Inspire | Human Stories

Sepak Bola, Perselingkuhan dan Loyalitas

Rabu, 08 Jun 2022 18:00 WIB
Sepak Bola, Perselingkuhan dan Loyalitas
Ilustrasi sepak bola Foto: Pexels
Jakarta -

Salah satu pasangan tersohor dari dunia sepak bola, yakni Gerard Pique dan Shakira dikabarkan menyudahi hubungan 12 tahun mereka karena diguncang isu perselingkuhan yang dilakukan oleh centre back andalan Spanyol dan FC Barcelona tersebut. Bersamaan dengan mencuatnya kasus perselingkuhan ini, muncul sebuah pertanyaan: adakah loyalitas sejati dalam insan pesepakbola?

Loyalitas dalam sepak bola memang terlampau besar untuk hanya dilihat dari kasus perpisahan antara Pique dan Shakira. Hanya saja, pasangan ini terbilang cukup mewakili sisi gemerlap dunia 'lapangan hijau', karena cukup berperan aktif di dalamnya, terutama ketika Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan digelar, di mana Pique membawa Spanyol menjadi juara, sementara Shakira menyanyikan theme song Piala Dunia 2010 berjudul 'Waka Waka (This Time for Africa)', yang disebut sebagai lagu piala dunia paling terkenal sepanjang sejarah.

Kabar perpisahan Pique-Shakira sendiri langsung dikonfirmasi oleh keduanya. Mengutip Mundo Deportivo (04/06/2022), mereka mengungkap, "Kami dengan menyesal mengonfirmasi bahwa kami berpisah. Demi kesejahteraan anak-anak, yang merupakan prioritas utama kami, kami meminta untuk menghormati privasi. Terima kasih atas pengertian Anda."

.Gerard Pique dan Shakira putus/ Foto: Detik.com

Intrik Perselingkuhan Bintang Lapangan Hijau

Netizen sempat menduga-duga, bahwa perpisahan Pique-Shakira disebabkan oleh sosok ibunda dari Gavi, rekan belia Pique di FC Barcelona. Namun kabar ini dibantah para jurnalis Spanyol, dan mengarahkannya pada sosok perempuan muda berusia 20 tahun, yang berprofesi sebagai mahasiswi sekaligus wartawati. Terlepas dari teka-teki wanita lain pada kasus Pique-Shakira, para pengagum sepak bola tetap menyayangkan perpisahan keduanya, karena pasangan tersebut terbilang cukup harmonis dan romantis di media sosial, terutama dari sikap Shakira yang kerap menunjukkan kebanggaannya terhadap Pique melalui beberapa keterangan dalam unggahan Instagramnya.

Meski perpisahan mereka sangat disayangkan, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Artinya, perpisahan Pique-Shakira resmi menyusul sederet kasus dalam hubungan asmara pesepakbola lainnya, yang hancur karena isu perselingkuhan. Kasus perselingkuhan pesepakbola terkenal lainnya juga pernah terjadi di tanah Inggris.

Kala itu, pemain belakang "The Three Lions" sekaligus kapten Chelsea FC, John Terry dikabarkan berselingkuh dengan Vanessa Perroncel, yang merupakan pasangan dari Wayne Bridge, rekan setim Terry di klub dan tim nasional. Skandal John Terry dengan kekasih Wayne Bridge bahkan turut panas hingga ke ruang ganti dan lapangan, di mana Wayne Bridge memutuskan untuk hengkang dari Chelsea, dan menolak menjabat tangan Terry ketika mereka bersua di pertandingan liga Inggris.

Sepak bola dan loyalitas para pelakunya memang layak dipertanyakan. Apalagi kasus "main belakang" seperti ini telah terjadi berkali-kali oleh sejumlah pemain bintang, dan tidak hanya terjadi pada hubungan asmara, melainkan juga terjadi secara hubungan profesional pemain dengan tim yang sedang mereka bela.

Seperti halnya perpindahan seorang pemain bintang ke klub rival, yang menjadi skandal heboh sekaligus menggegerkan para suporter militan. Salah satu contoh utamanya adalah kepindahan Luis Figo, bintang asal Portugal yang hengkang dari FC Barcelona ke rival abadi mereka, Real Madrid pada tahun 2000 lalu. Perpindahan Figo mendapat sorotan tegas dari pendukung setia "El Barca", salah satunya dengan melemparkan potongan kepala babi ke arah Figo, sewaktu Barcelona menjamu Real Madrid di Camp Nou (kandang Barca).

Serupa dengan Figo, beberapa bintang sepak bola lain juga banyak yang rela hengkang ke tim rival atau meninggalkan klub yang sudah lama dibelanya perkara godaan uang yang fantastis. Contohnya seperti Carlos Tevez yang pindah dari Manchester United ke Manchester City, Fernando Torres yang hengkang dari Liverpool ke Chelsea, hingga perpindahan Robert Lewandowski dari Borrusia Dortmund ke Bayern M√ľnchen.

.Paolo Maldini/ Foto: Flickr

Adakah Loyalitas dalam Sepak Bola?

Jika pertanyaan ini mencuat, maka jawabannya tentu ada, meski amat jarang dan sulit ditemukan. Meski begitu, kita tidak bisa menggeneralisir pesepakbola sebagai kaum tidak loyal hanya karena ada banyak pemain yang berselingkuh atau meninggalkan timnya begitu saja. Karena faktanya, memang adapula beberapa pemain yang sangat loyal, baik perihal asmara maupun dalam profesionalitas mereka sebagai pesepakbola.

Contoh paling kentara adalah sikap seorang Paolo Maldini, pemain belakang legendaris AC Milan dan Timnas Italia, yang sepanjang karirnya setia membela panji "Rossoneri" tanpa pernah berganti klub sepanjang 24 tahun karir sepak bolanya (1985-2009). Untuk itu, nomor punggung 3 milik Maldini bahkan dipensiunkan Milan demi menghargai kesetiaannya. Serupa dengan Maldini, sosok elegan eks kapten AS Roma, Francesco Totti juga tegar membela Roma sejak 1993 hingga 2017 lalu, meski digoda gelontoran fantastis oleh raksasa Spanyol, Real Madrid pada tahun 2006.

Dua sosok loyal terhadap tim masing-masing yang disebutkan di atas, nyatanya juga setia dalam hubungan asmara mereka. Maldini telah menikah selama 22 tahun dengan Adriana Fossa, sementara Totti tetap berhubungan dengan Ilary Blasi, seorang artis dari "negeri pizza" yang dinikahinya sejak 2005. Perihal kesetiaan dengan pasangan, dua bintang besar asal Amerika Selatan, Ricardo Kaka (Brazil) dan Lionel Messi (Argentina), juga terbilang sangat loyal dengan kekasih hati mereka karena langgeng berhubungan sejak masa kecil.

.Fans Barca/ Foto: Pixabay

Sepak Bola dan Cinta yang Beragam Rupa

Sepak bola dan cinta, adalah dua hal yang akan terus menerus berkaitan. Meskipun terdapat kecacatan perihal cinta dari para pelakunya, seperti kasus perselingkuhan, sikap berkhianat dengan tim lawan, tabiat korup dari pengelola klub, hingga fanatisme berlebihan dari para suporter, sepak bola tetap dilandasi oleh cinta yang agung. Oleh karena itu, permainan ini akan selalu mendapat sorotan utama dunia, sekalipun hanya berisi teknik mengolah 'si kulit bundar' dan adu banyak mencetak angka antara 22 orang pemain di lapangan.

Sepak bola memang mengandung cinta atau bisa juga cintalah yang menciptakan sepakbola. Lagi-lagi, meski cinta dalam sepak bola memiliki ketidaksempurnaan, justru dengan itu cinta dalam sepak bola atau sepak bola yang penuh cinta akan terus mengalir deras. Seiring dengan tawa atau tangis yang mendera para pendukung ketika tim mereka menang atau kalah, atau bahkan karena ditinggalkan oleh pemain kesayangan.

Senada dengan sejarah dunia yang berjalan bersama intrik pengkhianatan dan perselingkuhan, sepak bola juga mengalir sesuai poros yang ada. Satu-satunya kecintaan yang paling tinggi dan paling setia dalam sepak bola, adalah ketulusan cinta yang dimiliki oleh pendukung kepada tim kesayangannya, tanpa pandang keterpurukan atau kesuksesan di sekitar mereka. Hal ini lagi-lagi terbukti, dengan solidaritas segelintir fans Barca yang mendukung Shakira, atau sejumlah solidaritas suporter lain, yang terus mendukung timnya untuk bangkit dari keterpurukan.

Walaupun, cinta dari para suporter terkadang membabi buta, hingga jauh dari kata bijaksana, keluhurannya akan tetap bisa kita rasakan sepanjang zaman. Melalui sorak sorai penuh semangat di pinggir lapangan, atau sederet hastag yang beredar di media sosial. Maka, jika cinta itu buta dan penuh kebodohan, cukupkah sepak bola menjadi contohnya?

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)