Inspire | Human Stories

Kala Mengambil Keputusan Jadi Hal yang Rumit

Selasa, 26 Apr 2022 18:00 WIB
Kala Mengambil Keputusan Jadi Hal yang Rumit
Foto: Liz Summer - Pexels
Jakarta -

Selama hidup, kita dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang tepat agar tidak salah dalam melangkah. Keputusan-keputusan tersebut, nantinya sedikit banyak akan mempengaruhi seluruh aspek dalam kehidupan kita, tak terkecuali lingkungan sekitar. Sehingga mengambil suatu inisiatif ini, bukan perkara mudah dan kerap menjadi momok bagi sebagian orang. Tak terkecuali saya.

Ada banyak keputusan yang berkaitan dengan hidup kita, misalnya dari hal termudah untuk memilih baju atau makanan apa yang akan kita makan hari ini; hingga keputusan besar seperti memilih jurusan kuliah atau jalur karir mana yang akan kita tempuh. Semua itu memerlukan perhitungan yang matang. Salah-salah ambil langkah, kita akan terjerumus dan sulit untuk kembali lagi. Tapi mengapa mengambil keputusan menjadi perkara rumit bagi manusia?

.Ilustrasi pilihan / Foto: Pexels

Decidofobia, sebuah ketakutan mengambil keputusan

Takut salah langkah merupakan sesuatu yang wajar kita alami. Sebab, risikonya tentu bukan hanya berdampak pada diri sendiri, melainkan orang lain. Tapi bagi sebagian orang, kondisi ini sangat menyiksa hingga berubah menjadi ketakutan yang tidak masuk akal yang disebut Decidofobia. Dilansir Forbes, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf dari Universitas Princeton, Walter Kaufmann, dalam bukunya Without Guilt and Justice.

Kondisi ini dapat mempengaruhi seseorang bahkan saat ia membuat keputusan pada pilihan terkecil, semisal memilih makanan apa yang harus dimakan untuk makan siang. Decidofobia bisa menyebabkan pemikiran kabur, kurangnya kejelasan, dan ketergantungan yang meningkat pada orang lain untuk memilih pilihanmu. Sehingga kamu benar-benar hilang arah dan kendali secara keseluruhan.

Dalam bentuk terekstrem, orang yang diminta untuk mengambil keputusan akan mengalami gejala seperti serangan panik yang hebat, tekanan darah meningkat, keringat mengucur deras, ketegangan otot, sampai gemetar. Para ahli mencoba berspekulasi bahwa peristiwa traumatislah yang menyebabkan decidofobia pada seseorang.

.Ilustrasi orang yang mengalami Decidofobia/ Foto: Pexels

Selain itu, jika seseorang mengalami peristiwa traumatis yang menyakitkan secara emosional dan mempunyai kecenderungan genetik mengalami penyakit mental, hal ini bisa memperburuk situasinya. Bila kondisi ini terus-menerus terjadi padamu, tentu akan mempengaruhi hidup dan hubungan dengan orang-orang di sekelilingmu. Misalnya kamu sulit untuk membuat sebuah hubungan dengan orang lain, kehilangan kesempatan bisa dipromosi di tempat kerja, kurang pengalaman hidup, terlibat masalah keuangan karena sulit untuk mengaturnya dengan baik, dan masih banyak hal lainnya.

Mungkin membuat keputusan adalah salah satu hal terberat dalam menjalani hidup ini. Tapi satu hal yang perlu kamu pahami adalah dengan terus menolak membuat keputusan penting, justru itu adalah pilihan terburuk yang kamu buat. Rasa takut akan menahanmu di tempat, sehingga kamu pun mulai menebak-nebak diri sendiri dan menghindari membuat keputusan kapan pun kamu bisa. Lalu, memilih untuk menyerahkan kebebasan berpendapatmu kepada orang lain, secara tidak langsung akan membungkammu. Orang lain mungkin saja akan menolongmu membuat keputusan itu, namun itu bukan suaramu, melainkan suara mereka.

Jadi mulailah untuk meredakan kecemasanmu akan pengambilan keputusan dengan menemui profesional dan terapis untuk membantumu belajar melepaskan trauma masa lalu. Sebab kamu adalah milikmu sendiri dan jangan pernah takut membuat kesalahan karena manusia tak luput dari itu.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/HAL)