Setelah 'puasa' duduk kursi sutradara dalam beberapa tahun terakhir, Ernest Prakasa kini kembali lewat film Lupa Daratan bersama Netflix. Film ini sendiri dibintangi oleh aktor kawakan, Vino G.Bastian yang memerankan karakter sebagai aktor utama sebagai Vino Agustian, yang merupakan nama plesetan dari Vino G. Bastian.
Lupa Daratan berkisah tentang aktor, yang secara tiba-tiba, Vino Agustian yang kehilangan kemampuan aktingnya ketika sedang berada di puncak karir. As a disclaimer, saya belum pernah menonton satu pun karya film yang disutradarai Ernest Prakasa.
So, bukan ranah saya untuk membandingkan film ia sebelumnya dengan Lupa Daratan. Di sini saya hanya berpendapat secara teknikal; seperti alur cerita. Lalu bagaimana perspektif saya sesudah menonton film itu?
Review "Lupa Daratan"
Bicara soal alur cerita, Lupa Daratan membungkus drama tentang aktor ternama yang egosentris. Vino Agustian menganggap dirinya merupakan biang kesuksesan dari semua film laris yang dibintanginya. Perspektifnya itu bukan tanpa bukti, karena ia sukses meraih penghargaan sebagai aktor terbaik.
Dalam membalut premis tersebut, Ernest cukup besar meng-covernya dengan memasukkan unsur budaya lokal. Hal itu terlihat dari sifat Vino Agustian yang congkak menyebabkan dirinya kehilangan kemampuan yang didamba-dambakannya itu. Kondisi itu ditandai dengan semburan petir, sifat dan omongan yang congkak, hingga relasi dengan kakak kandung, Iksan yang diperankan oleh Agus Kuncoro, yang kurang baik.
Dikarenakan film Lupa Daratan tayang secara global dengan judul Lost in the Spotlight, dalam cerita itu Ernest coba mengenalkan unsur-unsur mistik Indonesia ke ranah dunia. Kurang lebih sama dengan film Abadi Nan Jaya, yang menandakan bahwa Netflix tidak ingin menghilangkan ciri khas kedaerahan atau identitas dari suatu negara yang diangkat.
Tentunya itu menjadi sebuah nilai tambah. Bukan cuma itu, sisi melankolis hubungan antara kakak dan adik yang diangkat dalam film ini juga menambah esensi atau potret kehidupan seorang kakak; yang merawat, menjaga, dan membiayai keperluan sang adik.
Uniknya dari sisi berbeda, Lupa Daratan membuka bobroknya industri film di Indonesia. Mulai dari manager yang seperti Tuan Krab; hanya memikirkan soal uang, hingga jam kerja yang molor. Semua diangkat oleh Ernest dalam Lupa Daratan. Menjadi suatu hal baru untuk penonton yang ingin mengetahui bagaimana industri film di Indonesia itu berjalan meskipun porsi tersebut tidak banyak ditampilkan.
Disutradarai oleh seorang komika, tentu unsur komedi menjadi suatu ciri khas dalam setiap filmnya. Namun dalam film ini, terdapat beberapa punchline yang kurang ngena alias ngebom.
Kondisi itu cukup membuat penonton bergeming. Sangat disayangkan memang karena momen itu ditampilkan tidak sedikit. Adapun dari segi aktor dan aktris, akting mereka tidak perlu diragukan. Vino G. Bastian, Agus Kuncoro, Dea Panendra (Dimi), Emil Kusumo (Hasto), dan pemeran lainnya bermain cukup bagus.
Terutama Emil Kusumo yang berperan sebagai Hasto (manajer dari Vino Agustian) bagi saya sukses merepresentasikan karakternya; sebagai manajer yang kapitalis dan tidak humanis. Perawakannya dan mimik wajahnya sangat menjiwai karakter tersebut. Sementara itu pemeran Vino Agustian di masa remaja dan kuliah tidak merepresentasikan wajah dirinya di masa depan. Jika diukur berdasarkan skala, pemeran Iksan di masa muda memiliki kemiripan wajah 95% dengan Iksan di usia tua.
Sementara Vino Agustian di masa muda memiliki kemiripan wajah 50% dengan dirinya di masa depan; yang diperankan oleh Vino G. Bastian. Dalam beberapa angle kamera itu dapat terlihat kemiripannya, namun dari beberapa sudut pandang lain justru jauh berbeda. Kendati demikian, Lupa Daratan cukup layak untuk dinikmati untuk mengisi waktu kosong di akhir pekan. Alur cerita yang mudah dicerna membuat film ini cocok ditonton untuk usia muda dan tua. Apa kamu sudah nonton Lupa Daratan? Kalau sudah, bagaimana pendapatmu?
Penulis: Fauzi Ibrahim
Editor: Dian Rosalina