Inspire | Human Stories

Busting Myth: Wisdom Tooth

Senin, 25 Apr 2022 16:00 WIB
Busting Myth: Wisdom Tooth
Foto: CXO Media
Jakarta -

Sains menjelaskan bahwa gigi manusia tumbuh berkembang dan berjumlah 20 gigi susu dimulai dari usia bayi hingga lewat balita. Setelahnya, 32 gigi permanen akan tumbuh untuk menggantikan posisi gigi susu, termasuk gigi geraham. Biasanya, gigi geraham pertama akan muncul saat kita berumur 6 tahun, dilanjutkan dengan gigi geraham kedua di usia 12 tahun, dan akhirnya gigi geraham ketiga atau yang lebih dikenal sebagai wisdom teeth, yang muncul sebelum kita menginjak usia 21 tahun.

Sesuai namanya, gigi bungsu atau wisdom tooth merupakan gigi yang terakhir muncul dalam pertumbuhan gigi kita. Pasalnya, jika si gigi bungsu sudah terlihat batang hidungnya, maka hal ini menandakan bahwa kita harus bertambah lebih bijaksana. Tapi, benar nggak sih?

.Ilustrasi sakit gigi/ Foto: Freepik

Sebagai seseorang yang memiliki masalah dengan pertumbuhan gigi bungsunya, saya merasa ada beberapa hal yang perlu disampaikan mengenai ini. Karena jika berkaca dari kasus tentang wisdom teeth yang paling umum terjadi, adalah di mana gigi geraham ketiga tumbuh dengan tidak sempurna. Hal ini dikarenakan gigi geraham ketiga bertabrakan dengan gigi geraham kedua, sehingga menyebabkan wisdom tooth tidak bisa muncul ke permukaan gusi seutuhnya. Kondisi ini dinamakan sebagai impacted wisdom tooth. Dan jika dibiarkan, akan menyentuh syaraf yang ada di mulut sampai menyebabkan sakit yang luar biasa.

Secara pribadi, saya pernah menjalani usaha preventif agar kasus ini tidak terjadi. Saat itu, gigi geraham yang sudah mulai mengintip dari gusi terlihat akan tumbuh miring. Oleh karenanya, dokter gigi menganjurkan saya untuk membuka gusi agar muncul jalan bagi tumbuhnya gigi geraham. Saya pikir, kenapa tidak, daripada ujung-ujungnya saya harus mencabut gigi geraham tersebut. Namun nyatanya, hal tersebut sangat menyiksa. Sebab setiap kali saya membuka mulut pasca pertemuan dengan dokter gigi kala itu, bagian belakang mulut saya terasa sakit. Akan hal itu, saya pun sulit untuk makan karena untuk membuka gigi saja harus menahan rasa sakit yang tiada dua. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu agar gusi saya pulih dan kondisi mulut kembali normal.

.Ilustrasi perempuan dewasa/ Foto: Freepik

Selanjutnya, beberapa bulan lalu, saya diharuskan untuk melakukan operasi pencabutan gigi karena gigi geraham pada sisi yang lain mengalami tabrakan. Saat mendengar kabar itu, sungguh, rasa takut membasuh seluruh badan karena sudah terngiang akan rasa sakit yang menyertainya. Meskipun dokter bedah menyuntikkan anastesi pada gusi untuk menambal rasa sakit selama operasi, tantangan terbesar justru terletak pada pasca operasi. Bagaimana tidak, tidak lama setelah tindakan, pipi saya mulai menggembung lantaran bengkak. Dokter bedah memang menyampaikan bahwa kejadian ini sangat normal. Namun hal tersebut tidak menghilangkan rasa nyeri yang saya rasakan selama 5 hari, beserta pipi bengkak yang bertahan hingga lebih dari seminggu.

Sehingga, menurut saya, alasan wisdom teeth mendapatkan namanya tidak bersamaan dengan gagasan bahwa kita sudah tumbuh dewasa, melainkan kita sudah cukup dewasa untuk menahan rasa sakit dari pencabutan si gigi geraham   rasa sakit dari operasi pencabutan gigi, maupun rasa sakit secara finansial lantaran operasi pencabutan gigi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ditambah, menyiapkan diri secara mental dalam melawan rasa takut untuk operasi gigi juga harus dilalui.

Thus, it's safe to say those wisdom teeth don't signify our maturity, but rather the responsibility that bears with it. Karena, ujung-ujungnya, gigi geraham kebanyakan hanyalah tumbuh untuk dicabut, dan untuk melakukan itu, kita harus menjadi cukup dewasa untuk dapat menanggung beban finansial dan rasa sakit yang datang mengikutinya.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/MEL)

Author

Hani Indita