Insight | General Knowledge

Mendalami Sejarah Melalui Novel

Selasa, 17 May 2022 13:26 WIB
Mendalami Sejarah Melalui Novel
Jakarta -

Novel selalu menjadi andalan saya ketika ingin kabur sejenak dari kesibukan sehari-hari. Dengan membaca cerita fiksi, saya bisa berkelana jauh ke berbagai macam tempat, berkenalan dengan berbagai tokoh, dan tenggelam dalam cerita-cerita mereka. Saya selalu kagum dengan para penulis novel, sebab mereka bisa menciptakan dunia mereka sendiri dan menuturkannya lewat kata-kata. Kata orang, buku adalah jendela dunia, dan saya setuju dengan pernyataan ini. Bahkan, terkadang sebuah novel bisa berbicara lebih banyak tentang dunia yang ada di sekitar kita ketimbang sebuah berita.

Meski dikemas sebagai cerita fiksi, tapi ada banyak sekali novel yang berangkat dari peristiwa nyata atau pengalaman personal para penulisnya. Dari sinilah, saya menemukan ada banyak sekali novel yang bisa mengajarkan kita mengenai isu sosial, budaya, dan juga sejarah. Sejarah yang kita temukan di novel jelas akan berbeda jauh dari yang kita pelajari di sekolah. Sebab, terkadang pendidikan kita terlanjur menyederhanakan peristiwa sejarah menjadi hafalan yang membosankan, atau cerita masa lampau yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan masa kini.

Novel bisa menjadi alternatif lain untuk mempelajari sejarah melalui sudut pandang yang lebih personal dan dekat dengan keseharian, karena kita diajak untuk berempati terhadap karakter-karakter yang mengalaminya. Berikut adalah novel-novel pilihan kami yang bisa membantumu mendalami sejarah Indonesia!

.Burung-burung Manyar/ Foto: Gramedia

Burung-Burung Manyar (1981)

Novel yang ditulis oleh Y.B. Mangunwijaya ini berlatar masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kondisi pada masa itu diceritakan melalui seorang karakter bernama Teto yang dibesarkan di lingkungan keluarga tentara KNIL. Ayahnya yang merupakan keturunan bangsawan keraton memiliki jabatan tinggi di KNIL, sedangkan ibunya merupakan perempuan Indo bernama Marice. Teto bercita-cita menjadi tentara KNIL seperti ayahnya. Namun, keluarga Teto mengalami kehancuran setelah tentara Jepang masuk ke Indonesia. Ayahnya ditangkap, dan ibunya dipaksa menjadi gundik tentara Jepang. Cerita Teto berlangsung hingga ke masa-masa pasca kemerdekaan, termasuk juga ketika ia bertemu kembali dengan perempuan yang disukainya, Atik. Melalui kisah hidup Teto, Burung-Burung Manyar adalah pintu masuk untuk melihat duka dan perjuangan dari seseorang yang tumbuh selama masa revolusi.

.Saman/ Foto: Gramedia

Saman (1998)

Saman merupakan bagian pertama dari dwilogi Saman dan Larung. Novel pertama yang ditulis oleh Ayu Utami ini berkisah tentang empat perempuan yang bersahabat sejak kecil yaitu Shakuntala, Cokorda, Yasmin, dan Laila. Beranjak dewasa, keempatnya bertemu dengan seorang mantan pastor yang menjadi aktivis buruh perkebunan bernama Saman yang kemudian menjadi buron. Novel ini memberi banyak insight mengenai kondisi sosial masyarakat di tengah konflik agraria di masa Orde Baru. Ketika diterbitkan, novel ini dinilai kontroversial karena mengangkat tema seksualitas dari perspektif perempuan yang pada masa itu masih tabu untuk dibicarakan. Melalui Saman, Ayu Utami telah mendorong banyak penulis perempuan lainnya untuk mengikuti langkahnya.

.Entrok/ Foto: Gramedia

Entrok (2010)

Novel yang ditulis oleh Okky Madasari ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Marni dan anaknya yang bernama Rahayu. Dua karakter dari generasi yang berbeda ini kerap berkonflik karena kepercayaan mereka yang bertolak belakang. Marni sendiri merupakan perempuan Jawa yang masih menganut kepercayaan leluhur, sedangkan Rahayu yang mengenyam pendidikan di universitas adalah individu yang taat beragama dan berpikiran rasional. Marni sendiri kerap tidak disukai oleh orang-orang sekitar, profesinya sebagai rentenir membuatnya dicap sebagai lintah darat. Saat itu, kehidupan Marni sendiri sulit, suaminya meninggal karena kecelakaan, usahanya bangkrut, dan tanahnya habis karena diperas oleh tentara. Marni pun mendapat kabar buruk bahwa Rahayu masuk penjara dan dicap sebagai PKI. Entrok menyajikan kisah konflik antar generasi, dengan pergulatan politik di era transisi Orde Baru sebagai latarnya.

.Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/ Foto: Gramedia

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014)

Novel karya Eka Kurniawan ini telah diangkat menjadi film layar lebar yang berhasil memenangkan penghargaan internasional. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas merupakan novel yang bercerita tentang seorang laki-laki yang gemar berkelahi bernama Ajo Kawir. Di balik predikatnya sebagai jagoan berkelahi, Ajo Kawir menyimpan sebuah masalah yang menghantuinya sejak kecil dan membuat dirinya tak takut mati. Ketika masih kecil, Ajo Kawir dan kawannya, Tokek, tak sengaja menyaksikan pemerkosaan seorang janda yang mengidap penyakit mental bernama Rona Merah oleh dua orang aparat. Akibat traumanya sejak peristiwa itu, Ajo Kawir mengalami disfungsi ereksi. Ia kemudian jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Iteung yang sama-sama jago berkelahi. Mengambil latar akhir tahun 1980an, novel ini sebenarnya juga menunjukkan dominasi dan kekuasaan yang ada di masa Orde Baru, yang salah satunya mengambil wujud dalam maskulinitas toksik.

.Laut Bercerita/ Foto: Gramedia

Laut Bercerita (2017)

Pasca Reformasi, cerita mengenai kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru memang sudah sering dimuat ke dalam artikel, film, buku, bahkan lagu. Leila S. Chudori, melalui bukunya yang berjudul Laut Bercerita, berupaya menghidupkan kembali perlawanan yang dilakukan di masa itu. Buku ini mengisahkan tentang mereka yang hilang dan tak pernah kembali, serta mereka yang selamanya berduka karena telah ditinggalkan. Tokoh sentral dalam cerita, Biru Laut, adalah seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris yang pandai memasak, sedikit pendiam, dan idealis. Bersama kawan-kawannya, ia bergabung ke dalam organisasi Winatra dan Wirasena yang menjadi salah satu wadah aktivisme bagi para mahasiswa. Melalui sudut pandang personal Biru Laut, Laut Bercerita mampu menghadirkan kepingan sejarah yang mungkin terlupakan.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/HAL)