Inspire | Human Stories

They Don't Talk About: Fantasi Seksual

Sabtu, 28 May 2022 18:00 WIB
They Don't Talk About: Fantasi Seksual
Jakarta -

Ada banyak hal tabu dibicarakan saat kita berada di lingkungan masyarakat Indonesia. Alasannya pun beragam, mulai dari karena bertentangan dengan norma kesopanan, norma agama, norma kesusilaan, sampai norma hukum. Sehingga pada akhirnya kebanyakan orang enggan untuk membicarakan beberapa topik sebab takut dicap yang tidak-tidak oleh komunitas. Salah satunya topik seksualitas.

Seksualitas bukanlah sesuatu yang bisa dibicarakan secara bebas. Di lingkungan keluarga pun, seksualitas masih tabu untuk didiskusikan, dengan alasan kesopanan. Jadi hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas, secara tidak langsung menjadi suatu pantangan. Bahkan satu topik tentang seksualitas, seperti fantasi seksual pun dapat menjadi bentuk pelecehan verbal sampai unsur kriminalitas bila dibicarakan di ranah publik.

Padahal menurut Medical Dictionary, fantasi seksual merupakan citra mental pribadi yang terkait dengan perasaan erotis yang eksplisit, disertai dengan respons fisiologis terhadap gairah seksual. Jadi dapat disimpulkan bahwa fantasi seksual sendiri adalah imajinasi kita tentang aktivitas seksual yang ingin kita lakukan bersama pasangan maupun orang lain.

Sebenarnya setiap orang mungkin memiliki fantasinya masing-masing tentang apa yang ingin mereka lakukan dengan pasangan. Namun karena stereotip yang buruk, banyak orang merasa malu dengan gairah dan pikiran erotis dalam diri mereka. Sampai-sampai fantasi seksual berakhir menjadi sebuah perbincangan komunitas-komunitas underground yang memang concern terhadap topik itu karena takut dicap mesum atau seorang kriminal. Adapun fantasi seksual yang sebenarnya normal di pikiran banyak orang, seperti threesome, BDSM, cosplayer, dan poliamori.

Fantasi Seksual adalah Bagian dari Diri

Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa berpikir tentang fantasi seksual berujung pada perilaku yang buruk. Padahal membicarakan fantasi seksual, terutama pada pasangan akan memberikan pemikiran terbuka dalam hubungan. Suka atau tidak, fantasi seksual adalah bagian dari diri kita sebagai manusia.

"Secara keseluruhan, fantasi kita tampaknya mencerminkan siapa kita dan tampaknya dirancang untuk memenuhi kebutuhan psikologis kita yang unik," ujar Lehmiller, seorang psikolog sosial dan peneliti di Kinsey Institute, Amerika Serikat, dilansir CNN. Ia juga menambahkan fantasi dirancang oleh otak kita untuk memenuhi kebutuhan emosional, seperti perasaan dicintai, diinginkan, dan kompeten secara seksual. Dan orang yang paling mungkin muncul dalam fantasi kita adalah pasangan.

Seperti yang sudah kita ketahui, di masyarakat manapun, fantasi seksual bukanlah suatu hal yang dapat diterima publik. Namun mengungkapkannya pada orang yang tepat, seperti pasangan adalah sesuatu yang sah-sah saja demi keharmonisan hubungan. Lantas, mengapa ada fantasi seksual berujung kepada tindakan kriminal?

Bila fantasi seksual berujung pada tindakan kriminal, kemungkinan karena mereka tidak dapat mengontrol hasrat tersebut dan ngotot memaksa agar hal tersebut terealisasi di kehidupan nyata. Libido atau hasrat seksual, berakar dalam diri kita untuk bereproduksi. Sebenarnya tidak ada tingkatan dorongan seksual, tapi yang ada adalah apakah kita bisa mengendalikannya atau justru menjadi kompulsif.

Perilaku ini dikenal sebagai kecanduan seks atau hiperseksualitas yang diakibatkan karena keasyikan berlebih dengan pikiran dan fantasi seksual. Kondisi ini bisa dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan dan perlu mendapatkan penanganan yang tepat dari ahli psikolog. Jika ada seseorang yang berpendapat bahwa hasrat seksual tidak bisa dikendalikan, artinya mereka tak memahami bahwa kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan apa yang kita inginkan dan tidak.

Seksualitas seperti fantasi adalah hal yang normal karena ini adalah sifat alami. Itu juga bisa berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan mental, sebab kita pasti ingin merasakan koneksi intim dengan pasangan. Tapi, dorongan seksual yang tak terkendali dan justru merugikan orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi lagi, apalagi semua itu dilakukan tanpa persetujuan dan bersifat memaksa.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/MEL)