Interest | Art & Culture

Saat Musik Tak Lagi Cukup Didengar: Rilisan Fisik sebagai Identitas Baru Generasi Z

Senin, 05 Jan 2026 16:27 WIB
Saat Musik Tak Lagi Cukup Didengar: Rilisan Fisik sebagai Identitas Baru Generasi Z
Foto: iStock
Jakarta -

Beruntung bagi Generasi muda Gen Z ke atas untuk menikmati karya dari seorang musisi. Tak perlu lagi harus bersusah payah ke toko kaset untuk bisa mendapatkan musik yang kita inginkan. Dengan ada Spotify, iTunes, maupun Youtube Music, mendengarkan musik jauh lebih simpel, hemat ongkos dan mudah didapat. Membuat musik semakin dekat hingga jadi kerabat di keseharian.

Kendati musik digital terasa mudah didapat, namun ia tidak lagi memenuhi ekspektasi para pendengar. Kini, pendengar musik tak hanya menginginkan sensasi suara sonik atau kerasnya teriakan scream yang sebatas takjub dalam indera pendengaran. Lebih jauh dari itu keinginan yang intim terhadap kekaryaan musisi, yakni dari segi histori, visual, hingga makna yang diterima. Hal itu bisa terjadi kala menggenggam sebuah rilisan fisik: kaset pita, compact disc (CD), dan vinyl.

Bagi saya, fenomena rilisan fisik masih relevan saat ini bahkan merambah ke generasi baru. Berkaca saat peluncuran vinyl album pertama Perunggu "Memorandum" oleh besutan label rekaman independen Bandung, Disaster Records, yang ludes terjual hitungan menit, waktu silam. Di tengah gemuruh layanan streaming hingga algoritma, rilisan fisik semacam ini akan menjadi pengalaman intim dengan musisi lewat diskografi nyata, lebih lagi identitas atau simbol baru di kalangan Generasi Z.

demajors Akan Edarkan Vinyl David Bayu, ERK, Indra Lesmana, dan Lorjhu’ dalam Format Prapesandemajors Akan Edarkan Vinyl David Bayu, ERK, Indra Lesmana, dan Lorjhu’ dalam Format Prapesan/ Foto: demajors

Identitas Baru Skena Musik Gen Z

Beragamnya saluran digital musik, seperti Spotify, iTunes, dan Youtube Music, membuat pengalaman kita dalam mendengarkan musik tak lagi berciri khas atau lewat begitu saja dari tubuh kita. Kita hanya didengarkan oleh gubahan melodic atau teriakan melengking seniman vokal yang tak begitu membekas di batin. Tak seperti rilisan fisik yang membaurkan semua pengalaman: keindahan visual hingga kepuasan batin. Begitu yang saya rasakan.

Begitupun penyuguhan lagu-lagu dalam saluran digital, serasa kita didikte oleh platform ini dengan algoritma yang dikemas untuk mendongkrak popularitas. Tak ayal, kemunculan TikTok musik semakin mengganaskan algoritma musik di media daring hingga mengubah pendengar musik kiwari. Kita saat ini dicekoki dengan ringtone yang sama, yang sulit untuk kita hindarkan. Seakan kini lagu terjerembab pada wahana viralitas.

Dengan begitu, terjadi jarak keintiman antara sebuah kekaryaan dengan penikmat karya (kita) akibat dari platform musik digital yang terpaku pada algoritma. Membuat karenanya kembali kepada rilisan fisik kiwari dapat menjadi pelipur keganasan algoritma hingga memperluas pengalaman baru atau kembali menggelorakan masa lalu.

Pengalaman tersebut akhirnya saya rasakan kala menjemput vinyl album "Vakansi" White Shoes and The Couples Company besutan label rekaman independen, demajors. Dibuahi dengan 13 lagu dan dua Long Playing vinyl 12' inch yang dikelilingi oleh visual-visual band tersebut yang memanjakan mata.

Kini, Ihwal tersebut juga teraktualkan di kalangan Generasi Z lainnya, dengan kembali meramaikan toko kaset atau sebatas menjemput barang tenar era 90-an ini di lokapasar. Kegandrungan generasi baru akan media fisik terutama vinyl telah ditinjau oleh Vinyl Alliance bahwa Gen Z mendominasi pasar vinyl global sebesar 76%.

Bahkan ada 61% dari mereka beralih mendengarkan musik analog. Dasar mereka sederhana, ingin memberikan jeda dari kehidupan digital yang mengganas. Seraya kejengahan akibat disetir oleh algoritma, menggenggam diskografi fisik seniman dapat menjadi sebuah identitas diri.

.Vinyl album Perunggu yang baru./ Foto: Instagram


Ia bukan lagi sekadar media pemutar musik lawas, melainkan simbol tiap individu dalam masyarakat. Hal ini dikemukakan oleh Russel W. Belk, seorang ahli perilaku konsumen, dalam teori konsumsi simbolik, bahwa barang yang kita konsumsi bukan lagi dilihat dalam kacamata utilitarian (manfaat), tetapi untuk menyampaikan suatu identitas sosial.

Kini, menggenggam rilisan fisik pun menyiratkan seperti itu. Bagaimana kepemilikan barang-barang tertentu, dalam hal ini rilisan fisik, menjadi bagian dari ekspresi "diri yang diperluas" atau extended self. Membuat rilisan fisik tak terpaut hanya benda mati atau membelinya sebatas didengar, lebih jauh menjadi simbol di kehidupan: selera hingga status sosial.

"Gue anak vintage". Kira-kira seperti itu di bayangan mereka. Pasalnya banyak juga anak muda kini yang membeli rilisan fisik yakni vinyl hanya diukur dari nilai estetika. Barang ini jadinya berubah fungsi hanya menjadi pajangan/aksesoris rumah, tak lagi diindahkan dengan indera pendengaran. Tak apa, itu hanya preferensi. Bagaimanapun membeli rilisan fisik akan membantu si band tersebut tetap eksis termasuk label rekaman.

Namun, ada yang lebih fenomenal di generasi baru saat ini dalam menyikapi media fisik, yakni melahirkan suatu gerakan atau resistensi terhadap algoritma. Resistensi massif itu dinamakan "Rebellion Against Subscription Base and Digital Platform".

Sebuah perlawanan dari kalangan Gen Z yang jengah terhadap algoritma musik kiwari. Fenomena bangkitnya rilisan fisik di genggaman Gen Z menjadi simbol plural: selera, status sosial, hingga perlawanan di tengah gegap gempita algoritma.

Sebab dari menjemput rilisan fisik kita hanya dapat mengonsumsi musik yang ingin kita dengarkan, bahkan lebih jauh: khazanah yang didapat dari diskografi tersebut, yakni: sejarah, visual hingga makna musik yang terpotret dalam sampul rilisan fisik.

Penulis: Iqra Ramadhan Karim
Editor: Dian Rosalina

*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi atau pihak media online.*

(ktr/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS