Insight | General Knowledge

Gimmick Politik dan Pengaruhnya pada Persepsi Pemilih

Jumat, 02 Feb 2024 20:00 WIB
Gimmick Politik dan Pengaruhnya pada Persepsi Pemilih
Jakarta -

Sejak pertengahan tahun lalu, kita telah banyak disuguhi oleh pelbagai informasi terkait pemilihan umum. Berbagai cara pun dilakukan oleh para calon pemimpin kita untuk mendapatkan perhatian demi menaikkan elektabilitas. Namun tidak semua komunikasi politik yang dilakukan oleh mereka mampu menaikkan minat maupun mengubah pilihan suara.

Padahal sejatinya, komunikasi politik bisa dipahami sebagai upaya yang disengaja untuk mempengaruhi lingkungan politik dengan jalan mengubah atau mempertahankan sesuatu. Oleh sebab itu, opini khalayak menjadi penting sebagai variabel dalam proses pembentukannya.

Jadi tidak ada proses politik terjadi tanpa komunikasi politik dan tidak ada komunikasi politik kalau tidak ada opini publik. Salah satu simbol komunikasi politik yang kerap menjadi andalan di setiap pemilihan umum adalah gestur non-verbal. Contohnya saja pose-pose jari yang laris-manis tak pernah absen. Pose tersebut kerap dianggap sebagai gimmick politik yang entah mengapa selalu menjadi "santapan lezat" yang siap dimakan oleh masyarakat kita.

Gimmick Pengaruhi Persepsi

Pada acara hiburan dan sejenisnya, gimmick menjadi salah satu cara kreator program di televisi untuk menarik perhatian penonton. Gimmick dianggap settingan, trik, dan sebuah rekayasa untuk menampilkan citra tertentu yang diharapkan oleh banyak orang.

Menurut Sugeng Winarno, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM dalam artikel opininya yang dimuat di Malang Posco Media edisi Kamis, 8 Desember 2022, gimmick politik semakin matang ketika sudah "digoreng" oleh media massa. Belum lagi campuran antara berita fakta dan bohong menimbulkan berbagai persepsi masyarakat.

"Hampir setiap hari masyarakat disuguhi realitas yang disajikan media yang terkadang justru bertolak belakang dengan keadaan aslinya. Lewat beragam permainan gimmick, bisa saja media sedang memainkan agenda tersembunyi tertentu yang mencoba disuntikkan ke masyarakat," ujar Sugeng dalam kolom.

Dalam komunikasi politik dikenal tiga tahapan komunikasi. Tahapan retorika, mainstream media, dan media baru. Ketika situasi komunikasi sudah mencair, maka kesan menakutkan pada diri penyampai dan pesan politik itu bisa ditepis. Sehingga pesan-pesan komunikasi yang disampaikan bisa lebih mudah diterima. Untuk itu, gimmick politik ada untuk membangun komunikasi yang cair agar pemimpin dan rakyatnya bisa lebih dekat.

Layaknya peran dalam sebuah drama, gimmick politik adalah salah satu cara untuk membangun sebuah peran itu. Semakin gimmick dibuat lebih kuat, sejak itu pula persepsi citra yang ingin dibangun oleh seorang pemimpin akan terbentuk. Tidak heran, ada orang yang rela mengubah suaranya karena gimmick-gimmick yang ditampilkan.

Jari Bukan Sekadar Jari

Bagi kamu yang sudah pernah memilih pada pemilu 2019, kamu pasti ingat dengan gimmick-gimmick politik semacam #2019GantiPresiden, Cebong vs Kampret, hingga salam-salam yang menggunakan jari seperti salam 2 jari. Bahkan saking "lezat"-nya gimmick yang disajikan oleh para tim sukses masing-masing calon pada saat itu, muncullah perdebatan di ranah publik maupun keluarga.

Sampai orang-orang pun tidak berani mengucapkan atau melakukan gerakan-gerakan yang normatif dilakukan sehari-hari saking takutnya dianggap memihak salah satu calon. Ini pula yang terjadi dalam suasana pemilu 2024 kali ini. Narasi gemoy effect, slepet, salam tiga jari, dan empat jari pun menjadi gimmick yang paling laku saat ini.

Aparatur sipil negara pun sampai dilarang berfoto menggunakan beberapa gerakan karena disinyalir bisa menunjukkan keberpihakan pada salah satu calon. Dikutip Detikcom, larangan ini tertuang dalam Keputusan Bersama (SKB) No. 22 tahun 2022 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Netralitas Pegawai ASN Dalam Penyelenggaraan Pemilu.

Adapun beberapa gerakan jari yang menyimbolkan sebuah dukungan seperti gaya tangan dengan satu jempol naik ke atas, gaya hati ala Korea Selatan, gaya tangan dengan jari "peace", dan lain sebagainya. Padahal pada keadaan yang normal, jari-jari ini bukan sesuatu yang penting.

Baru-baru ini, narasi gimmick jari kembali mencuat yakni "salam 4 jari". Namun sepertinya makna yang ditampilkan dalam salam ini sedikit menyudutkan satu pihak yakni #AsalBukanPrabowo. Sayangnya, gimmick ini mungkin terkesan menjatuhkan. Padahal sejatinya, aneka gimmick politik hanya untuk mencairkan suasana agar masyarakat lebih terhibur di tengah keseriusan isu politik ini.

Makna 5 Jari

Walaupun jari sudah menjadi ciri khas dalam setiap kampanye pemilu tiap 5 tahun sekali, tetapi sebagai anak muda kita patut untuk mampu memilah dan menyadari beragam gimmick yang ditampilkan. Mana yang menghibur mana yang justru membuat kontestasi semakin panas.

Sebagai anak muda yang tentu ingin berpolitik cerdas, beretika dan bermartabat, kita juga bisa menciptakan gimmick sendiri sebagai bagian dari keikutsertaan di kontestasi politik terbesar yang tak lama lagi akan berlangsung pada 14 Februari 2024. Yaitu, dengan menampilkan 5 jari.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan atau mempunyai makna lewat 5 jari. Dalam pekerjaan misalnya, 5 jari bisa mewakili perbedaan dan bagaimana kemampuan unik setiap individu ditampilkan dan disatukan demi satu tujuan. Lima jari juga menggambarkan bahwa jari-jari itu mempunyai ukuran, bentuk, bahkan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga tidak ada satu jari pun yang bisa melakukan tugasnya sendiri.

Dalam Ayurveda, 5 jari juga mewakili Panca Maha Bhuta atau 5 elemen kunci yakni udara, air, api, tanah, dan sinar yang membentuk seluruh kosmos. Ayurveda ini menampilkan keseimbangan dan dianggap sebagai kunci kesejahteraan kita.

Di kehidupan sehari-hari pun, kita tidak mampu melakukan apapun hanya menggunakan satu jari. Namun selalu ada jari lainnya yang akan membantu, bahkan 5 jari akan lebih baik. Misalnya bersalaman, memegang sesuatu, mengambil sesuatu, mengucapkan selamat tinggal, memberikan dukungan lewat tepukan bahu, dan masih banyak lagi. Gimmick ini juga bisa menandakan perdamaian bahwa kontestasi politik seharusnya berjalan dengan damai tanpa harus ada pertikaian satu sama lain.

Bukankah kita mencari pemimpin untuk memimpin dan memajukan negara kita 5 tahun mendatang karena kualifikasinya, bukan karena gimmick-nya?

(DIR/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS