Inspire | Human Stories

Eksperimen Kami: Tidak Sampoan selama Satu Minggu

Senin, 28 Mar 2022 16:00 WIB
Eksperimen Kami: Tidak Sampoan selama Satu Minggu
Jakarta -

Apalah arti mandi tanpa keramas? Maksud saya, bukannya mandi sama dengan mencuci seluruh anggota tubuh dari ujung kaki hingga kepala? Kalau mandi tetapi tidak keramas, bukankah lebih baik disebut cuci badan? Lagipula, kenapa pula ada orang yang tidak suka membersihkan rambut dengan keramas?

Sebenarnya, saya cukup heran dengan tren yang belakangan berkembang, yaitu No Poo atau no shampoo. Jadi, orang-orang-terutama di media sosial, belakangan ramai berhenti menggunakan sampo dan berkeramas. Sebagai orang yang keramas setiap hari, jelas saya tidak bisa tidak heran. Bagi saya, satu hari tidak mencuci rambut rasanya sangatlah aneh. Rambut menjadi lepek, muncul aroma kurang sedap, dan tentunya, menurunkan kepercayaan diri.

Tetapi, tidak begitu bagi beberapa orang. Pakar kecantikan, dr. Rais Sama menuturkan, "Sebaiknya tidak setiap hari karena bahan kimia dalam sampo tanpa disadari bisa menghilangkan minyak esensial alami yang ada di kulit kepala. Justru yang ada kulit kepala bisa kering. Keramas tiga kali seminggu sudah cukup."

Sedangkan menurut pelaku tren 'no poo', Paige Gozon di akun TikTok @paigxgoz14 yang mengaku sudah tidak keramas selama 8 tahun, rambutnya justru lebih cepat tumbuh dan sehat. "Rambutku tumbuh lebih cepat dibandingkan semua teman dan anggota keluarga. Aku tidak harus berurusan dengan rambut bercabang dan rambutku tidak patah seperti kebanyakan temanku," kata remaja yang berjulukan 'Greasy Hair Girl' itu.

Berangkat dari fenomena yang cukup berlawanan dengan keyakinan saya tersebut, maka saya, sebagai tim keramas setiap hari, merasa perlu menguji keabsahan manfaat tidak berkeramas selama berhari-hari. Saya rasa ini cukup mudah, sebab bisa diakali dengan menggunakan topi, serta menghindari rambut dari terpaan air. Hal ini demi menghindari keadaan lepek karena pembauran minyak dan air yang tidak pernah bisa menyatu.

Terhitung sejak waktu terakhir keramas, yaitu 13 Maret 2022 sekitar pukul 8 pagi, saya secara sadar dan tanpa paksaan, mencoba berhenti menggunakan sampo dan berkeramas untuk beberapa hari ke depan.

.Ilustrasi no shampoo/ Foto: Biolabs - pexels

Hari Pertama, Senin, 14 Maret 2022
Pada hari pertama, saya tidak menemui kesulitan. Kondisi kepala belum lepek karena minim aktivitas di penghujung pekan. Sementara aktivitas di kantor yang hari itu kondusif, turut membuat rambut saya masih dalam kondisi prima.

Hari Kedua, Selasa, 15 Maret 2022
Di hari kedua ini, saya mulai ingin menyerah. Jakarta yang panas di pagi hari dan berubah hujan pada pertengahannya, membuat saya mulai garuk-garuk kepala. Terutama ketika mengenakan helm di perjalanan menuju tempat bekerja. Di hari itu, saya tidak membawa topi untuk menutupi kepala yang sudah tidak terlalu segar. Sebisa mungkin, saya menghindari berdekatan dengan rekan kerja, agar aroma kurang sedap yang muncul dari rambut tidak mengganggu mereka.

Hari Ketiga, Rabu, 16 Maret 2022
Ya, sudah hari ketiga dan saya semakin tidak tahan. Kondisi helm yang sebelumnya lembab akibat terkena hujan di parkiran, menciptakan kondisi lembab pindah ke kepala dan rambut. Hari itu, saya menahan gatal di kepala sambil menutupi aroma kurang sedap darinya dengan topi. Aktivitas saya tetap berjalan lancar meski minyak di kepala mulai turun ke wilayah jidat, dan mengharuskan saya rajin membasuh muka.

Hari Keempat, Kamis, 17 Maret 2022
Memasuki hari keempat, saya mengakali kondisi kepala yang mulai lengket dengan memanfaatkan handuk kering dan hair dryer milik ibunda. Gatal belum sepenuhnya hilang. Hanya saja, kondisi rambut terbilang tidak selepek sebelumnya. Satu hal yang saya sadari selama empat hari ini, rambut saya yang sebelumnya mudah patah, sedikit berubah menjadi kuat. Sepanjang beberapa hari tersebut, helaian rambut saya absen berjatuhan ke lantai.

