Inspire | Human Stories

Pentingnya Melawan Sexism

Selasa, 15 Feb 2022 15:01 WIB
Pentingnya Melawan Sexism
Jakarta -

Saat lahir, gender kita sudah ditentukan dari faktor biologis seperti alat kelamin dan kromosom. Namun, gender juga berkaitan dengan identitas seseorang. Beberapa pihak juga menganggap bahwa gender adalah sebuah konstruksi sosial, sebab perilaku seseorang nyatanya dikotak-kotakkan sesuai dengan norma-norma sosial dan kebiasaan adat.

Sebagai contoh, seorang laki-laki harus bersifat maskulin, sehingga jika mereka menangis itu menandakan bahwa mereka lemah. Hal ini juga mendorong stereotip bahwa perempuan lebih lazim dan wajar untuk menangis dibanding laki-laki. Padahal, sedih adalah perasaan universal yang bisa dirasakan dan diekspresikan oleh semua orang. Melalui perspektif-perspektif tersebut, diskriminasi gender dapat timbul. Inilah yang melahirkan sexism.

Sexism merupakan prasangka atau diskriminasi yang berdasarkan jenis kelamin atau gender. Hadirnya sexism dapat memengaruhi hidup seseorang, mulai dari relasi dengan orang lain, kesehatan psikis dan mental, hingga pendapatan. Dampak dari sexism dapat diperparah dengan latar belakang identitas seseorang seperti umur, kewarganegaraan, agama, orientasi seks, dan lainnya. Sexism dapat menimbulkan ketidaksetaraan gender dan dapat memompa praktik hate crime hingga kekerasan yang berdasarkan gender.

Cibiran yang bersifat sexist dapat secara implisit diutarakan oleh seseorang. Hal ini dikenal sebagai microaggression yang memiliki dampak kumulatif pada korban. Sebagai contoh, seseorang meragukan peranmu dalam suatu project karena alasan gender, kompetensi kamu ditanyakan karena alasan gender, dan juga candaan yang bersifat sexist.

Dalam beberapa kultur, maskulinitas lebih dielu-elukan sehingga sexism berdampak lebih besar pada perempuan, termasuk transgender dan individu gender-expansive lainnya. Namun, laki-laki juga dapat dirugikan akibat sexism. Praktik sexism dapat mengurangi kepercayaan diri sampai membuat seseorang ragu dan gugup untuk bersosialisasi. Seperti mengeluarkan pendapat atau berpartisipasi dalam percakapan.

Lebih parahnya, sexism juga dapat melimitasi seseorang dalam mengakses dan mendapatkan haknya. Berangkat dari hal tersebut, seseorang dapat merasa tidak berdaya sehingga akhirnya dapat memengaruhi kesehatan mental. Maka dari itu, penting untuk mengetahui bagaimana cara memberantas sentimen ini.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, sexism lebih banyak memberi dampak negatif pada perempuan. It's important to underline that fighting sexism is achievable through a collective fight. Kita harus belajar bagaimana cara untuk menjadi ally dalam memerangi sexism. Hal ini dikarenakan, seseorang yang dihadapi dengan perilaku sexist biasanya merasa tertekan untuk membela dirinya, mengingat bahwa mereka adalah subjek dari perilaku sexism. Namun, bukan berarti orang yang telah terekspos sebagai perilaku sexism merasa dapat menerima hal tersebut. Sehingga, konfrontasi dari pihak ally dapat membantu untuk mengedukasi para sexist sebagai cara agar tidak melazimkan perilaku tersebut.

Stereotip gender yang merupakan cikal bakal dari sexism, memang tidak semudah itu untuk dihapuskan karena telah mendarah daging dalam norma masyarakat. Namun, perlu digarisbawahi bahwa penting untuk berpartisipasi dalam gerakan untuk mengubah keadaan dan membangun dunia yang mengedepankan kesetaraan gender. Stand up for what's right and fight sexism. After all, a drop in the ocean has the power to eventually change the weather.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita