Insight | General Knowledge

Serba-Serbi Natto, Pangan Sehat Jepang yang Unik

Selasa, 19 Jul 2022 14:00 WIB
Serba-Serbi Natto, Pangan Sehat Jepang yang Unik
Jakarta -

Belakangan ini, platform TikTok Tanah Air ramai dihiasi konten #NattoChallenge. Yaitu sebuah trend menyantap natto, makanan tradisional khas Jepang yang berasal dari fermentasi kacang kedelai. #NattoChallenge sendiri kian mengemuka di media sosial, usai beberapa kreator merasakan sensasi aneh saat mencicip natto yang bertekstur penuh lendir dan menyimpan bau kurang sedap.

Tak heran, banyak dari TikTokers yang menjadi mual tidak kepalang saat mengonsumsi natto, meskipun sebagian lainnya merasa makanan ini masih bisa ditelan. Kendati menggulirkan pro dan kontra, kumpulan biji kedelai penuh lendir itu justru disebut sebagai pangan sehat yang mengandung banyak manfaat.

.Salah satu TikTokers melakukan #NattoChallenge/ Foto: TikTok/gilangsamiaji

Sebab di dalam natto, terdapat kandungan protein yang tinggi, kalsium, zat besi, hingga nihil lemak jenuh. Kemudian, panganan tradisional unik dari Jepang ini juga disebut sangat baik bagi tubuh manusia. Salah satunya karena memproduksi banyak enzim nattokinase, yaitu sebuah enzim antioksidan yang melancarkan pencernaan dan melarutkan gumpalan darah.

Sementara itu, meski aroma kurang sedap natto sulit dikesampingkan, banyak produsen natto kemasan yang sudah mampu mereduksi bau khas natto yang menyengat. Oleh karenanya, natto sangat populer di Negeri Sakura, sebagai salah satu menu sarapan favorit yang disajikan bersama sepiring nasi hangat dan olahan telur.

.Natto/ Foto: Pixabay

Uniknya lagi, konon natto tercipta karena sebuah ketidaksengajaan di masa silam. Tepatnya sekitar tahun 1500-an silam usai tensi perang domestik Jepang mulai mereda. Waktu itu, masyarakat Jepang yang lelah berperang baru menyadari kalau stok kedelai mereka telah membusuk dan menghasilkan lendir. Walhasil, karena keterbatasan persediaan makanan, biji kedelai yang berbau dan berlendir tersebut terpaksa dikonsumsi.

Anehnya, walaupun berawal dari ketidaksengajaan, natto justru cukup diterima dengan baik dan cukup menyesuaikan selera masyarakat Jepang hingga akhirnya masih terus diproduksi dan dikonsumsi sampai sekarang.

Tidak henti di sana, beberapa produsen natto di Jepang juga mengklaim, bahwa produk natto mereka tidak lagi berbau menyengat dan bertekstur menjijikan seperti sebelumnya, sehingga lebih bisa dikonsumsi masyarakat secara aman, demi manfaat baik yang terkandung di dalamnya.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)