Insight | General Knowledge

Paradoks Solomon dan Menyelamatkan Diri Sendiri

Sabtu, 26 Mar 2022 16:00 WIB
Paradoks Solomon dan Menyelamatkan Diri Sendiri
Jakarta -

Pernahkah kamu membantu teman atau orang di sekitarmu untuk memecahkan masalah mereka, hingga memberi mereka nasihat hingga mencari solusi untuk mereka dengan tangan terbuka? Namun, ketika kamu butuh untuk memecahkan masalah yang terjadi di kehidupan pribadi kamu, justru kamu mengalami kesulitan. Inilah yang disebut sebagai Solomon's Paradox atau Paradoks Solomon.

Paradoks Solomon adalah suatu keadaan di mana seseorang pandai memberi saran atau nasihat mengenai masalah orang lain, tapi tidak bisa menerapkan nasihat atau saran tersebut untuk masalahnya sendiri. Istilah tersebut diperkenalkan oleh seorang ilmuwan psikologi dari University of Waterloo, Kanada, bernama Igor Grossmann. Konon, ia terinspirasi oleh kisah Raja Solomon, seorang raja ketiga bangsa Israel yang memerintah pada tahun 970-931 SM, yang terkenal akan kebijakannya. Karenanya, banyak orang dari berbagai penjuru negeri yang rela berjalan jauh demi mendengarkan petuah-petuahnya.

Namun, di balik kebijakannya terhadap orang lain, Raja Solomon sendiri sering membuat keputusan yang buruk atas kehidupannya, sehingga membuat kerajaannya berada di ambang kehancuran. Itulah mengapa orang yang bijak untuk menyelesaikan masalah orang lain tapi tidak bagi dirinya sendiri disebut dengan Paradoks Solomon.

Jadi, Paradoks Solomon pada dasarnya merupakan sebuah fenomena tentang bagaimana secara psikologis, kita-sebagai manusia-cenderung lebih bijaksana untuk menalar dan menyelesaikan masalah orang lain daripada masalah kita sendiri. Namun, bagaimana kita bisa ikut bijak dalam menghadapi masalah kita sendiri?

Nah, premis di balik paradoks ini juga terkait dengan gagasan jarak psikologis, di mana semakin jauh kita dari suatu masalah, semakin kita dapat memahami bagaimana menghadapi situasi tersebut. Kita tentu tidak sepenuhnya berdaya dalam menghindari maupun melawan paradoks ini. Cukup menyadari adanya paradoks tersebut dapat membantu kita. Selain itu, mempraktikkan jarak psikologis dengan mengubah narasinya menjadi seolah-olah kita sedang memutuskannya untuk orang lain juga dapat membantu kita untuk tetap lebih objektif.

Ketika mendapat masalah, coba lihat dari sudut pandang orang ketiga. Kira-kira nasihat apa yang akan kamu berikan kepada seseorang di posisi kamu saat ini? Alih-alih bertanya pada diri sendiri, "Haruskah saya mengerjakan tugas sekolah saya?" tanyakan dari sudut pandang orang ketiga, "Haruskah dia mengerjakan tugas sekolahnya?" Perubahan kata ganti dari 'saya' menjadi 'dia' akan membantumu memahami apa yang terbaik, seperti yang selalu kita lakukan untuk orang lain.

Kebijaksanaan adalah kualitas yang dimiliki dari hasil pengalaman, pengetahuan, dan penilaian yang baik. Maka dari itu, terkadang dengan mempraktikkan jarak psikologis membantu kita membuat penilaian yang lebih rasional akan masalah yang kita hadapi. Ingat, menasihati orang lain adalah suatu hal yang bisa dilakukan siapa saja. Namun, perlu diingat bahwa kita punya persoalan yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan keputusan yang bijak juga.

[Gambas:Audio CXO]



(NAS/HAL)