Insight | General Knowledge

Tragedi Perayaan Halloween di Itaewon

Senin, 31 Oct 2022 18:01 WIB
Tragedi Perayaan Halloween di Itaewon
Foto: Reuters: Yonhap
Jakarta -

Duka melanda Korea Selatan pasca tragedi pada perayaan Halloween di Itaewon yang menewaskan lebih dari 100 orang, Sabtu malam (29/10). Malam yang seharusnya diisi dengan perayaan meriah akhirnya berubah menjadi insiden mematikan. Ratusan orang meninggal dunia setelah terdesak dalam kerumunan yang membludak sehingga mengakibatkan banyak pengunjung kehabisan oksigen dan mengalami gagal jantung.

Itaewon selama ini dikenal sebagai kawasan nightlife yang dipenuhi dengan bar dan tempat makan. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi oleh warga lokal maupun turis asing, terutama ketika perayaan Halloween. Setelah 2 tahun terhenti akibat pandemi, perayaan Halloween di Itaewon akhirnya diselenggarakan kembali tanpa protokol kesehatan. Hal ini menyebabkan jumlah pengunjung yang datang membludak, diperkirakan 100 ribu orang-yang sebagian besar merupakan anak muda-datang ke Itaewon pada Sabtu malam.

Insiden pun terjadi di gang sempit sepanjang 50 meter yang menghubungkan distrik kelab dan bar dengan jalan utama. Kombinasi antara kerumunan yang padat dengan gang yang menurun membuat orang-orang di bagian depan terdorong dan tertimpa oleh pengunjung di belakangnya. Beberapa pengunjung pun mencoba menyelamatkan diri dengan memanjat tembok, namun sebagian besar terjebak dalam tumpukan pengunjung. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, tampak aparat bersusah payah mengeluarkan pengunjung dari kerumunan.

Melansir NBC News, lebih dari 1700 personel gabungan dikerahkan untuk mengatasi insiden yang terjadi. Namun para petugas kesehatan kewalahan untuk memberikan CPR kepada ratusan pengunjung yang kehabisan oksigen. Mereka pun meminta bantuan kepada warga yang ada di area tersebut untuk turut membantu memberikan CPR kepada para korban yang tidak sadarkan diri.

Investigasi masih dilakukan untuk mengurai penyebab sebenarnya dari tragedi ini. Namun, ketidaksiapan aparat dalam melakukan crowd management diduga menjadi salah satu penyebabnya. Pasalnya, sehari sebelumnya sudah ada tanda-tanda bahwa jumlah pengunjung akan lebih banyak dari dugaan.

Ini merupakan insiden paling mematikan setelah tragedi tenggelamnya kapal ferry MV Sewol pada tahun 2014 yang menewaskan 299 orang. Pada tragedi Sewol, korban paling banyak juga merupakan anak muda. Presiden Korea Selatan Yoon Seok-yeol pun mengumumkan seluruh negara akan masuk dalam periode berkabung selama satu minggu.

Berdasarkan informasi terbaru dari KBRI Seoul, korban meninggal dunia sebanyak 154 orang per senin (31/10). Di antara 154 korban tersebut, terdapat 26 orang Warga Negara Asing dari 14 negara. Di antaranya adalah WNA Iran 5 orang, WNA Tiongkok 4 orang, WNA Rusia 4 orang, WNA Amerika Serikat 2 orang, serta WNA Jepang 2 orang.

Ada pula korban WNA dari Perancis, Australia, Vietnam, Uzbekistan, Norwegia, Kazakhstan, Thailand, Sri Lanka, dan Austria yang masing-masing berjumlah 1 orang. Sementara itu, akibat kejadian tersebut ada juga 2 Warga Negara Indonesia yang sempat dirawat di rumah sakit. Kedua WNI tersebut berinisial AR dan CA, mereka telah pulang ke kediaman masing-masing setelah dirawat di rumah sakit akibat luka ringan.

Berbagai pemimpin dunia turut mengucapkan belasungkawa atas tragedi yang terjadi di Itaewon, termasuk Presiden Joko Widodo. "Deeply saddened to learn about the tragic stampede in Seoul. My deepest condolences to those who lost their loved ones. Indonesia mourns with the people of South Korea and wishes those injured a speedy recovery," tulis Jokowi melalui akun Twitter. Pemerintah Korea Selatan pun berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mencari penyebab dari tragedi ini. Wajib ditunggu bagaimana kelanjutan investigasi dari kasus ini.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS