Insight | General Knowledge

Sportswashing: Memperbaiki Citra Melalui Olahraga

Kamis, 24 Nov 2022 13:30 WIB
Sportswashing: Memperbaiki Citra Melalui Olahraga
Foto: AFP via Getty Images
Jakarta -

Untuk pertama kalinya, kompetisi sepakbola terbesar di dunia FIFA World Cup diadakan di semenanjung Arab dengan Qatar sebagai tuan rumahnya. Namun di balik gegap gempita dan kemeriahan acara, penyelenggaraan ajang olahraga internasional ini tidak lepas dari kontroversi. Bahkan sebelum kompetisi dimulai, Qatar telah menerima kecaman dari dunia internasional-terutama dari negara-negara Barat-karena isu pelanggaran HAM terhadap perempuan, kelompok LGBTQ, dan pekerja migran.

Sebagai informasi, pemerintah Qatar telah mempekerjakan puluhan ribu buruh migran dari Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, Pakistan, dan India demi mempercepat pembangunan stadion. Namun, mereka diduga bekerja dalam kondisi yang tidak layak, bahkan dieksploitasi hingga meninggal. Dilansir dariĀ Detik, diperkirakan 6.500 pekerja migran tewas sejak Qatar mendapatkan hak sebagai tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2010. Isu mengenai represi terhadap kelompok LGBTQ pun berhembus kencang sejak kompetisi dimulai, membuat reputasi Qatar semakin problematis di mata internasional.

Meski mendapat banyak kecaman karena isu pelanggaran HAM, tapi ajang Piala Dunia tetap berjalan, dan euforia pecinta sepakbola nyatanya tetap terjaga. Namun banyaknya kontroversi di balik penyelenggaraan Piala Dunia membuat Qatar dianggap melakukan sportswashing demi memperbaiki reputasi. Apa itu sportswashing?

Ketika Olahraga Jadi Alat Propaganda

Hakikatnya, kompetisi olahraga adalah ajang untuk menunjukkan sportivitas sekaligus upaya untuk merawat kecintaan terhadap dunia olahraga. Tapi lebih dari itu, tingginya antusiasme publik membuat dunia olahraga berkembang menjadi industri yang berpengaruh dan prestisius. Hal ini membuat olahraga menjadi rentan untuk ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan lain, mulai dari kepentingan ekonomi hingga kepentingan politik.

Misalnya, untuk acara internasional seperti World Cup atau World Olympics, setiap negara akan berlomba-lomba mendapatkan hak menjadi tuan rumah. Bagi negara yang terpilih menjadi tuan rumah, ajang ini sekaligus menjadi pembuktian kehebatan; mereka akan "memamerkan" keberhasilan membangun fasilitas kelas dunia, kondisi negara yang stabil, dan lain-lain. Singkatnya, pamor sebuah negara akan meningkat ketika dia berhasil menjadi tuan rumah ajang olahraga dunia.

Tapi pada perjalanannya, ajang olahraga akhirnya tidak hanya digunakan untuk "menjual" citra baik, tapi juga digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari reputasi yang buruk-atau yang disebut sebagai sportswashing. Sportswashing adalah strategi yang digunakan oleh organisasi, perusahaan, atau pemerintah untuk menggunakan ajang olahraga sebagai alat "pembersih" reputasi.

Sportswashing bukanlah fenomena baru, ia sudah ada dan dimanfaatkan sejak dunia olahraga mulai berkembang di kancah global. Contohnya, pada tahun 1936 Olimpiade Dunia diselenggarakan di Jerman yang pada waktu itu berada di bawah kepemimpinan Nazi. Melalui penyelenggaraan Olimpiade, Nazi menyebarkan propaganda mengenai citra Jerman yang kuat dan bersatu, padahal realitanya mereka adalah rezim yang militeristik dan rasis.

Seiring waktu, praktik sportswashing semakin banyak ditemui. Pada awal tahun 2022, penyelenggaraan Winter Olympics di Beijing juga diselimuti dengan dugaan sportswashing. Pasalnya, olimpiade diadakan ketika pemerintah Tiongkok mendapat banyak kecaman mengenai pelanggaran HAM terhadap kelompok Muslim Uighur.

Maraknya praktik sportswashing menjadi pengingat bagi kita semua untuk bersikap kritis terhadap sesuatu yang kita cintai. Sejatinya, olahraga adalah kegiatan yang mampu mempersatukan semua orang dan mendukung nilai-nilai sportivitas. Wajar saja kalau kita sebagai fans tenggelam dalam kemeriahan ajang olahraga yang diselenggarakan, tapi melihat berbagai macam kepentingan yang telah menungganginya, tidak ada salahnya untuk sekali-kali bersikap skeptis terhadap pihak-pihak yang berada di balik ajang olahraga besar dunia.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS