Insight | General Knowledge

Geliat Dini Bakal Calon Pemimpin Indonesia

Minggu, 19 Jun 2022 16:00 WIB
Geliat Dini Bakal Calon Pemimpin Indonesia
Foto: PEXEL COTTONBRO
Jakarta -

Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia baru akan digelar 2 tahun lagi. Walaupun terbilang masih jauh dari masa pencalonan dan kampanye, tokoh-tokoh politik   yang dianggap memiliki elektabilitas tinggi sebagai calon pemimpin   sudah melakukan manuver-manuver mereka sejak dini.

Ada yang mendeklarasikan pencalonan lewat hajat doa bersama; ada juga yang didukung terang-terang oleh sekelompok relawan atau organisasi; bahkan, adapula yang memproyeksikan diri sebagai pemimpin masa depan, sekalipun hanya lewat kampanye tagar dan dengungan tweet via media sosial.

Fenomena seperti ini, memang kerap kali terjadi setiap pesta demokrasi di Indonesia menjelang. Lengkap bersama bentangan spanduk-spanduk raksasa di pinggir jalan, hingga paket-paket sembako beratribut partai atau sang calon yang silih berganti menyambangi pintu-pintu rumah warga.

Walaupun masyarakat tak lagi terkejut dan kebingungan dalam menyikapi fenomena inikarena memang sudah pengalaman dan menjadi lebih bijak dari masa sebelumnya, sebenarnya, apakah deklarasi dini sebegitu penting untuk dilakukan para politisi yang berhasrat memimpin di masa depan?

Seberapa Penting Deklarasi Dini?
Melansir CNN Indonesia, pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi pernah mengatakan bahwa salah satu faktor yang bisa mengubah pemetaan pemilu 2024 nanti adalah deklarasi dini para bakal calon serta koalisi antarparpol yang terjalin lebih awal.

Hal tersebut disinyalir dapat membantu publik untuk mengetahui rekam jejak, karakter, hingga visi dari sosok calon pemimpin secara lebih mendalam. Sehingga nantinya, publik tidak mengalami kebingungan ketika harus memilih pemimpin masa depan.

Di lain sisi, khususnya bagi partai-partai politik, pencalonan dini justru bisa jadi merugikan. Karena bukan tidak mungkin, sosok yang telah diusung sedari awal tersebut malah mengalami penurunan elektabilitas di tengah jalan atau bahkan mendapat citra yang negatif, sehingga tidak lagi kompetitif pada saat masa pemilihan tiba.

Meski demikian, deklarasi dini ini masih mungkin pula menguntungkan para elite politik. Sebab, secara tidak langsung, para elite-lah yang memainkan aturan dan menerapkannya ke publik. Sebaliknya, masyarakat secara luas justru lebih berpotensi untuk dirugikan, karena pemetaan dini politik mampu menciptakan polarisasi-polarisasi, dan mempengaruhi keberpihakan publik pada suatu kelompok.

Tentunya kita masih ingat, bagaimana kontestasi politik mampu membuat masyarakat terpecah belah oleh kepentingan para elite politik. Yang lebih ditakutkan dari fenomena ini adalah, efek buruk dari strategi politik identitas, yang kerap dijadikan senjata oleh pelaku-pelaku politik.

Oleh karena itu, mungkin saja, fenomena ini malah merepotkan publik karena terpecah belah oleh keberpihakan politik di akar rumput dan tidak sama sekali meyakinkan kapabilitas para pemimpin di masa depan. Sebab, kalau sudah begitu, seperti yang pernah kita rasakan beberapa waktu lalu, bukan kah geliat dini ini malah berpotensi merepotkan? Bagaimana menurutmu? Apakah deklarasi dini ini bisa membawa hasil yang lebih baik dan mengorbitkan pemimpin bonafide? Atau, sebaliknya?

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/MEL)