Insight | General Knowledge

Memikirkan Ulang Makna Toleransi

Selasa, 29 Mar 2022 10:00 WIB
Memikirkan Ulang Makna Toleransi
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Staf Khusus Presiden Jokowi, Ayu Kartika Dewi, baru saja menikah dengan pasangannya, Gerald Sebastian di Gereja Katedral, Jakarta. Ia dan Gerald melangsungkan prosesi pernikahan melalui dua agama sekaligus, sebab keduanya merupakan pasangan beda agama. Tapi, bukan Indonesia namanya kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan agama tidak menjadi perdebatan. Di media sosial, pernikahan Ayu Kartika Dewi mengundang banyak opini, bahkan tak sedikit yang menghakiminya dan menyebutnya sebagai pelaku zina.

Tapi, ada juga yang memuji keberaniannya untuk melangsungkan pernikahan beda agama. Salah satunya, datang dari cuitan @Afutami yang mengatakan bahwa "Pernikahan beda agama Ayu Kartika Dewi dan Gerald Bastian pagi ini membuat hati saya penuh. Ayu bukan hanya memperjuangkan toleransi di mulut sebagai stafsus, tapi sesungguh-sungguhnya menjalankan dalam berkeluarga. Agama dan pernikahan memang seharusnya tentang cinta kasih." Sebagai seseorang yang turut menjalani hubungan beda agama, saya bersepakat dengan Afutami bahwa melihat pernikahan Ayu membuat hati saya penuh.

.Ilustrasi menikah beda agama/ Foto: Deesha Chandra - Pexels

Tapi, perihal apakah yang dipraktikkan Ayu merupakan toleransi beragama mengundang pertanyaan. Pasalnya, banyak yang mengatakan bahwa Afutami menarik garis terlalu jauh dengan menyamakan pernikahan beda agama sebagai contoh toleransi beragama. Misalnya, salah satu netizen dengan akun @kisbet_ mencuit, "Nikah beda agama bukan perwujudan tindakan toleransi menurutku jangan dipaksa pake kata toleransi, nikah beda agama lebih ke cinta di atas segalanya terserah mau melanggar aturan agama. Toleransi itu misalnya membiarkan yang beda agama menjalankan ajaran agamanya tanpa gangguan."

Perdebatan ini memantik sebuah percakapan mengenai apa sebenarnya makna toleransi. Beberapa tahun terakhir, kata "toleransi" memang telah menjadi buzzword atau jargon yang terus-menerus didengungkan. Sebagai negara yang masyarakatnya majemuk, kata ini pasti selalu muncul ketika membicarakan perbedaan, terutama perbedaan agama. Tapi, apa sebenarnya makna toleransi dan bagaimana praktiknya dalam keseharian?

.Ilustrasi toleransi/ Foto: Andrea Piaquadio - Pexels

Mengutip Cambridge Dictionary, definisi sederhana dari toleransi adalah kemauan untuk menerima perilaku dan kepercayaan yang berbeda dari apa yang kita percayai, meski kita tidak setuju dengan perilaku atau kepercayaan tersebut. Dalam konteks masyarakat majemuk, perilaku toleran berarti membiarkan dan tidak ikut campur dengan individu atau kelompok lain yang berbeda dari kita. Hal ini memungkinkan agar kelompok yang berbeda bisa hidup bersama-sama dalam satu negara. Secara konsep, toleransi memungkinkan adanya perdamaian, komunikasi yang baik, dan saling memahami satu sama lain. Tapi pada praktiknya, praktik toleransi mungkin tidak sesederhana ini.

Di Indonesia, praktik toleransi bisa membuat masing-masing individu hidup dalam kelompoknya tanpa harus bersinggungan dengan kelompok lain. Di satu sisi, memang tidak ada konflik. Tapi dengan rasa keberjarakan ini, kesalahpahaman dan prasangka bisa muncul. Dengan kondisi seperti ini, mereka yang melakukan pernikahan beda agama pun rentan menerima penghakiman. Sungguh ironis, melihat konsep dari toleransi sebenarnya adalah untuk tidak mencampuri urusan orang lain.

.Ilustrasi menikah berbeda agama/ Foto: Luis Quintero - Pexels

Adanya penghakiman yang ditujukan kepada mereka yang menikah beda agama sebenarnya mencerminkan paradoks toleransi yang digagas oleh Karl Popper. Ia mengatakan bahwa toleransi yang tak terbatas bisa menumbuhkan perilaku intoleran. Sebab, hadirnya perilaku intoleran yang melukai kelompok tertentu bisa dijustifikasi dengan dalih "kebebasan berpendapat" atau "kebebasan beragama". Oleh karena itu, menurutnya agar masyarakat bisa benar-benar inklusif, sikap-sikap yang sudah menjurus ke intoleransi tidak seharusnya diterima atau ditoleransi.

Di Indonesia, urusan privat seperti pernikahan dan pilihan untuk beragama tidak bisa tidak menjadi urusan publik. Pernikahan beda agama yang dilakukan oleh Ayu Kartika Dewi dan Gerald Sebastian adalah hak dan pilihan yang mereka ambil sebagai pasangan. Meski kita tidak harus menyetujuinya, tapi untuk menghakiminya secara publik menunjukkan betapa kita sendiri belum memahami apa makna toleransi.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)