Insight | General Knowledge

Mengenal Kompas Moral

Sabtu, 26 Mar 2022 12:00 WIB
Mengenal Kompas Moral
Jakarta -

Walaupun tinggal di era kecanggihan komunikasi dan informasi seperti sekarang, manusia saat ini justru membentuk tatanan masyarakat yang reaksioner dan judgmental. Hal ini, ditandai dengan banyaknya penilaian moralitas yang ada di sekitar kita. Pada tatanan masyarakat ini, standar moralitas dipandang secara universal. Bahkan, dipegang dengan teguh kepercayaan. Padahal, moralitas sendiri berlaku secara tidak teratur dan terbilang kompleks.

Moralitas tidak bekerja seperti koin yang berlainan di dua sisi. Tidak pula dilihat bagaikan sisi hitam dan putih, yang mengartikan sesuatu dapat dilihat secara baik atau jahat, benar atau salah, patut atau tidak patut. Melainkan, memerlukan suatu konteks yang akan mempengaruhi perilaku dan perbuatan. Layaknya sebuah kompas berbentuk peta pada permainan populer Grand Theft Auto (GTA), moralitas diperkirakan bergerak secara stagnan. Yaitu, terus mengarah pada simbol Utara atau North, yang memang selalu muncul di peta dan tampak sebagai suatu tujuan.

Tetapi, seiring bergulirnya cerita kehidupan, peta atau kompas yang juga ada di gim GTA justru memiliki simbol-simbol lain yang muncul   sebagaimana simbol North, dan terasa lebih layak menjadi tujuan. Inilah yang disebut sebagai konteks pada kompas moral. Di posisi ini, North tidak lagi disadari sebagai tujuan, namun sebatas penanda arah. Simbol-simbol lain yang berisi kepentingan tokoh di dalam game GTA   atau manusia di kehidupan nyata   justru menjadi tujuan yang dilakukan pada keberlangsungannya.

Kenyataannya, perihal moralitas memang selalu bergantung pada konteks. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada perspektif dan kebenaran berbeda yang dilakoni manusia, yang juga berisi kepentingan individual. Sehingga, mengaburkan pandangan universal sebagai satu-satunya tujuan di kehidupan.

Begini contohnya, jika saudara sedarah atau kakak-beradik saling membantu dan mempermudah satu sama lain dalam mendapat pekerjaan, maka secara pasti, masyarakat menyebut mereka melakukan tindak nepotisme. Sedangkan, jika seseorang membantu dan mempermudah orang lain   yang tidak memiliki hubungan dekat atau bahkan berhubungan darah, maka orang tersebut akan dicap baik hati dan suka menolong.

Ketidaksamaan melihat sesuatu kejadian, adalah permasalahan dalam kompas moral. Dari contoh kasus di atas, kita bisa melihat bagaimana masyarakat hari ini dengan mudah memberi label terhadap suatu perilaku. Padahal di lain sisi, yakni sisi yang jarang mau dipahami dan turut dilibatkan sebelum membuat sebuah pelabelan, bisa saja kakak-beradik tersebut dibantu menjadi karyawan atas dasar kapabilitas dan kompetensi sumber daya yang menunjang. Sehingga tidak semata-mata mempraktikan nepotisme.

Contoh lainnya, sesama anggota unit keluarga pasti saling membela satu sama lain   terlepas dari fakta yang menunjukan bahwa anggota keluarga yang dibela tersebut sebenarnya memang melakukan kesalahan. Kejadian barusan, dipengaruhi oleh sebuah standar moral yang selama ini dipegang secara universal, di mana setiap anggota keluarga harus saling melindungi satu sama lain.

Pada kasus seperti ini, absennya melihat konteks secara menyeluruh membuat sebuah keputusan diambil dengan tidak efektif dan mengandung bias. Jika fakta menunjukan bahwa anggota keluarga melakukan kesalahan, maka anggota keluarga yang lain wajib ikut memberi konsekuensi kepada yang bersalah-sebagaimana yang diatur norma di masyarakat atau hukum negara. Bukan malah melindungi pihak bersalah, sekalipun sang pemilik kesalahan memiliki ikatan darah.

Sementara itu, pada kehidupan yang ada di gim GTA, tiap-tiap karakter utamanya tidak luput dari perilaku kriminal seperti mencuri kendaraan, melakukan tindak kekerasan terhadap karakter lain, atau bahkan melakukan pembunuhan, namun tetap dianggap normal. Keyakinan tersebut, tumbuh karena adanya anggapan yang menomorsatukan kepentingan personal, dibanding kepentingan bersama.

Seringkali, manusia hidup pada situasi dan kondisi yang mereka yakini benar. Sehingga, perdebatan unik perihal moralitas universal   yang mengatur perilaku etis di masyarakat   terus dilakukan berulang-ulang dan tanpa kejelasan. Yang perlu disadari adalah, ada banyak pengaruh kontekstual berbeda pada pendistribusian nilai-nilai moral. Jadi, memandang sesuatu hanya dari satu sisi seakan-akan utuh, tidak lagi pantas dilanjutkan.

Moralitas telah berkembang sesuai kebutuhan praktis dan psikologis manusia, baru nantinya berkaitan dengan keterhubungan sosial masyarakat. Hal seperti demikian, cenderung berjalan subjektif mengikuti kepentingan universal, yang diwakili lewat improvisasi nilai moralitas ke ranah norma dan hukum yang umum. Permasalahannya, pola yang pragmatis ini justru berada di ranah yang bias.

Sejauh ini, selain perihal konteks yang ihwal, jarak sosial antar manusia memainkan peran penting pada aplikasi moral kompas di kehidupan nyata. Kedekatan antarpribadi tidak sepatutnya menjadi batasan dalam penegakan moralitas yang umum. Oleh karena itu, menemukan cara pandang yang lengkap dan presisi sebelum menasbihkan sesuatu, adalah jalan terbaik untuk kehidupan yang lebih bermoral di kemudian hari.

Moral kompas, mencoba membedah bayangan moralitas yang tampaknya teguh dan kaku dengan lebih bijak. Berpikir multi-perspektif adalah kuncinya. Jalan yang utama berada di kemampuan berpikir yang runtut dan objektif. Karena, menegakan kompas moral dalam berkehidupan tidak sesederhana yang saat ini dijalankan, namun lebih mendasar dari itu, termasuk melihat dunia secara filosofis dan mencoba memahami sesama manusia melalui aspek psikologis.

Satu contoh terakhir mengenai bagaimana kompas moral bekerja, bisa kita cermati lewat fenomena yang belakangan ramai diperbincangkan: konflik peperangan antara Ukraina dan Rusia. Banyak pihak yang membela salah satu dari mereka dengan alasan subjektif dan kental nuansa politis. Meskipun keberpihakan yang subjektif tersebut tidak bisa serta-merta disalahkan, hal ini justru menimbulkan pertanyaan baru yang lebih mendasar: "Haruskah kita mengorbankan kehidupan yang damai dan penuh cinta, demi konflik politik berwujud perang senjata yang sejatinya merusak kemanusiaan? Apakah pendekatan politis lebih baik dari melihat konflik secara humanis? Bagaimana kita seharusnya memandang fenomena ini dengan standar moralitas yang tidak salah kaprah? Atas nama kompas moral yang kita harap menjadi universal, menurutmu, bagaimana seharusnya kita secara bersama-sama, bersikap terhadap konflik ini?

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/MEL)