Insight | General Knowledge

Haruskah Kita Memisahkan Artis Dengan Karyanya?

Senin, 07 Feb 2022 14:00 WIB
Haruskah Kita Memisahkan Artis Dengan Karyanya?
Foto: Walter McBride
Jakarta -

Tidak semua artis yang karyanya menakjubkan memiliki kepribadian yang menakjubkan pula. Seringkali mereka melakukan sesuatu yang kontroversial, menuai kekecewaan terhadap penikmat karyanya. Seorang artis memiliki tanggung jawab bukan hanya seseorang yang menghasilkan karya seni. Sebab, seorang artis juga memiliki peran penting dalam menjadi sebuah inspirasi, baik itu melalui karyanya atau kepribadiannya. Sehingga, mereka merupakan figur publik yang memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan hingga mengubah dunia melalui karyanya.

Sebagai contoh, komunitas trans (LGBTQ) seringkali menyuarakan betapa problematic J.K. Rowling, penulis Harry Potter dan Fantastic Beast, karena kerap membuat Tweet yang bersifat transphobic. Tapi, banyak yang mengabaikan hal ini dan tetap mendukung J.K. Rowling dalam karyanya. Satu kasus lain tertuang dalam penulis naskah Penyalin Cahaya yang diduga sebagai predator dalam kejahatan seksual. Isu tersebut banyak menuai perdebatan karena ironisnya, Penyalin Cahaya merupakan film yang mengangkat isu pelecehan seksual. Pada satu sisi, produksi-produksi tersebut bukan merupakan karya satu orang saja, namun juga melibatkan tim besar yang bekerja dibalik layar dan memiliki tujuan murni untuk menghasilkan karya.

Misalnya saja dalam kultur Korea Selatan, jika ada artis yang terjerat dalam sebuah kontroversi, biasanya karirnya akan luntur. Namun, masih banyak yang tetap membela dan mendukung artis tersebut meskipun telah menjadi musuh publik. Hal ini tercermin dalam kasus Seungri, member dari grup BIGBANG yang beberapa tahun lalu sempat terjerat dalam kasus narkoba dan kasus prostitusi.

Topik ini nyatanya menimbulkan perdebatan di kalangan generasi muda dan K-lovers. Salah satunya adalah Arief, yang menyatakan bahwa dia tidak terlalu peduli dalam menanggapi hal tersebut. Karena menurutnya, karya BIG BANG masih dapat dinikmati tanpa memperdulikan kontroversi yang dialami membernya. "Ya udah aja. Walaupun problematic lagunya tetep addict." kata Arief.

Hal ini bertolak belakang dengan Dian, yang berhenti mendukung grup favoritnya akibat terjerat kasus. "Aku tadinya suka banget sama EXO, tapi karena beberapa membernya terlibat kontroversi seperti pelecehan seksual, aku nggak respect lagi sama grup itu. Tapi, kalau untuk project individual, aku masih menikmati karyanya. Cuma, nggak dukung mereka sebagai satu grup." ucapnya.

Sementara, menurut teman saya Tasya, responsnya terkait isu penulis naskah Penyalin Cahaya adalah meskipun ia mengetahui kasus tersebut, ia tetap akan menonton filmnya. "Karena penasaran, gue bakal tetep nonton sih. Sayang aja, karena pesan filmnya bagus dan penting untuk diangkat." ujarnya.

Pada fenomena seperti ini, dilema seringkali muncul terkait dukungan dan eksposur yang diberikan pada artis tersebut. Rasanya salah jika mendukung karya yang dilakukan oleh orang yang melakukan sesuatu yang tidak mudah untuk ditoleransi. Hal ini masih jadi perdebatan yang besar. Alasan dibalik sifat problematis seorang artis merupakan hal personal, yaitu sesuai dengan kepercayaan dan anggapan pribadi yang kita pegang. What's problematic for you, sometimes, isn't problematic for everyone, depending on their beliefs and one's own lifestyle. Sehingga, jika mereka melakukan sesuatu yang memang tidak bisa dikompromikan, it's up to us to decide whether we're showing support or canceling the person and boycotting the art. If you think you can just enjoy the art, do what you think is right.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita

NEW RELEASE
CXO SPECIALS