Insight | General Knowledge

Pandemi dan Perubahan Iklim: Konsekuensi dari Rusaknya Bumi Kita

Kamis, 17 Feb 2022 10:00 WIB
Pandemi dan Perubahan Iklim: Konsekuensi dari Rusaknya Bumi Kita
Foto: Unsplash Fusion Medical Animation
Jakarta -

Kita sudah sering mendengar narasi bahwa perubahan iklim menyebabkan kehancuran ekosistem dalam skala yang besar. Bencana semakin banyak terjadi, beragam spesis berada di ambang kepunahan, dan banyak komunitas harus meninggalkan tempat tinggal mereka karena terkena dampak krisis iklim. Namun, terkadang sulit untuk membayangkan seperti apa persisnya kerusakan ekosistem yang kita hadapi sekarang dan di masa depan. Apalagi ketika perubahan iklim merupakan isu yang kompleks dan melibatkan banyak istilah ilmiah. Meski demikian, salah satu dampak dari perubahan iklim yang belum banyak dibahas adalah bagaimana ia mempengaruhi kualitas kesehatan manusia.

Dengan logika sederhana, kerusakan lingkungan yang memicu perubahan iklim berakibat pada hilangnya habitat beragam spesies yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem. Ketika kesehatan dari bumi sendiri menurun, maka kesehatan manusia juga akan menurun. Sebab, manusia bergantung pada kondisi lingkungan yang bisa menopang kehidupan. Keterkaitan antara degradasi lingkungan dengan kesehatan manusia tercerminkan melalui pandemi Covid-19.

Meski belum ada bukti konklusif yang menunjukkan keduanya memiliki relasi langsung, tetapi pandemi dan perubahan iklim adalah dua fenomena yang saling berhubungan. Bagaimana mereka bisa berhubungan satu sama lain bisa kita lihat salah satunya melalui penelitian Gupta dkk (2021). Penelitian ini membahas pengaruh perubahan iklim terhadap munculnya Covid-19. Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai akar permasalahan mulai dari deforestasi, polusi udara dan air, hingga pemanasan global.

Berbagai penyebab di atas, yang mengubah kondisi lingkungan kita, menjadi kondisi awal yang memungkinkan virus untuk berkembang. Pasalnya, kondisi alam yang berubah tadi menyebabkan perubahan pada interaksi antar spesies, populasi spesies, tingkat imunitas inang, mutasi virus, dan juga intensitas bencana seperti kekeringan dan banjir bandang. Pada akhirnya, perubahan-perubahan ini meningkatkan probabilitas terjadinya wabah dan seberapa rentan kita bisa terinfeksi.

Covid-19 hanyalah salah satu contoh kasus bagaimana perubahan iklim bisa memicu bencana kesehatan. Melansir Harvard School of Public Health, sudah ada temuan bahwa perubahan iklim mendorong peningkatan beberapa penyakit yang bisa menjadi wabah, di antaranya Vibrio dan Demam Berdarah. Vibrio adalah bakteri yang bisa menyebabkan diare dan menular melalui air. Sedangkan demam berdarah yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, tingkat penyebarannya dipengaruhi oleh musim penghujan. Kondisi air, udara, dan iklim, berperan dalam penyebaran kedua penyakit ini. Sebab ketika kualitas lingkungan kita semakin menurun, transmisi penyakit akan semakin mudah terjadi.

Berbagai temuan ini menunjukkan bahwa konsekuensi perubahan iklim menjalar hingga ke berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan masyarakat. Sementara itu, kita masih memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk bisa memutar balikkan keadaan sebelum suhu bumi semakin meningkat drastis. Penggunaan bahan bakar fosil, pembangunan besar-besaran yang mengorbankan lingkungan, deforestasi, menumpuknya limbah plastik, adalah beberapa permasalahan yang menghambat mitigasi iklim.
Kita harus berhenti melihat manusia sebagai spesies yang berhak menguasai alam. Relasi kita dengan organisme lain lah yang membuat ekosistem ini bisa berfungsi dan menopang kehidupan. Ketika manusia mengganggu keseimbangan alam, maka kualitas kehidupan pun akan menurun.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/MEL)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS