Insight | General Knowledge

Menebak Masa Depan Twitter di Tangan Elon Musk

Kamis, 12 May 2022 14:00 WIB
Menebak Masa Depan Twitter di Tangan Elon Musk
Elon Musk Foto: CXO Media
Jakarta -

Saat ini, Elon Musk barangkali adalah orang paling berkuasa di dunia. Bagaimana tidak, setelah mendirikan Tesla dan SpaceX, orang terkaya nomor satu di dunia ini membeli Twitter pada bulan April kemarin seharga USD 44 miliar. Twitter merupakan salah satu dari empat perusahaan yang menguasai ruang media sosial kita. Tiga perusahaan lainnya yaitu Alphabet (perusahaan induk Google dan YouTube), Meta (perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp), serta ByteDance (perusahaan induk TikTok).

Besarnya pengaruh yang dimiliki Elon Musk juga membuat pemerintah Indonesia mendekati dirinya dengan penawaran investasi nikel dan baterai listrik. Konglomerat dari Amerika Serikat ini telah dijadwalkan bertemu dengan Presiden Joko Widodo pada hari Selasa tanggal 10 Mei untuk membahas rencana investasi tersebut.

Setelah Elon Musk mengakuisisi Twitter, tak diragukan pengaruhnya akan bertambah besar. Apalagi, media sosial telah mempengaruhi nyaris semua aspek kehidupan kita hari ini. Twitter sendiri bisa dikatakan telah menjadi ruang publik digital yang menjadi melting pot bagi banyak netizen untuk mendapatkan berita, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam diskursus publik. Kencangnya arus informasi yang ada di Twitter membuatnya menjadi salah satu portal rujukan untuk segala sesuatu yang sedang terjadi di dunia. Bahkan, propaganda politik pun marak ditemukan di media sosial ini. 

Dengan latar belakang tersebut, Elon Musk sendiri mengaku ingin agar Twitter bisa menjadi ruang digital yang mampu mengakomodasi kebebasan berpendapat di seluruh dunia. Pernyataan ini mendapat respon bermacam-macam, ada yang mendukung tapi banyak juga yang skeptis. Pasalnya, sosok Elon Musk sendiri tidak lepas dari kontroversi. Tak sedikit juga yang merasa pernyataan Elon Musk ini kontradiktif dengan rencana-rencana yang ia miliki untuk Twitter. Beberapa rencana Elon untuk perkembangan Twitter ke depannya masih berbentuk ide besar yang vague. Lantas, apa saja rencana-rencana tersebut? Dan mampukah perubahan ini membuat Twitter menjadi ruang digital yang lebih demokratis?

.Elon Musk dan Twitter/ Foto: Pixabay

Mendukung Penuh Kebebasan Berpendapat

Sejak Elon berencana untuk membeli Twitter, 'free speech' memang telah menjadi agenda utama yang diwacanakan oleh dirinya. Elon Musk menduga di Twitter masih ada bias politik dan moderasi konten yang berlebihan. Elon sendiri ingin agar Twitter bisa menjadi ruang yang netral secara politik. Tapi, banyak yang tidak setuju dengan idenya ini. Pertama, karena konsep kebebasan berpendapat yang diusung Elon Musk masih sangat ambigu tanpa roadmap yang jelas. Kedua, tanpa adanya moderasi konten maka ruang yang 'netral' ini dinilai berpotensi memberikan tempat bagi adanya hate speech, harassment, penyebaran hoaks, ataupun perilaku merugikan lainnya yang bisa terjadi di Twitter. 

Menghapus Spam Bots

Sedari awal, Elon Musk memang telah mendeklarasikan 'perang' terhadap spam bots yang selama ini marak ditemui di Twitter. Spam bots sendiri merupakan akun bot yang dijalankan oleh program komputer dan diatur untuk mengunggah pesan otomatis secara berulang kali. Selama ini, spam bots memang kerap digunakan untuk memanipulasi pengguna, seperti penipuan yang mengatasnamakan bank atau menyebarkan propaganda politik. Namun, akun bot juga bisa digunakan untuk tujuan lain, salah satunya akun autobase.

Akun autobase sendiri merupakan wadah bagi para netizen untuk mengirim submisi melalui direct message yang kemudian akan diunggah secara otomatis ke publik sebagai pesan anonim. Selama ini, akun autobase bisa menjadi tempat bagi banyak orang untuk berbagi informasi dan berbagi pengalaman. Rencana penghapusan spam bots ini pun mendapat respon yang berbeda-beda. Sebab, akun bot mengandalkan anonimitas yang selama ini menjadi pisau bermata dua di media sosial.

