Insight | General Knowledge

Menyoal Pernyataan "Maaf Bercanda" di Lingkup Sosial Kita

Jumat, 08 Apr 2022 16:00 WIB
Menyoal Pernyataan
Jakarta -

Chris Rock, komedian top asal negeri Paman Sam, ditampar Will Smith di panggung megah Oscar 2022. Penyebabnya adalah sebuah lelucon yang dilontarkan Chris Rock, mengenai penampilan istri dari Will Smith, Jada Pinkett Smith. Kejadian tersebut banyak disoroti dunia. Perdebatan utamanya membahas seputar batasan komedi dengan penghinaan, yang selama ini berada di wilayah abu-abu.

Meski demikian, respons represif Will Smith waktu itu tidak dapat dibenarkan begitu saja. Pasalnya, walaupun alasannya cukup kuat, yakni membela istrinya yang tengah melawan penyakit Alopecia, kekerasan fisik yang dilakukan Will justru dianggap berlebihan. Kasarnya, banyak orang menyebut Will Smith bersikap baperan.

Di lain sisi, komedi yang disampaikan Chris Rock juga banyak dikecam. Meski pada waktu itu banyak penonton yang ikut tertawa, setelah terjadi penamparan, orang-orang mulai menyadari bahwa jokes Chris sebagai lelucon yang kelewatan, dan lebih bersifat merendahkan Jada Pinkett, istri Will.

Persoalan di atas berdampak panjang. Pihak The Academy sedang mendalami kasus penamparan oleh Will Smith, dan bisa saja mengeliminasi kemenangan Oscar miliknya. Sebaliknya, Chris Rock yang memulai kekisruhan dengan leluconnya, justru terdampak positif, di mana harga tiket tur komedi Chris malah melambung tinggi.

Fenomena seperti demikian, terjadi berulang-ulang di seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Batasan antara menghina dengan bercanda, khususnya pada masa ini, semakin memasuki ruang bias yang tipis perbedaannya. Terutama, semenjak kata-kata "baperan" ramai dipergunakan. Dengan adanya istilah "baper", banyak orang mulai menormalisasi hinaan yang bersembunyi di balik candaan, dan berbalik menuduh pihak yang direndahkan sebagai pribadi baperan.

Pada konteksnya, komedi memang menjamah banyak area. Dalam terapan komedi tunggal, teknik meledek disebut sebagai roasting. Namun pada praktik keseharian, tidak semua orang sanggup melakukan dan menerima gaya komedi seperti demikian, sekalipun penampil stand up comedy sekaliber Chris Rock. Sebab, secara ideal roasting sebenarnya lebih didasari pada kekaguman terhadap seseorang, yang diungkap lewat sudut pandang berbeda yakni lelucon. Bukan sebagai perilaku yang gamblang merendahkan, apalagi menghina, dengan memanfaatkan gaya bercanda.

Kembali ke dampak permasalahan antara Chris Rock dan Will Smith, banyak tokoh dunia yang mulai menanggapi kejadian tersebut secara lebih jernih dan bijak. Melansir detikHealth, ahli psikologi, Laurentius Sandi Witarso mengatakan, "Jika seseorang berkomentar tentang fisik seseorang dan mereka saling tertawa dan puas, hal itu dapat tergolong ke dalam candaan."

Tika Bisono, yang juga ahli psikologi, turut menambahkan bahwa teasing dapat terlaksana tergantung motif. "Di situ dibutuhkan kearifan. Teasing atau menggoda sifatnya situasional dan targetnya bisa siapa saja, jadi tertawanya bisa kapan saja tapi situasional," kata Tika. Namun ia menggarisbawahi, jika di dalamnya terkandung niat melecehkan atau merendahkan, maka candaan tersebut dapat dianggap perundungan verbal.

Sementara, salah satu ikon komedi dunia, Jim Carrey menyebut, bahwa apa yang dilakukan Will Smith berlebihan. "Will bisa berteriak dari bangku penonton dan menjadi tidak setuju terhadap lelucon. Tetapi, ia [Will] tidak punya hak untuk memukul wajah seseorang karena berkata-kata," kata Carrey di CBS.

Setelah kejadian yang menggemparkan tersebut, kedua belah pihak menyapa masyarakat dunia dengan berbeda. Melalui medsos, Will Smith meminta maaf. Sedangkan Rock, lebih menatap ke depan, di mana bahasannya berfokus pada tur komedi yang akan segera ia laksanakan.

Menghina dan Bercanda, Mirip tapi Berbeda

Menghujat dan melawak, tampaknya akan selalu bergandengan tangan. Sekilas, keduanya sulit dipisahkan. Namun jika dibedah, mereka sangat berbeda. Pada dasarnya, titik perbedaan hinaan dan candaan berkutat pada aspek emosional. Sederhananya, bercanda merupakan perwujudan kegembiraan, sementara menghina lebih melepaskan amarah dan kekesalan.

Jika, dan hanya jika, kita merasa ingin terus tertawa namun tidak ingin ada pihak yang merasa dirugikan, sepertinya, memahami konteks pembicaraan, baik subjek maupun konteks yang ada, merupakan jalan utama yang harus dilalui secara lengkap, sebelum kita melontarkan bahan tertawaan.

Memang benar kata Warkop DKI, "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." Sejauh ini, kita terus berada di pusara perdebatan, yang terus menyoal tentang siapa baperan dan siapa kelewatan. Jadi, sebaiknya, sebelum kita mencoba menertawakan subjek di sekitar kita, sepertinya kita harus lebih dulu mencoba memahami. Atau mungkin, kita bisa mulai dengan menertawakan diri sendiri. Sebab dengan begitu, kita akan lebih mawas diri, bahkan bisa lebih tepat guna memanfaatkan komedi.

Pada akhirnya, tentu kita semua berharap, agar bisa terus tertawa tanpa ada menyebabkan persoalan berarti, sehingga, bercanda dan tertawa tidak lagi perlu dilarang atau menjadi hal yang menyebalkan.

Bisakah kita berhenti berlindung di balik kalimat, "hehe, maaf bercanda," dan mulai bercanda dengan lebih baik? Bisakah kita bisa berhenti menormalisasi hinaan dengan tameng candaan? Jawabannya, ada diri kita masing-masing, di mana pemahaman terhadap situasi, akan berperan vital pada kondisi seperti ini, sehingga lingkungan yang berbahagia di masa datang dapat tercipta tanpa ada ketersinggungan yang berarti.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/DIR)