Inspire | Human Stories

Bernostalgia Ria dengan Jajanan SD Paling Legendaris

Minggu, 03 Apr 2022 15:00 WIB
Bernostalgia Ria dengan Jajanan SD Paling Legendaris
Jakarta -

Salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu saat masih duduk di bangku sekolah adalah di saat lonceng istirahat berbunyi kencang. Dengan girang, kututup buku dan menggandeng tangan teman sebangku untuk bergegas berlari menuju gerbang sekolah. Rok merah yang jatuh tepat di bawah lutut kakiku menari-nari sambil tergoyang angin seiring tapak sepatu hitamku yang meninju lantai dengan tegas dan cepat.

Bukan, bukan untuk pulang, melainkan untuk menghampiri gerobak kayu sederhana dengan cat hijau yang sudah mulai terlihat mengelupas di bagian sisinya. "Bang, beli, bang-  yang cetakan kura-kura, ya!" aku berseru kepada pemuda yang selalu setia menunggu pelanggan yang ingin mengobati cuaca panas dengan setangkai es serut warna warni. Ya, itulah jajanan favoritku sewaktu SD.

Pemuda itu seperti sudah hafal apa yang harus dilakukannya, serasa dia dapat melakukan ini dengan mata tertutup. Dengan sigap, ia mengambil bongkahan es batu dan meletakannya di atas kotak kayu. Ia menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, berulang kali, dan serpihan es berjatuhan ke cetakan kura-kura yang telah aku minta. Saat cetakan plastik berbentuk kura-kura tersebut telah terisi oleh es, pemuda itu merapihkan bagian sisinya dan melepaskan es dengan menarik stik es krim yang telah diletakkan di ujung cetakan sebelumnya. Kemudian, ia menuangkan sirup warna merah dan hijau secara bergantian ke es sebelum menyerahkannya kepadaku.

.Ilustrasi es serut/ Foto: Kitchen of Indonesia

Sambil menikmati es serut penyu di tangan, aku berlari ke arah yang berlawanan untuk mencari penjual kue laba-laba dan kue cubit. Namun, saat itu abang yang berjualan tidak bisa ditemukan. Untungnya, abang penjual permen gulali selalu siap menerima pesanan, dan kebetulan, aku masih punya seribu rupiah di kantong untuk menikmati sebuah gulali berwarna merah dan hijau ini. Seperti biasa, ia menghangatkan gula hingga bentuknya seperti menjadi karamel. Kemudian ia menarik-narik gula dari panci untuk dirangkai menjadi beragam bentuk mulai dari bunga, hati, kupu-kupu, dot bayi, hingga bentuk burung yang dapat mengeluarkan suara jika ditiup!

Kalau aku tidak diberi uang saku yang cukup, lantaran buru-buru untuk bersiap dijemput oleh mobil jemputan, warung di belakang gedung sekolah yang letaknya di sebelah kelasku menjadi tujuan utama. Hanya dengan seribu rupiah, aku bisa mendapatkan semangkuk Mie Sakura yang disajikan di mangkuk styrofoam berwarna putih.

.Pop Ice dengan berbagai topping/ Foto: Lummo Shop

Tangan kananku sibuk memegang mangkuk itu, sementara yang kiri aku gunakan untuk mengambil minuman Pop-Ice rasa anggur dengan sentuhan topping favorit: mesis, choco chips warna-warni, dan keju. Kantongku pun terisi oleh camilan-camilan sisa yang aku dapat dari kembalian Pop-Ice; permen cap kaki, permen coklat berbentuk 8, serta permen karet Yosan rasa melon dan stoberi.

Dahulu semua terasa indah dan mudah. Mengenang jajanan yang dulu berjaya pada masanya membuat sudut bibir terangkat menjadi senyuman. Mungkin hal ini sangat berbekas di setiap memori kita karena pertama kalinya memegang tanggung jawab perihal keuangan dan pengambilan keputusan yang tidak dipengaruhi atau diatur-atur oleh orang tua. Jajan dan bermain   bermain dan jajan; dua hal menyenangkan yang sampai saat ini pun masih ditunggu-tunggu untuk dilakukan. Apakah kalian punya pengalaman serupa?

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita