Insight | Business & Career

Memahami Profesi Content Creator yang Sebenarnya

Rabu, 13 Jul 2022 10:00 WIB
Memahami Profesi Content Creator yang Sebenarnya
Foto: Freepik
Jakarta -

Akhir-akhir ini, kawasan Stasiun Sudirman menjadi salah satu tempat favorit para remaja urban untuk saling bertemu. Apalagi setelah banyak content creator TikTok membuat konten untuk mewawancarai mereka yang sering berkunjung ke area tersebut. Sehingga kawasan tersebut menjadi cukup populer di kalangan remaja Citayam, Bojong Gede, dan Depok. Tak ayal, hal tersebut menjadi perhatian publik ibu kota, tidak terkecuali petinggi negara seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno.

Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata sebagian besar para remaja tersebut merupakan pelajar putus sekolah karena kondisi perekonomian yang terbatas. Menanggapi hal tersebut, Menteri Sandiaga Uno pun berinisiatif untuk memberikan beasiswa untuk mereka yang putus sekolah. Namun sayangnya, niat baik mantan Gubernur DKI Jakarta itu ditolak mentah-mentah oleh salah satu remaja Citayam yang kerap wara-wiri di TikTok yaitu Roy.

Roy mengatakan bahwa ia hanya ingin fokus menjadi content creator, alih-alih sekolah lagi meski mendapat beasiswa dari menteri. Usai viral di TikTok, ia berhasil memperoleh penghasilan sendiri dan merasa sekolah tidak menjamin ia mendapat pekerjaan lebih baik. Ucapan Roy ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa profesi content creator yang beberapa tahun belakangan cukup populer di kalangan gen Z ini menjadi pilihan karir mereka tanpa mempertimbangkan jangka panjang.

Menurut saya, sedikit banyak keputusan remaja-remaja itu memilih profesi tersebut dikarenakan kemudahan uang yang dihasilkan dari content creator. Tapi sebenarnya, banyak salah kaprah mengenai pekerjaan ini yang dianggap mudah dan tak membutuhkan banyak effort di dalamnya. Lantas, sebenarnya apa itu profesi content creator dan benarkah tidak membutuhkan sekolah untuk menggeluti profesi ini?

.Ilustrasi content creator/ Foto: Pexels

Bukan 'Cuma' Bikin Konten

Selama ini profesi content creator kerap dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan mampu meraup pundi-pundi rupiah dengan cepat. Ditambah banyak selebriti berbondong-bodong beralih ke YouTube untuk menjadi content creator dengan konsep yang bermacam-macam. Apalagi fenomena terkenal lewat media sosial membuat para remaja merasa pekerjaan ini dapat membantu mereka mendapatkan uang dengan mudah.

Padahal sejatinya, para content creator tidak hanya sekadar membuat konten. Namun mereka harus memikirkan banyak hal, mulai dari ide konten, materi konten, produksi konten, mengedit konten, memasarkan konten, hingga meninjau konten yang telah dibuat. Seorang content creator membutuhkan ide yang orisinil untuk membuatnya berbeda dari content creator lainnya. Oleh sebab itu, diperlukan riset dan eksekusi produksi yang tidak sebentar.

Dilansir Betterteam, untuk menjadi seorang content creator yang sukses, kamu harus fokus untuk menarik minat konsumen dengan membuat materi yang menarik. Pada akhirnya, pembuat konten yang bagus bisa mempromosikan kontennya ke berbagai pihak. Selain itu, sebagai content creator, kamu juga mengemban tanggung jawab sebagai pencipta sebuah konten. Sehingga kamu perlu berhati-hati dan mematuhi Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) agar tak terjerat masalah hukum akibat konten yang kamu ciptakan.

.Ilustrasi belajar / Foto: Pexels

Pendidikan Jadi Kunci Jenjang Karir Content Creator

Menanggapi pernyataan remaja Citayam yang mengaku tak ingin sekolah lagi karena ingin fokus menjadi content creator, menurut saya hal tersebut kurang tepat, menganggap pendidikan bukan suatu yang berguna di masa depan. Menjadi seorang content creator mungkin tak perlu menunggu menjadi seorang sarjana dulu, tapi memiliki gelar pendidikan akan membawa keuntungan besar di kemudian hari.

Seandainya minat publik terhadap suatu konten menurun, seorang content creator tentu saja harus mencari celah untuk menemukan ide baru agar tetap bertahan di industri ini. Apalagi setiap tahun akan ada konten-konten yang baru dan lebih menarik perhatian publik. Mau tak mau para content creator harus memiliki ide yang segar untuk bisa bersaing dengan para content creator baru. Oleh sebab itu, pendidikan sangat penting untuk membuat pemikiran seorang content creator lebih terbuka lebar.

Pendidikan juga sebagai salah satu cara untuk mencari jalur karir lain atau mengembangkan karir yang ada. Jika tak bisa lagi menjadi content creator, orang yang memiliki gelar pendidikan di bidang tersebut bisa mengambil jalur karir lain tanpa harus khawatir tak memiliki skill. Adapun jenjang karir seorang content creator, bisa mulai dari penulis, lalu editor, spesialis pemasaran, manajer pemasaran, bahkan bisa menjadi seorang manajer konten website atau manajer media sosial.

Untuk mencapai jenjang karir tersebut, tentu diperlukan pendidikan formal. Seperti sarjana komunikasi, bahasa Inggris, multimedia, jurnalistik, pemasaran, dan bisnis. Intinya, menjadi seorang  tidak hanya sekadar melihat konten seseorang yang viral, lalu kamu mengikutinya. Namun, untuk bisa bertahan di industri kreatif, kamu perlu mengembangkan kemampuan dan mempunyai pendidikan yang mumpuni untuk bisa menciptakan konten yang berkualitas dan jangka panjang.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/HAL)