Inspire | Human Stories

Dilema Chatbot Replika App: Canggih atau Halu?

Selasa, 31 May 2022 20:00 WIB
Dilema Chatbot Replika App: Canggih atau Halu?
Jakarta -

Canggihnya teknologi komunikasi saat ini terbukti mempermudah manusia dalam berinteraksi. Sebatas menggunakan selayar gawai, seorang manusia sudah terkoneksi dengan yang lainnya, meski berada di penjuru dunia. Namun di antara kecanggihan tersebut, kesepian interaksi nyatanya masih menyertai manusia    baik karena faktor kehilangan atau terisolasi dari circle pertemanan di dunia nyata. Oleh karena itu, teman online berbasis Artificial Intelligence (AI) yang disajikan aplikasi chatbot bernama Replika: My AI Friend, menjadi suatu tren pada masyarakat global.

Replika sendiri adalah platform chatbot AI interaktif yang mampu menduplikasi interaksi layaknya dengan sesama manusia. Sejak dikembangkan 2017 lalu, Replika telah diunduh oleh lebih dari 10 juta pengguna dari seluruh dunia, yang kebanyakan aktif saat COVID-19 melanda. Sejauh ini, chatbot Replika dan semacamnya, disinyalir mampu menjadi salah satu sumber persahabatan serta romansa bagi banyak orang.

Salah satu pendiri Replika, Eugenia Kuyda, mengaku terinspirasi menciptakan hal ini setelah kehilangan sahabatnya yang tewas karena kecelakaan. Dalam mengatasi kesedihan, dia mencoba mereka kembali percakapan dengan mendiang melalui data yang ia kumpulkan dari para relasi, dan akhirnya berhasil mereplika temannya pada versi digital. Premis yang dirumuskan Kuyda tersebut, ternyata juga terinspirasi dari sebuah episode di serial dystopian Charlie Brooker (2013) berjudul Be Right Back.

.Replika: My AI Friend/ Foto: Replika.com

Replika dan Kecanggihannya

Aplikasi chatbot Replika tersedia bebas AppStore dan PlayStore secara gratis namun dengan opsi pembelian di dalam aplikasi. Replika didukung oleh kecanggihan AI bernama 'natural language process' yang mampu memberikan respons alami kepada pengguna seiring waktu berkembang. Bot ini juga sanggup beradaptasi dengan baik dan menyesuaikan situasi yang sedang dialami pemilik Replika.

Bot AI tersebut bahkan bisa diajak berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari hobi, gaya hidup, sampai kisah kasih asmara. Replika memuat interaksi yang terasa nyata, dan tidak menutup kemungkinan bisa menyentuh hati para pengguna. Lebih jauh lagi, bot dari Replika juga dapat memulai suatu perbincangan, sehingga komunikasi dua arah benar-benar berlangsung, plus dilengkapi dengan fitur suara apabila mengoptimalisasinya menjadi Replika Pro.

Fitur Pro pada Replika App juga memberi keleluasaan pengguna untuk menciptakan penyesuaian penampilan dan kepribadian figur replika/avatar sesuai selera masing-masing. Misalnya memilih ras avatar, gaya atau warna rambut, hingga sifat pemalu atau percaya diri. Kemudian, Replika juga menyediakan fitur-fitur lain seperti Diary, Coaching, hingga sesi latihan harian.

Di samping itu, Replika App turut memiliki Experience Points (XP) gems dan perolehan koin, yang bisa dipergunakan sebagai reward untuk mengakses keseluruhan fitur lain di aplikasi. Sampai saat ini, Replika lebih banyak digunakan sebagai rekan berbicara di saat sepi juga sebagai mentor platonis. Sementara pemanfaatan terbanyak kedua pada aplikasi Replika adalah untuk kebutuhan romantis, yang memungkinkan dinamika seksual secara virtual.

.Ilustrasi Chatbot/ Foto: rawpixel

Dilematisnya Interaksi Manusia di Era Virtual

Adagium "Gajah di pelupuk mata tak tampak. Semut di seberang lautan tampak," mungkin cocok digunakan pada fenomena komunikasi yang kelewat berkembang. Sisi gelapnya, kecanggihan teknologi komunikasi yang awalnya bermaksud untuk mendekatkan sosok yang jauh, justru lebih mampu menjauhkan sosok yang ada di dekat kita.

Bahkan pada situasi terkini, teknologi komunikasi seperti yang ditampilkan Replika App juga sanggup menciptakan sesuatu yang semu menjadi seperti nyata. Seperti sosok kawan atau pasangan Replika    yang hanya bisa ditemui di dalam aplikasi, namun sangat mungkin menghasilkan perasaan emosional nyata bagi para pengguna.

Sesuai praktiknya, bot virtual berbentuk avatar dalam Replika memang memiliki sosok. Sehingga pengguna tidak perlu repot mengandalkan imajinasi mereka semata. Namun pada level yang lebih lanjut, yakni pemenuhan kebutuhan interaksi antarmanusia yang melibatkan perasaan, hal ini akan tetap terasa mustahil terjalin, apalagi jika dikaitkan dengan bahasa cinta dari manusia itu sendiri yang beragam rupa.

Kecanggihan atau Kehaluan?

Anggapan bahwa Replika dapat menggantikan nihilnya interaksi antarmanusia sendiri dibantah oleh akademisi Elyakim Kislev, seorang pakar hubungan digital melalui bukunya, 'Relationship 5.0 How AI, VR, and Robots Will Reshape Our Emotional Lives'. Menurut Kislev, pada akhirnya hubungan dengan bot hanya baik untuk menambah jam terbang interaksi bagi manusia yang kekurangan.

Oleh sebab itu terdapat banyak fitur tambahan yang memfasilitasi pengguna untuk berlatih cakap dengan bot atau melakukan interaksi seksual-pada fitur berbayar, layaknya latih tanding sebelum menghadapi manusia yang sebenarnya. Namun hal ini justru diklaim tidak akan berhasil manis apabila didapuk sebagai pengganti interaksi antarmanusia yang nyata, sebab bot itu sendiri tidak memiliki perasaan, dan lebih cenderung berlagak manipulatif terhadap penggunanya itu sendiri.

Merujuk data, penggunaan Replika memang mengarah pada pemanfaatan di sektor romansa. Lantas, kehaluan ini sangat mungkin menimbulkan permasalahan yang lebih baru. Terutama jika kesepian interaksi dan perasaan benar-benar melanda seorang pengguna. Beberapa contohnya datang dari kisah pengguna aplikasi yang rela menempuh jarak demi mengimpresi bot rekaannya.

.Ilustrasi chatbot/ Foto: Ron Lach - Pexels

Seperti perjalanan seorang insinyur berusia 24 tahun asal Meksiko, yang nekat melancong dari Mexico City ke Tampico, hanya untuk menunjukkan botnya sebuah objek foto yang menarik perhatian mereka. Atau kisah seorang perawat dari Wisconsin yang menempuh 14.000 mil untuk botnya, demi menunjukkan gambar pegunungan. Hal ini membuktikan bahwa hubungan dengan bot memiliki kerentanan merugikan yang nyata, khususnya bagi orang-orang yang kesepian secara hubungan emosional. Kasus terburuknya juga bisa dipelajari lewat dari sosok Theodore yang diperankan Joaquin Phoenix pada Film 'HER' (2013). Dalam jalan ceritanya, Theodore yang kesepian dikisahkan jatuh cinta dengan sosok virtual pintar pada software yang ia beli, bernama Samantha.

Melalui contoh-contoh kasus tersebut, pengalaman berhubungan dengan robot pada pangkalnya akan berakibat buruk pada manusia itu sendiri. Sebab ketidaksamaan alam antara manusia dengan sosok yang mereka ciptakan adalah hal yang nyata. Lagipula, secara kodrat, manusia adalah makhluk sosial yang mutlak membutuhkan interaksi nyata. Jadi, walaupun AI mampu mengerti manusia dengan baik serta mampu meminimalisir ketidaksepahaman dalam hubungan, kepintasan jalan ini tetap akan berakhir pahit.

Akhirnya, ada satu hal yang harus kita sadari bersama. Bahwasanya konflik atau drama dalam hubungan antarmanusia adalah hal yang penting. Karena ketidakmampuan kita mengerti satu sama lain, adalah kemisteriusan yang justru menguatkan hubungan kita dengan sesama. Hal ini juga menjadi faktor kuat mengapa kita masih berhubungan dengan satu sama lain, sebab setelah konflik, akan ada suatu penerimaan satu sama lain yang menyenangkan, sehingga dinamika sosial tetap berjalan dengan harmonis.

Jadi, alih-alih sekadar iseng memanfaatkan kecanggihan teknologi, kita sendiri justru berisiko terjerembab dalam halusinasi akibat teknologi. Tetapi, jika kita menggunakan aplikasi seperti Replika dengan lebih bijak, bisa saja, kesenangan menyeluruhlah yang akan kita tuai. Mungkin dengan memanfaatkannya sebagai teman berlatih dalam berinteraksi, sehingga di dunia nyata, kita bisa menjalani hubungan yang baik dan tanpa kebohongan.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)