Insight | General Knowledge

Busting Myths: Stereotip Gender

Selasa, 24 May 2022 12:00 WIB
Busting Myths: Stereotip Gender
Jakarta -

Ketika saya remaja, saya sempat merasa minder karena tidak memiliki skill yang mumpuni dalam memasak. Sebab, lingkungan sekitar membuat saya berpikir bahwa seorang perempuan harus bisa memasak. Makanya, ketika saya mengetahui teman saya yang seorang laki-laki justru lebih ahli memasak, saya merasa minder. Belakangan saya menyadari, bahwa saya tak seharusnya merasa malu dan merasa "gagal" menjadi perempuan. Sebab, memasak adalah survival skill yang seharusnya dimiliki oleh siapa saja, dan tak ada kaitannya dengan gender.

Sejak kecil, saya turut "dibentuk" menjadi perempuan yang sesuai dengan standar masyarakat. Begitu juga dengan laki-laki. Sejak kecil laki-laki diajarkan bahwa mereka tidak boleh emosional, apalagi menangis. Mereka dituntut untuk selalu menjadi kuat, gagah, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Sebaliknya, perempuan dipandang terlalu emosional dan dituntut untuk selalu menurut.

Dengan kata lain, laki-laki dianggap sepenuhnya maskulin dan perempuan dianggap sepenuhnya feminin. Pembagian antara maskulin dan feminin ini mengakar dalam hampir semua cara hidup kita. Mulai dari gaya berpakaian, jenis pekerjaan yang ditekuni, preferensi film, selera musik, hingga pilihan makanan. Misalnya, laki-laki dipandang lebih cocok menjadi insinyur dan tak cocok menjadi fashion designer. Padahal, minat dan bakat tak ada kaitannya dengan gender seseorang.

.Ilustrasi anak laki-laki dan perempuan/ Foto: Pexels

Gender mengacu kepada karakteristik yang melekat pada perempuan, laki-laki, atau queer. Karakteristik ini meliputi norma, perilaku, dan peran yang diasosiasikan kepada gender tertentu. Gender sendiri berbeda dengan jenis kelamin. Misalnya, secara biologis perempuan memiliki rahim. Tapi, yang kemudian menentukan bahwa semua perempuan ditakdirkan untuk menjadi ibu adalah masyarakat. Semua ini adalah bagian dari stereotip gender, yaitu pandangan yang menggeneralisir karakteristik ke dalam kategori gender tertentu.

Judith Butler, seorang pemikir sosial yang mendalami kajian gender, mengatakan bahwa gender adalah konstruksi sosial. Artinya, gender bukanlah sesuatu yang alamiah dan sudah ada dari sananya, melainkan dibentuk seiring waktu melalui norma dan kondisi sosial masyarakat. Butler menjelaskan bahwa gender tidak terikat dengan tubuh yang bersifat biologis, dan merupakan sesuatu yang bersifat performative atau dilakoni. Peran yang kita lakoni sehari-hari (baik sebagai laki-laki atau perempuan) ini ditentukan oleh norma-norma heteroseksualitas.

Interpretasi Butler membuka berbagai kemungkinan mengenai gender. Sebelumnya, gender dilihat sebagai sesuatu yang bersifat tetap dan tak mungkin berubah-ubah. Namun apabila gender adalah sesuatu yang dibangun dan dibentuk, maka ia juga bisa diruntuhkan dan dibentuk kembali. Dengan demikian, menurut Butler, gender bukanlah suatu konsep yang fix, melainkan terbuka dengan perubahan dan bisa dinegosiasikan.

.Ilustrasi gender/ Foto: Pexels

Gender sebagai konstruksi sosial dibuktikan dengan adanya perbedaan konsep gender dari waktu ke waktu. Misalnya, di Indonesia sendiri sebelum masa kolonialisme, berbagai budaya lokal mengakui adanya gender yang beragam. Misalnya, suku Bugis mengenal adanya 5 gender dan suku Toraja mengenal adanya 3 gender. Hal ini membuktikan bahwa gender dipraktekkan secara berbeda-beda dalam konteks masyarakat yang juga berbeda-beda.

Stereotip gender tidak seharusnya dipertahankan karena ia bisa menyebabkan diskriminasi. Sebab, stereotip ini bisa berakibat pada pembatasan identitas peran baik bagi perempuan maupun laki-laki. Misalnya, tuntutan kepada laki-laki untuk selalu maskulin membuat mereka merasa malu dalam mengekspresikan emosi yang mereka rasakan. Bahkan, dalam beberapa kasus hal ini menyebabkan laki-laki merasa malu dan enggan untuk mencari pertolongan yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Memang, sulit untuk mengubah sesuatu yang sudah tertanam di pikiran kita sejak kecil. Untuk membongkar stereotip gender, mungkin butuh proses learn dan unlearn yang tidak mudah dan memakan waktu. Tapi, tak ada salahnya untuk mencoba dari sekarang. Sudah saatnya kita berhenti mengkotak-kotakkan individu berdasarkan gender mereka.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)