Interest | Home

Nasib 'Pandemic Pets' Setelah Pandemi Usai

Kamis, 13 Jan 2022 12:44 WIB
Nasib 'Pandemic Pets' Setelah Pandemi Usai
Jakarta -

Awal 2020 lalu, meningkatnya rasa kesendirian karena pandemi membuat manusia mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial. Selain rangkaian pesta Zoom, Facetime photoshoots, atau kirim-mengirim parsel untuk kerabat, kebanyakan orang menghabiskan waktunya mengasihi sesama makhluk hidup: hewan peliharaan.

Menurut ahli kesehatan mental Laura Rhodes Levin, manusia tidak hanya membutuhkan kasih sayang, namun juga butuh merawat sesuatu atau seseorang yang juga membutuhkan kasih sayang. Terlebih, berinteraksi dengan hewan ternyata mengeluarkan hormon serotonin dan dopamin, dua hormon yang sangat diperlukan untuk melepas kepenatan beraktivitas dari rumah. Diliput oleh The New Yorker, awal tahun 2020 menandai kenaikan 20 persen pada kedatangan ke dokter hewan, yang lebih dari 50 persen diantaranya merupakan pasien baru.

Lantas, setelah dunia perlahan mulai sembuh dan masyarakat mulai melakukan aktivitas sehari-hari di luar rumah seperti sediakala, apa yang terjadi pada perkumpulan pandemic pets ini? Pada bulan Mei 2021 lalu, koran USA Today merilis artikel berjudul "Everyone wanted a puppy when the pandemic began, but now those dogs are being returned", yang membuat beberapa shelter adopsi panik. Meski ternyata hewan-hewan tersebut tidak dikembalikan ke tempat adopsi seperti yang diprediksi, masih banyak faktor-faktor lain yang berpengaruh besar kepada kesehatan mental hewan yang harus dikuasai para pemiliknya, menurut Scientific American.

Pertama, anjing-anjing ini dibesarkan dan dibiasakan untuk berada di antara afeksi manusia yang terus menerus, sehingga jika sang pemilik memulai rutinitas keluar rumah untuk bekerja seharian penuh, mereka rentan merasakan separation anxiety. Kedua, karena frekuensi bertemu yang sangat sering, anjing-anjing ini kemungkinan besar telah merasa kodependen secara emosional pada pemiliknya. Ketika kebutuhan emosional mereka tidak terpenuhi, anjing-anjing ini akan merasakan stres. Sedangkan untuk kucing yang lebih pendiam dan lebih suka ditinggal sendirian, kehidupan pasca-pandemi ini secara perlahan bisa menenangkan mereka dari stres yang selama ini dirasakan akibat terlalu sering berinteraksi dengan makhluk hidup lain.

Di Indonesia sendiri, pandemi atau tidak, banyak kasus kelalaian dalam merawat hewan peliharaan. Beberapa saat lalu, pasangan selebriti Rizky Billar dan Lesti Kejora diprotes pecinta hewan se-internet karena kelalaiannya merawat kura-kura darat (notabene tidak seharusnya terkena air) yang dilepas ke kolam renang kaporit. Ada pula kasus kelalaian dalam memilih tempat grooming kucing, di mana karyawan salon hewan tersebut mematahkan kaki seekor kucing, dan alih-alih dibawa ke dokter hewan, sang pemilik kucing malah membiarkan karyawan salon tersebut membawa kucingnya ke tukang pijat manusia. Kasus-kasus di atas merupakan segelintir dari banyaknya kecerobohan manusia yang belum siap bertanggung jawab atas kesehatan makhluk hidup lain.

Realitanya, merawat hewan peliharaan bukan hanya sebatas video-video gemas di TikTok atau asyiknya mengajak anjing berjalan-jalan ke taman yang Instagrammable, namun juga ada rangkaian kebutuhan mental, fisik, dan emosional yang harus dipenuhi sang pemilik dari pertama kali mengadopsi. Hewan peliharaan bukanlah mainan, bukan pula sepenuhnya tumpuan untuk melepas stres dan penat manusia; hewan peliharaan adalah makhluk hidup yang, layaknya manusia, membutuhkan hubungan timbal balik dari siapapun yang merawatnya.

[Gambas:Audio CXO]

(DEA/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS