Inspire | Human Stories

They Don't Talk About: Vitiligo

Senin, 04 Jul 2022 12:00 WIB
They Don't Talk About: Vitiligo
Jakarta -

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun terkadang, kekurangan yang kita miliki membuat diri tidak percaya diri dan cenderung enggan untuk membicarakannya. Terutama bila kekurangan tersebut ada hubungannya dengan penampilan kita sehari-hari, misalnya soal kelainan kulit.

Di dunia ini, ada banyak orang yang mengidap kelainan kulit yang membuat penampilan mereka tidak seperti orang-orang normal lainnya. Bahkan membuat diri mereka terlihat berbeda sampai-sampai menjadi pusat perhatian. Walhasil, para pengidap hanya bisa pasrah menerima bisik-bisik yang tak mengenakan tentang mereka. Jadi wajar, mereka pun enggan untuk membicarakannya. Salah satunya adalah kelainan kulit vitiligo.

Saya punya kenalan yang mengidap kelainan kulit ini. Namun sayangnya, karena rasa kurang percaya diri dan banyaknya pembicaraan tidak mengenakan membuat ia urung untuk bercerita bagaimana kondisinya tersebut. Ini membuktikan, masih banyak orang yang sulit menerima kekurangan orang lain, sampai-sampai membuat mereka sulit untuk terbuka membicarakan itu di ranah publik karena takut dengan judgement.

Lantas, mengapa kondisi vitiligo kerap dipandang sebelah mata oleh banyak orang hingga para pengidapnya pun terus mendapatkan judgement yang tidak sepantasnya?

,Orang yang mengidap vitiligo/ Foto: Freepik

Dikutip American Academy of Dermatology Association, Vitiligo merupakan penyakit yang menyebabkan area kulit kehilangan warna, sehingga mengakibatkan bintik-bintik dan bercak pada kulit yang lebih terang. Kondisi ini biasanya dimulai dengan beberapa bercak kecil yang lebih ringan yang berkembang di kulit. Kulit orang-orang yang mengidapnya cenderung seperti terkelupas dan semakin lama semakin besar.

Ada beberapa jenis vitiligo yang mungkin diidap. Jika terdapat beberapa titik atau bercak yang muncul di satu atau beberapa tempat di tubuh kita, ahli kulit menyebutnya sebagai vitiligo lokal. Ketika vitiligo menyebabkan bercak-bercak kehilangan warna yang tersebar di berbagai area tubuh, itu disebut vitiligo umum. Meskipun jarang, beberapa orang kehilangan sebagian besar warna kulit mereka. Ini disebut vitiligo universal.

Namun jenis yang paling umum diidap adalah vitiligo non-segmental yakni vitiligo yang cenderung menyebar perlahan dengan bercak-bercak baru yang berkembang terus-menerus sepanjang hidup seseorang. Sementara vitiligo segmental cenderung kehilangan warna lebih cepat pada satu sisi tubuh saja. Setelah 6-12 bulan, vitiligo jenis ini akan stabil dengan sendirinya atau bahkan berhenti. Setelah berhenti, kebanyakan orang dengan vitiligo segmental tidak mendapatkan bercak baru lagi.

,Ilustrasi vitiligo/ Foto: Freepik

Vitiligo Tidak Berbahaya

Saya pernah melihat orang yang mengidap vitiligo sering mengalami diskriminasi di tempat umum. Seperti mendapatkan tatapan-tatapan perasaan jijik, padahal vitiligo bukan penyakit yang berbahaya atau bahkan bisa menular. Mitos-mitos yang melingkari penyakit ini membuat hidup para penderita vitiligo semakin sulit dan kebanyakan dari mereka pun menutup diri serta cenderung tidak percaya diri. Sampai-sampai kehidupan percintaan mereka pun menjadi imbas.

Namun banyaknya mitos soal vitiligo yang berkembang di masyarakat membuat stigma penyakit ini semakin menjadi. "Ada mitos vitiligo yang beredar dan tentu banyak yang keliru. Mitos ini bisa mengganggu pengobatan pasien," kata dokter spesialis kulit dan kelamin FKUI, Hanny Nilasari, dikutip CNN Indonesia.

Banyak yang mengira bahwa vitiligo adalah penyakit menular. Faktanya, vitiligo itu tidak menular, sebab penyakit ini adalah kelainan kulit akibat autoimun pada tubuh dan bukan diakibatkan oleh infeksi. Lalu, vitiligo bukan penyakit keturunan, sehingga bila ibu atau ayah yang mengidap vitiligo, kemungkinan kecil menurun pada anak mereka. Kemudian, banyak juga yang berpikir bahwa vitiligo tidak bisa diobati, namun vitiligo bisa diobati dengan pengobatan jangka panjang dan penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.

,Winnie Harlow/ Foto: Grazia UK - Jason Hetherington

Mereka yang Mengidap Vitiligo

Meskipun vitiligo masih mempunyai stigma yang salah di mata masyarakat, namun sudah banyak orang-orang memiliki pandangan berbeda. Beberapa orang justru melihat vitiligo sebagai bercak kulit yang memiliki pola yang indah dan membuat kecantikan atau ketampanan seseorang bertambah.

Sebut saja Top Model dunia Winnie Harlow yang memenangkan American Next Top Model dan membuka mata dunia bahwa kekurangan bisa jadi kelebihan. Berawal dari seorang YouTuber Amerika Serikat yang memintanya menjadi bagian dari video klip, membuat kepercayaan diri Winnie berangsur pulih dan mulai menekuni dunia fashion. Sampai akhirnya dia mengikuti kompetisi model top dunia besutan Tyra Banks dan memenangkannya. Setelah itu, dia mendapatkan berbagai tawaran dari agency model ternama dunia, melenggang di fashion show brand-brand terkemuka di dunia, hingga menghiasi berbagai sampul majalah dan iklan.

,Zsazsa Caesar/ Foto: Detik.com

Tak hanya Winnie, model asal Indonesia Zsazsa Caesar yang mengidap vitiligo juga memecah stigma bahwa pengidap vitiligo tidak cantik. Keberaniannya untuk tampil apa adanya membuka peluang Zsazsa masuk ke dunia modeling dan menemukan suaranya. Ia pun diundang beberapa kali sebagai pembicara di forum berbagi pengalaman sebagai pengidap vitiligo.

Semua itu membuktikan, bahwa vitiligo bukanlah suatu penyakit yang perlu ditakutkan atau harus menjauhi orang-orang yang mengidapnya. Justru yang membuat stigma ini semakin melekat di masyarakat adalah kita tidak bisa membuka diri dengan segala perbedaan yang ada. Padahal sejak dulu kita diajarkan untuk bertenggang rasa dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing orang. Jangan sampai, karena bisik-bisik yang tak mendasar justru membuat para pengidap vitiligo menyerah dan semakin menutup diri.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/MEL)