Insight | General Knowledge

Perkara Twitter Blue dan Mudahnya Verifikasi

Selasa, 15 Nov 2022 13:32 WIB
Perkara Twitter Blue dan Mudahnya Verifikasi
Jakarta -

Kiprah Elon Musk bersama Twitter belum sampai hitungan setengah tahun, tapi berbagai kontroversi langsung muncul sejak ia duduk di kursi singgasana sebagai pemilik Twitter. Langkah-langkah unik nan membingungkan hingga membuat kita mengernyitkan dahi muncul dari Musk sendiri. Dimulai dari layoff para pegawai Twitter, meminta pegawai yang sudah kena layoff untuk kembali bekerja di sana, hingga kemudahan mendapatkan centang biru dengan membayar biaya langganan per bulan. Namun dari semua keputusan Musk, pemberian centang biru secara mudah sebagai bagian dari Twitter Blue menjadi yang paling membuat masalah. Kenapa bisa begitu?

Dimulai dari Twitter Blue

Twitter menjadi salah satu media sosial yang paling banyak diminati oleh dunia, termasuk masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Media sosial ini menawarkan kesederhanaan dalam berbagai sisi, baik dari segi tampilan hingga panjang tulisan di dalam setiap tweet. Pergerakan informasi yang cepat membuat Twitter sangat mudah dinikmati. Bahkan, ada saja gurauan yang berkata bahwa dengan konten-konten di dalam Twitter, harusnya media sosial ini menarik uang dari para penggunanya alias berbayar.

Ide yang awalnya dari gurauan akhirnya menjadi kenyataan sejak Twitter Blue muncul. Twitter Blue adalah layanan premium berbayar yang membuat penggunanya bisa melakukan editing tweet, mendapatkan konten yang lebih terpersonalisasi, serta berbagai fitur lainnya. Langkah untuk memberikan Twitter Blue berbayar sebesar 4,99 hingga 7,99 USD akhirnya menjadi bumerang bagi Twitter sendiri saat Musk menerapkan beberapa pendekatan baru.

Sebelum dibeli oleh Musk, Twitter sendiri bukanlah perusahaan yang memiliki profit besar. Musk melihat kesukarelaan sejumlah pengguna Twitter untuk berlangganan memiliki potensi untuk monetisasi hal-hal lainnya. Akhirnya Musk pun membuat kebijakan untuk membuat memasukkan satu fitur lagi, yaitu centang biru bagi akun yang sudah menggunakan Twitter Blue.

Sejak awal gagasan ini beredar, program ini sudah menimbulkan banyak pertanyaan. Centang biru dari Twitter hadir sebagai penanda bahwa akun yang memilikinya terbukti valid dan merupakan orang ternama. Selain itu, Twitter juga memberikan centang biru kepada akun-akun yang berhubungan dengan berbagai industri, seperti jurnalisme, pemerintahan, dan kesehatan. Dengan kebijakan yang diambil oleh Musk, artinya semua orang bisa memiliki centang biru dan sisi spesial dari pemilik centang biru sudah tidak ada lagi.

Mudah Verifikasi = Mudah Menipu

Kemudahan setiap akun Twitter untuk mendapatkan centang biru sebagai verifikasi yang dinilai tepercaya membuka celah baru, yaitu semakin kaburnya informasi yang bisa dipercaya maupun tidak. Baru-baru ini, ada akun terverifikasi bernama @EliLillyandCo yang menulis bahwa insulin sudah resmi gratis. Tentu saja tweet tersebut membuat heboh, karena seperti yang diketahui, insulin merupakan obat penting untuk orang-orang yang terkena diabetes. Apalagi, harga insulin sendiri cukup mahal hingga bisa menembus angka 1000 USD di Amerika Serikat.

Sayangnya, apa yang ditulis akun tersebut merupakan penipuan. Sebenarnya akun resmi Eli Lilly and Company sebagai perusahaan produsen insulin adalah @LillyPad. Namun karena akun @EliLillyandCo sudah mendapatkan centang biru, akhirnya tak sedikit orang yang percaya.

Masalah ini akhirnya berkembang hingga membuat saham Eli Lilly and Company langsung turun hingga jutaan dollar. Gilanya lagi, tidak cuma Eli Lilly and Company saja yang terkena kasus impersonation akun dengan centang biru. Nintendo, Lockheed Martin, bahkan perusahaan Tesla dan SpaceX milik Musk sendiri juga harus terkena dampak negatif atas semakin mudahnya mendapatkan centang biru sebagai verified account yang dikenal tepercaya.

Banyak dari akun-akun tersebut sebatas berniat bercanda, namun beberapa dari mereka seakan sengaja menarget perusahaan-perusahaan besar dengan praktik bisnis yang dianggap tidak etis. Eli Lilly and Company sendiri sejak lama dikritik karena dianggap mencari untung dari hal yang bersifat esensial bagi banyak anggota masyarakat. Padahal, Frederick Banting, penemu insulin sendiri, menolak untuk menaruh namanya pada hak paten insulin. Ia merasa tidak etis jika ia menerima keuntungan dari penemuan yang bisa menyelamatkan nyawa banyak orang. James Collip dan Charles Best, dua orang rekan Banting, menjual hak paten kepada University of Toronto seharga 1 USD karena mereka ingin semua orang yang membutuhkan insulin bisa mendapatkannya. Walau harga saham Eli Lilly and Company diprediksi akan kembali stabil, dampak dari verifikasi seharga 7,99 USD yang bisa menimbulkan kerugian masif sementara ini sangatlah signifikan.

Sebenarnya Twitter sudah mencegah meledaknya kasus penipuan ini dengan memberikan informasi jika kamu mengklik centang biru di salah satu akun. Saat diklik, maka ada informasi yang tertulis tentang bagaimana akun tersebut mendapatkan centang biru. Apakah diberikan langsung oleh pihak Twitter atau menggunakan layanan Twitter Blue.

Kondisi yang sudah semakin kacau membuat Twitter melakukan penundaan permintaan mendapatkan centang biru demi menghindari penipuan-penipuan selanjutnya. Melihat apa yang terjadi, maka tinggal menunggu waktu saja apa strategi selanjutnya dari Twitter. Apakah mau tetap membuka ruang selebar-lebarnya untuk seluruh akun dalam mendapatkan centang biru, atau Musk harus mencari cara lain demi mendapatkan pundi-pundi uang dari para pengguna Twitter.

[Gambas:Audio CXO]

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS