Inspire | Human Stories

Inner Critic: Bagaimana Cara agar Tak Menjadi Bumerang

Jumat, 03 Jun 2022 10:00 WIB
Inner Critic: Bagaimana Cara agar Tak Menjadi Bumerang
Foto: Lina Trochez/Unsplash
Jakarta -

Mampu menerima kritik secara lapang dada merupakan salah satu soft skill yang seharusnya dimiliki setiap orang. Tapi, bagaimana dengan kritik yang datang dari diri kita sendiri untuk diri kita sendiri? Misalnya, kamu mengutuk dirimu sendiri karena tidak bisa meraih kesuksesan seperti orang lain dan merasa dirimu adalah kegagalan. Atau, misalnya kamu tidak suka dengan fisik dan penampilanmu hingga akhirnya kamu merasa rendah diri dan tak merasa memiliki self-worth.

Mampu mengkritik diri sendiri bisa menjadi pertanda bahwa kita memiliki kesadaran untuk berefleksi. Tapi, tahukah kamu kalau kritik yang berlebihan terhadap diri sendiri bisa menjadi bumerang yang mempengaruhi kondisi mentalmu? Hal ini disebut sebagai inner-critic, yaitu suara dari dalam diri yang menghakimi atau bahkan mengecilkan diri kita sendiri. Melansir PsychAlive, inner-critic merupakan pikiran destruktif terhadap diri kita maupun orang lain yang terjadi secara berulang kali sehingga menjadi sebuah pola.

"Suara-suara" ini bukan merupakan halusinasi, melainkan pikiran nyata yang hinggap dalam diri kita yang memiliki efek nyata terhadap perkembangan diri. Inner-critic bisa membuat kita kehilangan kemampuan untuk mempercayai diri sendiri atau insting kita. Akibatnya, kita pun terjebak dalam siklus yang menyalahkan diri sendiri. Apabila dibiarkan berlarut, kita pun terpuruk dalam perasaan tidak berdaya dan keputusasaan.

Timbulnya inner-critic bisa disebabkan dari pengalaman traumatis yang secara tidak sadar meninggalkan luka dalam alam bawah sadar kita. Trauma ini bisa bersumber dari pembawaan di keluarga, relasi pertemanan, lingkungan sekitar, atau dari pasangan. Misalnya, apabila kamu pernah menjadi korban perisakan semasa di sekolah, bisa jadi ketika dewasa kamu memiliki tendensi untuk merasa dirimu tak berharga.

Inner-critic yang mempengaruhi banyak aspek dalam hidupmu bisa menjadi salah satu gejala adanya penyakit mental yang belum terdiagnosis. Tapi, salah satu metode yang bisa dipraktikkan untuk menghadapi inner-critic adalah dengan menerapkan self-compassion. Self-compassion adalah ketika kita menemui pikiran-pikiran buruk yang ada dalam diri kita dengan perasaan welas asih.

Perlu diingat, bersikap welas asih bukan berarti kita membiarkan diri kita berlarut-larut dalam kesedihan atau memanjakan diri melalui self-care yang remeh seperti pergi berwisata. Self-compassion di sini maksudnya adalah mencoba memahami dan menerima apa yang sedang kita rasakan. Dengan menerima perasaan tersebut, kita bisa membuka jalan untuk merefleksikan, "Mengapa saya bisa berpikir seperti ini atau merasa seperti ini?" Ketika kita berhenti menghindari inner-critic, niscaya kita bisa menemukan cara untuk tidak terjebak dalam siklus yang sama.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/HAL)