Hari Kelima, Jumat, 18 Maret 2022
Pada hari kelima ini, saya sangat ingin keramas. Selain mencoba mengindahkan anjuran agama untuk mencuci tubuh secara penuh dan bersih, saya semakin merasa gerah. Cuaca Jakarta yang bisa berubah dari mendung menjadi terik secara tiba-tiba, memanaskan kondisi kulit kepala yang sudah lima hari tidak tercuci. Sepertinya, debu dan asap jalanan menempel sepenuhnya. Tapi, demi membuktikan manfaat yang diamini orang lewat media sosial, saya mencoba teguh meneruskan.

Hari Keenam, Sabtu, 19 Maret 2022
Ini adalah hari keenam saya tanpa keramas. Saya benar-benar ingin menyerah, lantaran harus pergi menuju pulau tropis di bagian tengah Indonesia, Lombok, demi tugas dari pekerjaan. Namun, niat keramas urung dilaksanakan. Saya pikir, saya bisa menggenapi kondisi ini satu hari lebih jauh. Toh, sejauh ini, selain gatal yang sukar tertahan, rambut saya lebih terasa kuat dan tidak sering patah apalagi rontok seperti sebelumnya.

Tekad ini bersambut baik. Setibanya di Lombok, cuaca di sana yang biasanya berangin dan hangat, justru berkebalikan. Kala itu, hujan dan langit yang mendung membuat kepala yang saya jaga tetap kering dengan topi, nyaman dalam keadaannya. Walau demikian, semua berubah seketika. Ternyata tidak seluruh Lombok, mendung dan hujan.

Di lapangan kerja yang saya tuju, Sirkuit Mandalika, Matahari bersinar eksentrik. Kepala yang kering mulai berkeringat dan membuat rambut lepek. Gatal menjadi semakin sering. Tetapi, saya rasa, ini merupakan efek yang sugestif. Karena, ketika saya terlarut dalam tugas, permasalahan kepala mulai terlupakan

Hari Ketujuh, Minggu, 20 Maret 2022
Akhir pekan di Lombok, berbuah kondisi panas dan hujan yang datang bergantian. Bagi kepala yang tidak dikeramasi selama 7 hari kebelakang, situasi ini cukup menyiksa. Aktivitas luar ruangan kurang bisa diatasi kepala yang lepek. Anehnya, meskipun kepala sulit menahan gatal, saya masih urung keramas. Saat itu, ide keramas justru baru saya hendaki selepas bertugas penuh di hari Minggu yang tetap panas dan hujan secara bergantian. Maksud saya, jika saya ingin kembali keramas, saya pastikan kondisinya tepat dan membuat keramas lebih bermakna dan bukan rutinitas biasa seperti sedia kala.

Hari Kedelapan, Senin, 21 Maret 2022
Memasuki hari Senin, atau hari ke-8 tanpa keramas, saya yang sudah tidak sabar mengentaskan kotoran di kepala-seminggu yang panjang, melihat skenario yang lebih menyenangkan dan lebih sakral secara ritual. Mandi di laut, membiarkan rambut menjadi salty hair dan bersikap don't care   seperti kata selebgram yang membagikan pengalamannya di pantai, dan setelah itu baru bergegas keramas. Akhirnya, tepat di hari ke delapan, saya mengakhiri masa tanpa keramas. Di pinggir pantai Senggigi yang berombak tinggi dan berangin kencang, kulit kepala yang hangat dan rambut sedikit berat, saya sucikan kembali bersama zat kimia bernama sampo dengan sensasi mint yang membuat kepala dingin dan menyegarkan.

.Ilustrasi sampo/ Foto: Sarah Sai - Pexels

Eksperimen satu minggu tanpa sampo, membuat saya sadar, bahwa kesegaran tidak selalu dimulai di luar kepala, melainkan di dalam kepala. Sugesti bahwa saya bisa bertahan mengatasi ketergantungan akan kesegaran sampo, berbuah rambut yang tidak mudah rontok seperti sebelumnya. Mungkin setelah ini, saya akan mengurangi intensitas berkeramas. Apalagi, di media sosial, banyak juga orang yang berhenti menggunakan sampo untuk waktu yang lama, dan mendapatkan rambut yang lebih sehat dari sebelumnya.

Namun satu-satunya permasalahan yang tampak adalah cara alternatif   selain sampo   yang bisa membuat kepala tetap kondusif harus saya praktikkan. Seperti misalnya menggunakan daun lidah buaya, atau menggunakan produk perawatan tubuh lain, yang banyak diklaim bisa digunakan sebagai pelindung dan perawat rambut yang lebih tepat guna seperti bedak bayi dan dry shampoo setelah membilas rambut; membasuh kulit kepala menggunakan olive oil atau jus jahe, hingga keramas menggunakan kopi, seperti yang tren di media sosial baru-baru ini.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)