.Ilustrasi Twitter/ Foto: Pixabay

Subscription Berbayar

Rencana Elon Musk yang satu ini berhubungan dengan sumber pendapatan Twitter. Elon Musk percaya ia bisa meningkatkan pendapatan Twitter sebesar dua kali lipat pada tahun 2028. Caranya adalah melalui subscription berbayar. Selama ini, sebagian besar pendapatan Twitter datang dari iklan. Elon tidak ingin Twitter terlalu bergantung pada iklan, sehingga dirinya memiliki rencana untuk membuat fitur berbayar bagi pengguna yang tidak ingin akunnya dibanjiri iklan. Namun, rencana ini masih berupa gambaran besar. Belum ada penjelasan spesifik akan skema yang ditawarkan apabila nantinya Twitter menyediakan fitur yang berbayar. Selain itu, Elon juga mengatakan ke depannya mungkin Twitter akan mengenakan biaya untuk akun komersial atau akun pemerintahan yang menggunakan Twitter.

Algoritma Twitter Dibuat Open-source

Untuk meningkatkan kepercayaan publik, Elon Musk berjanji untuk membuat Twitter secara lebih transparan dan akuntabel. Salah satunya, ia berencana untuk membuka algoritma   atau kode-kode pemrograman   Twitter kepada publik. Dengan demikian, nantinya publik bisa melihat sendiri bagaimana algoritma Twitter bekerja dan mempengaruhi aktivitas mereka di media sosial. Tak hanya bisa dilihat, kode yang dibuka ke publik ini nantinya juga bisa membuat siapa saja bisa mengopinya dan menggunakannya untuk kepentingan lain. Masalahnya, algoritma saja tidak cukup untuk membuat publik memahami bagaimana Twitter bekerja. Ibaratnya, algoritma adalah material genetik yang sudah diolah dan akan diolah kembali oleh tangan-tangan manusia. Sehingga, ia tidak terlepas dari kepentingan orang-orang yang membuatnya. Sedangkan yang dibutuhkan publik untuk transparansi adalah informasi mengapa algoritma tersebut dibuat dan bagaimana algoritma tersebut bekerja.

.Twitter akan mengautentikasi semua pengguna/ Foto: Pixabay

Mengautentikasi Semua Pengguna

Sejak awal, Elon Musk mengatakan ia ingin agar Twitter bisa mengautentikasi semua pengguna manusia. Rencana autentikasi ini adalah bagian dari tujuannya untuk menghapus semua akun spam yang membanjiri Twitter. Dengan autentikasi, nantinya Twitter akan lebih mudah dalam menyaring mana akun yang dikelola oleh manusia dan mana akun palsu yang dikelola oleh program komputer. Belum ada mekanisme yang jelas bagaimana autentikasi ini nantinya akan dijalankan.

Namun, beberapa ahli khawatir hal ini akan menimbulkan masalah baru. Salah satunya, masalah mengenai privasi dari data pengguna. Biasanya, untuk melakukan autentikasi pengguna diminta untuk memberikan informasi pribadi mereka. Bisa melalui nomor kartu identitas, nomor kartu kredit, atau facial recognition. Masalahnya, pengguna sendiri belum bisa mendapatkan jaminan bahwa data mereka akan tersimpan dengan aman dan tidak akan disalahgunakan oleh Twitter maupun pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab.

.Twitter/ Foto: Pixabay

Saat ini, gagasan-gagasan yang dibawa oleh Elon terasa sangat mengambang dan mungkin sulit untuk dibayangkan bagaimana mewujudkannya. Sebenarnya, wajar saja banyak yang mempertanyakan masa depan Twitter di tangan Elon Musk. Apalagi, Twitter telah menjadi ruang sosial digital yang memiliki peran penting bagi kehidupan sehari-hari banyak orang. Meski saat ini gagasan-gagasan yang dibawa Elon Musk masih bersifat mentah dan vague, kita sudah bisa menilai visi yang dimiliki olehnya.

Elon Musk mengatakan ia bermaksud membuat Twitter menjadi ruang politik yang netral. Tapi, pada kenyataannya, tidak ada ruang politik yang netral   apalagi ruang politik yang tercipta di media sosial. Sebab secanggih-canggihnya teknologi, ia tak akan bisa bebas dari kepentingan pihak-pihak yang menciptakannya dan menggunakannya. Dan apakah kepentingan Elon Musk sejalan dengan ide-ide besar yang ia koarkan? Kita lihat saja nanti.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/HAL)