Inspire | Human Stories

Mematikan centang biru WhatsApp: untuk kesehatan mental atau anti-sosial?

Minggu, 30 Jan 2022 16:53 WIB
Mematikan centang biru WhatsApp: untuk kesehatan mental atau anti-sosial?
Foto: Mourizal Zatifa
Jakarta -

Berdasarkan data Kominfo, dari 171 juta pengguna internet di Indonesia, 83 persen diantaranya adalah pengguna WhatsApp. Hal ini membuat WhatsApp menjadi aplikasi instan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Tentunya, untuk membawa pengalaman pengguna yang lebih nyaman, WhatsApp menyediakan beberapa fitur dalam opsi 'keamanan' seperti, non-aktifnya update status kepada teman kontak, ataupun fitur 'terakhir dilihat.'

Akhir-akhir ini, muncul perdebatan di Twitter mengenai fitur WhatsApp yang memperkenankan pengguna untuk mematikan fitur centang biru. Beberapa argumen mengenai hal tersebut didasari pendapat, bahwa fitur ini seringkali mempersulit pengguna dalam berkomunikasi. Namun, pada sisi lain, banyak pengguna WhatsApp yang merasa terbantu oleh fitur ini dalam segi privasi. Untuk membahas perdebatan ini, Saya menanyakan beberapa teman terkait fitur centang biru di WhatsApp.

"Gue malah merasa lebih aman kalau gue nyalain centang biru." ujar Namil, seorang lulusan kedokteran gigi yang sedang menjalani program co-ass. Menurutnya, centang biru lebih membantu untuk menunjukkan respon dari lawan bicara. "Mungkin ngaruh sama pekerjaan yang gue lagi lakuin, misalnya karena gue masih koas, gue butuh banyak kepastian dari pasien maupun dokter pembimbing gue. Jadi, kalau dosen gue matiin centang biru, gue malah anxious mampus." ungkap-nya.

Menurut Namil, jika lawan bicara menonaktifkan centang biru justru malah dapat mempersulit keadaan. "Gak ada kepastian bikin gue overthinking-karena gue sagittarius kali ya, gue jadi kepikiran, dia udah nge-read atau belom, sengaja gamau bales, atau sebenernya udah dibaca tapi emang guenya aja dicampakkan?" kata Namil. Nyalanya centang biru lebih membantu Namil untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. "Gapapa pahit kalo kenyataannya cuma di read doang, yang penting gue tau orangnya udah baca pesan gue. Gue juga nyalain centang biru sebaliknya biar orang lain tau jelas nih, kalau misalnya gue udah baca tapi emang sengaja gak mau bales." ujarnya lebih lanjut.

Hal ini didukung oleh pendapat Ghina, yang lebih memilih untuk menggunakan fitur centang biru sebagai cara untuk tidak ghosting chat orang lain. "Gue typical orang yang gak suka gantung aja sih. So, the blue tick is a way for me not to ghost people, if I read your text then our convo ends there. Trus, misalnya kalau ada yang urgent nge-chat gue, dan gue lagi nggak bisa bales, I would let them know by leaving the blue tick there." ujarnya.

Saya sendiri merupakan pengguna WhatsApp yang mematikan centang biru, karena menurut saya dengan adanya fitur tersebut, saya jadi tidak digesa-gesa dalam membalas pesan. There's no pressure in replying texts and it didn't make me overthink why people just left me on read. Namun, saya pribadi mendapat cibiran dari Mama saya akibat menonaktifkan centang biru di WhatsApp, karena menurutnya, "tidak sopan."

Fauzan, nyatanya setuju dengan pendapat saya. "I hate the pressure of replying, so I have to agree with you. Gue matiin centang biru karena berasa lebih santai aja dalam balesin chat. I have more time to process the message without having the person knowing and waiting for me to respond." ungkap Fauzan. Menurutnya, mematikan fitur centang biru memberikan keringanan baginya. "Kalo lo matiin centang biru, lo juga gak bisa tau orang udah baca chat atau belom kan? It's mentally healthier for me not knowing whether they are just leaving me on read, or they haven't actually read it, you get me? Gak ada that heavy and haunting feeling lah pokoknya." ucapnya melalui percakapan singkat kami di WhatsApp. "Bukan berarti gue anti-sosial ya, I just think the less you know the better, LOL." candanya.

Ghina juga mengutarakan bahwa memilih untuk mematikan fitur centang biru tidak menandakan bahwa seseorang itu anti-sosial. "Gue gak mikir gitu sih, karena gue juga tau orang yang milih matiin juga simply biar gak kelihatan aja udah di read atau belum." ujarnya.

Platform sosial WhatsApp dikabarkan akan mengeluarkan fitur baru, yaitu pengguna dapat menonaktifkan status online. Apakah nantinya fitur ini akan mempersulit jalannya komunikasi? Atau justru lebih membantu mereka yang memiliki social anxiety? Memang, preferensi orang dalam berkomunikasi berbeda dari satu dan lainnya. But be mindful that these social platforms are providing us personalized features based on our preferences.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/MEL)

Author

Hani Indita

NEW RELEASE
CXO SPECIALS