Insight | General Knowledge

Kabar F1: Monaco dan Hujan

Selasa, 31 May 2022 16:40 WIB
Kabar F1: Monaco dan Hujan
Jakarta -

Salah satu race paling ditunggu pada balapan Formula 1, yakni Monaco Grand Prix, baru saja diselenggarakan pada Minggu (29/05/22) kemarin. Seperti biasanya, perebutan podium teratas berlangsung seru di sirkuit jalanan Monte Carlo. Kali ini, dua pabrikan top yang belakangan tampil dominan, yakni Red Bull dan Ferrari, lagi-lagi merajai lintasan.

Meski demikian, aksi para pembalap jet darat di Monte Carlo tersebut harus tertunda beberapa kali dan meredam klimaksnya, akibat guyuran hujan deras yang memaksa balapan berhenti selama 70 menit sehingga akhirnya hanya memainkan 64 putaran dari 77 lap yang direncanakan. Selain tertunda hujan, balapan Monaco GP juga berakhir tidak menyenangkan bagi Mick Schumacher dari Haas F1 Team, yang mengalami kecelakaan hebat saat memasuki putaran ke-27.

Sementara itu, Monaco GP kali ini dikuasai oleh pembalap Oracle Red Bull, Sergio Perez Jr. yang meraih kemenangan Grand Prix pertamanya di musim ini sekaligus menorehkan rekor membanggakan, yakni dengan menjadi pembalap Meksiko pertama yang menjuarai Monaco GP. Sementara podium kedua dan ketiga diisi oleh Carlos Seinz dan Max Verstappen yang tampil meyakinkan sepanjang balapan.

GP Monaco dan Kecemerlangan Red Bull

Kemenangan Red Bull di Monaco GP 2022 merupakan kemenangan ketiga mereka secara berturut-turut di sana. Kemenangan kali ini juga menjadi momentum besar bagi mereka, karena para pembalapnya benar-benar mencetak perbedaan di klasemen dengan mengukuhkan Verstappen di puncaknya dan Sergio Perez menyelinap di tempat ketiga dengan perolehan 125 poin dan 110 poin, mengapit sang pesaing dari Scuderia Ferrari, Charles Leclerc yang mengumpulkan 116 poin sementara.

Sedangkan bagi sang putra daerah, Charles Leclerc, hasil Monaco GP ini terbilang sangat mengecewakan. Mengingat Leclerc yang start di pole position justru terlempar ke tempat keempat dan gagal meraih podium, sekaligus gagal memangkas jaraknya dengan Verstappen di puncak klasemen F1.

Keberhasilan Red Bull mengatasi Ferrari di sirkuit legendaris Monaco juga disinyalir karena strategi apik double stack Tim Red Bull di tengah balapan. Perjudian pit overcut tersebut sendiri berakhir manis setelah dua pembalap Red Bull, Perez dan Verstappen keluar lebih dulu daripada masing-masing pembalap Ferrari, yang lebih dahulu masuk pit stop untuk mengganti ban Leclerc dan Seinz dari basah menjadi kering.

Strategi penggunaan ban hard dari Ferrari juga disebut sebagai penyebab utama kekalahan Leclerc di rumahnya, terlebih karena duo pesaing asal Red Bull memanfaatkan daya guna ban medium di sirkuit yang mulai memanas. Drama empat besar antara Ferrari dengan Red Bull sendiri akhirnya berbuah kemenangan besar bagi Perez yang mengasapi Sainz pada lap-lap akhir sedangkan Verstappen berhasil menjaga jarak dari Leclerc.

Dilema Hujan bagi Pembalap Hebat

Hujan lebat turun beberapa kali saat gelaran Monaco GP 2022 berlangsung. Seperti yang bisa kita saksikan, hal tersebut mengakibatkan bendera merah harus beberapa kali dikibarkan dan membuat balapan tertunda sekaligus memangkas total putaran. Padahal, hujan di sirkuit jalanan Monte Carlo sendiri disebut akan menjadi kesan spesial bagi gelaran F1, khususnya bagi para pecintanya.

Satu hal yang cukup disoroti dari gelaran Monaco GP kemarin adalah, mengapa race harus ditunda begitu lama, padahal mobil F1 telah dilengkapi komponen yang mendukung balapan pada beberapa jenis cuaca, khususnya saat hujan. Selain itu, kecanggihan kelas wahid yang disajikan para perakit teknologi di jet darat tersebut juga sebenarnya mendukung untuk penyelenggaraan balapan di saat hujan. Tetapi nyatanya, race tetap ditunda dan urung terlaksana meski bisa saja dilangsungkan.

Hal ini ternyata disebabkan oleh beberapa hal. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah masalah keselamatan pembalap itu sendiri. Konon, sekalipun mobil tetap bisa dipacu maksimal dengan tambahan teknologi pada ban untuk kondisi basah, jarak pandang pembalap tetap akan menjadi kacau ketika hujan turun. Hal ini jelas akan menghambat potensi maksimal pembalap dan cenderung membahayakan satu sama lain. Apalagi angka kecelakaan saat hujan juga cukup tinggi. Alhasil, para penyelenggara lebih bermain aman dan mencoba meminimalisir risiko.

Selain itu, perangkat pelindung Halo yang dipergunakan setiap mobil balap juga menjadi masalah baru ketika hujan berlangsung. Kendati mengamankan mobil dari tubrukan yang parah, sensor Halo justru mengacaukan pandangan para pembalap sehingga sulit memastikan kondisi yang sebenarnya pada lintasan. Sekalipun balapan akan semakin menarik jika digelar saat hujan, harapan pecinta F1 untuk menyaksikan para pengemudi terbaik di dunia ngebut di kala rintik hujan rasanya akan sukar terlaksana--setidaknya dalam waktu dekat. Oleh karena itu, balapan lebih cenderung tertunda apabila lintasan tengah diguyur hujan.

Sementara dalam mengakalinya, para pelaku F1 dapat mengantisipasi race saat hujan dengan strategi pemilihan ban yang efisien, juga dengan memanfaatkan strategi pit stop yang berani. Hal ini bisa dilihat dari cerdiknya Oracle Red Bull yang mengatasi Ferrari di Monaco kemarin, yang terkesan pintar mencari celah dan memberikan perbedaan yang besar.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/HAL)