negatif dari seksisme di kalangan lingkungan kerja akan menciptakan situasi yang tidak nyaman dan tak kondusif. Tapi sayangnya, tidak semua pelaku seksisme berasal dari generasi yang sama dan dapat terbuka secara pemikiran. Jika pada akhirnya, pencegahan seksisme dan pelecehan seksual di ranah pekerjaan terus terjadi, bukan tidak mungkin kamu membawanya ke manajerial dan mempertimbangkan untuk keluar dari lingkungan kerja yang toksik.

[Gambas:Audio CXO]



(DIR/HAL)