Inspire | Human Stories

Gagal di Sekolah Bukan Akhir dari Dunia

Kamis, 09 Jun 2022 17:00 WIB
Gagal di Sekolah Bukan Akhir dari Dunia
Ilustrasi putus sekolah Foto: Pexels
Jakarta -

Periode pertengahan tahun merupakan momentum besar bagi para pelaku di dunia pendidikan. Di masa ini, biasanya para siswa/mahasiswa akan melewati tahapan-tahapan krusial. Mulai dari fase ujian, kenaikan tingkat, hingga menghadapi momen kelulusan. Namun begitu, tahapan penting ini tidak selalu berakhir manis bagi para pelajar. Bak pisau bermata dua, momen ini turut menjanjikan sejumlah ancaman kegagalan. Seperti penilaian akhir yang "merah", dinyatakan tidak lulus, hingga terpaksa harus mengulang.

Mengingat kegagalan    atau bahkan keberhasilan    di masa pendidikan kerap menjadi persoalan tersendiri bagi para pelajar, khususnya pada unit keluarga atau orang di sekitarnya, maka muncul sebuah pertanyaan besar. Apakah benar kecemerlangan di sekolah selaras dengan kehidupan yang sukses di masa datang?

Sejauh ini, belum ada jawaban mutlak atas pertanyaan tersebut. Namun satu hal yang bisa dipahami bersama, yakni terdapat banyak sekali faktor yang bisa berpengaruh pada kesuksesan. Jadi, pencapaian akademis bukanlah faktor tunggal dalam hal ini. Apalagi, indikator kesuksesan setiap orang pun berbeda-beda. Oleh karena itu, sepertinya, meski seorang pelajar gagal pada pencapaian akademis bukan berarti dunia akan berhenti berputar, karena masih ada kesempatan sukses lewat pencapaian di sektor lainnya.

.Ilustrasi gagal sekolah/ Foto: Pexels

Belajar Memahami Kegagalan

Merasa kecil hati karena penilaian akademis yang kurang memuaskan sebenarnya adalah hal wajar. Malah akan menjadi baik apabila dijadikan bahan introspeksi diri. Tetapi, jika ditanggapi secara berlebihan, hal tersebut justru dapat memberi dampak buruk bagi pelajar, terutama jika ada tekanan kuat dari unit keluarga atau dari orang-orang di sekitar.

Untuk itu, berdamai dengan kegagalan menjadi penting untuk dipelajari. Baik oleh pelajar itu sendiri, para guru dan juga yang paling penting, untuk para orang tua yang seringkali bersikap kecewa kepada anaknya akibat pencapaian kurang maksimal di sekolah.

Mungkin kita bisa belajar dari pernyataan seorang guru yang pernah viral. Pada status tersebut, sang guru memberi pemahaman lanjutan kepada orang tua dalam menyikapi prestasi akademik anak-anaknya. Seperti sikap apresiatif apabila hasilnya bagus, dan tetap mendukung ketika buruk. Sebab setiap anak pasti pintar pada bidangnya masing-masing, sehingga orang tua tidak boleh mematahkan semangatnya hanya karena perkara akademis semata.

Manusia, termasuk para pelajar, memang diciptakan dengan kemampuan yang beragam. Maka dari itu, pencapaian di bidang akademis tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur dalam memandang seseorang. Terlebih lagi, ada banyak contoh pelajar, yang justru meninggalkan jenjang akademi demi suatu bidang yang mereka pilih sebagai jalan hidup dan pada akhirnya tetap mencetak kesuksesan luar biasa.

.Mark Zukerberg/ Foto: Wikimedia Commons

Belajar dari Mereka yang Gagal

Konon, dunia hari ini didominasi oleh orang-orang yang tidak menyelesaikan urusan akademiknya. Mulai dari Mark Zuckerberg, inisiator Meta (dahulu Facebook), Steve Jobs, sang pendiri Apple, hingga Bill Gates dengan Microsoft-nya.

Hal serupa juga dilakukan salah satu pesepakbola berbakat asal Brazil, Robinho yang lebih menekuni sepak bola daripada bersusah payah mengejar akademis yang membutuhkan banyak biaya dan tidak menarik minatnya.

Di Indonesia, beberapa tokoh besar juga disebut tidak memiliki pencapaian akademis yang mulus. Seperti halnya Alm. Bob Sadino dan eks Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, yang sama-sama meninggalkan hal-hal akademis demi mengejar passion mereka di sektor usaha masing-masing.

Walaupun segenap tokoh di atas tidak merampungkan pendidikannya, mereka sendiri tidak berjalan dengan tangan kosong. Ada faktor minat, ketekunan, jam terbang hingga relasi di belakangnya, yang kian mendekatkan mereka pada kesuksesan. Intinya, setiap tokoh di atas telah lebih dulu menyadari bahwa ada skill lain yang lebih mumpuni daripada apa yang mereka bisa perbuat di sektor akademis.

Kesimpulannya, setiap orang besar di atas mampu mengubah peluang tumpulnya di sektor akademis menjadi rangkaian prestasi di sektor lain, karena mereka yakin akan pilihannya dan tidak berkecil hati. Jadi gagal dalam pendidikan di sini bukanlah berarti berpangku pada nasib, melainkan berupaya keras pada bidang lain yang dikuasai dengan baik.

"Kegagalan adalah Awal dari Kesuksesan." Kalimat motivasi barusan mungkin terdengar sangat klise. Namun faktanya, setiap orang yang sukses, memang    dan pasti    pernah mengalami kegagalan. Oleh karena itu, setiap jiwa muda yang hari ini masih berjuang di pendidikan dasar, tidak boleh berhenti berupaya hanya karena kurang apik dalam menuntaskan pelajaran sekolah. Melainkan wajib mencari tahu di mana kemampuan terbaik mereka bisa tersalurkan, sekalipun jauh dari ranah akademik.

Salah satu tokoh politik dalam negeri, Dahlan Iskan pernah mengungkap. Bahwa sahnya selagi muda, kita harus menghabiskan jatah gagal. Supaya di waktu dewasa datang, yang ada hanyalah keberhasilan dan kesuksesan. Dari sini, kita harus mulai memperluas pandangan dan tidak berkecil hati hanya karena gagal di sekolah. Pun buktinya, banyak sekali orang penting yang tetap sukses secara profesional meski tidak memiliki gelar.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)