Interest | Art & Culture

Menumpahkan Emosi Bersama di Recollecting #4

Rabu, 05 Jun 2024 20:00 WIB
Menumpahkan Emosi Bersama di Recollecting #4
Menumpahkan Emosi Bersama di Recollecting #4/Foto: Maria Diva
Jakarta -

Venue temaram berukuran kecil, dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai usia. Di panggung yang hampir tidak berjarak dengan area penonton, para penampil memainkan set lagunya bergantian sambil berinteraksi dengan crowd. Rasanya, setting seperti ini adalah yang paling ideal dalam menyaksikan pertunjukan musik secara langsung. Pada hari Minggu (2/6) kemarin, venue musik Krapela di Jakarta Selatan menjadi latar bagi perhelatan seperti ini; Recollecting #4.

Recollecting #4: Menyambut Senin dengan Musik

Seperti yang tertulis dalam namanya, perhelatan ini merupakan kali keempat Recollecting diadakan. Seri konser intimate yang digagas oleh Sajama Cut ini merupakan ruang bagi mereka untuk memberikan spotlight sekaligus bersenang-senang bersama band atau penampil lain yang memang mereka sukai. Kali ini, Sajama Cut dibantu oleh co-headliner Alpha Mortal Foxtrot bersama Yakapin—yayasan bentukan mereka yang kerap mendukung berbagai inisiatif dalam skena musik independen.

Setelah sempat tertunda selama sekitar 40 menit, Alpha Mortal Foxtrot pun membuka penampilan malam tersebut. Unit alt-rock dengan tiga orang gitaris tersebut bermain dengan rapi dan calculated—kontradiktif dengan pernyataan sang vokalis, Wiku Anindito, yang mengungkapkan bahwa mereka telah lama tidak bermain langsung. Suara gitar yang padat dan layered memberikan Alpha Mortal Foxtrot karakter yang distingtif.

Setelah berbagai lagu tentang kondisi mental dan beratnya keseharian, Wiku berkata bahwa mereka telah meminta izin terlebih dahulu kepada Marcel Thee—vokalis Sajama Cut—untuk membawakan lagu berikutnya, sebelum memainkan "Season Finale" dari album 2005 Sajama Cut, The Osaka Journals. Alpha Mortal Foxtrot pun mengakhiri penampilan mereka sambil memberikan shoutout bagi band-band selanjutnya, yang dua di antaranya datang dari luar kota.

Memiliki basis paling jauh dari Jakarta, penampilan Skandal menjadi salah satu yang paling ditunggu oleh penonton. Tidak butuh waktu lama, ketika intro "Mimpi" mulai dibawakan oleh band asal Yogyakarta ini, penonton pun serentak sing-along "aaaaa..." tanpa perlu dikoordinasi. Di bagian lain set, penonton juga menepukkan tangan sesuai ritme dan cue dari lagu-lagu yang dibawakan.

Dengan sound gitar yang renyah dan melodi yang catchy, agaknya lagu-lagu dari Skandal bisa dideskripsikan dengan kata "cerah". Dari panggung, vokalis Yogha Prasiddhamukti juga sempat menyapa para penonton sambil bercanda mengenai nama apa yang cocok untuk pendengar Skandal, sebelum menyebut "Lemonisti" yang sepertinya mengambil referensi dari pendukung klub bola asal Italia, AC Milan. Setelahnya, "Lemon" pun dibawakan.

Jika Skandal telah menyulut energi penonton, maka puncaknya ada ketika penampilan Dongker. Recollecting #4 menjadi panggung pertama Dongker di Jakarta pasca perilisan Ceriwis Necis, full album perdana mereka. Dengan gabungan antara lagu-lagu lama yang telah familiar dan lagu-lagu baru, set Dongker menunjukkan dengan jelas progresi musik mereka. Lagu-lagu dari Ceriwis Necis yang dibawakan memiliki struktur yang lebih kompleks dibandingkan dengan EP dan single terdahulu mereka. Musik Dongker pun terdengar lebih murung dalam beberapa bagian, namun Dongker tidak pernah kehilangan sense of humor mereka yang optimis.

Setelah energi terkuras dan keterlambatan set memaksa sebagian penonton untuk pulang, mereka yang tersisa justru menunjukkan devotion-nya lebih kentara ketika sang penggagas acara, Sajama Cut, tampil. Dari belasan orang yang berada di barisan terdepan, suara mereka menyanyi bersama tiap penggalan lirik tidak kunjung mereda. Mulai dari seorang penonton yang tengah mimisan namun tidak pernah berhenti menggerakkan badannya, hingga penonton lain yang bahkan lebih hafal lirik tiap lagu dibanding sang vokalis sendiri, nama "Cult" memang layak disematkan bagi pendengar Sajama Cut.

Lagu demi lagu dari album Godsigma dibawakan secara penuh, namun "Terbaring di Pundak Pesawat, Termakan Api, Terlentang, Tersenyum" yang merupakan track terakhir album tersebut tidak menutup set. Setelahnya, Sajama Cut membawakan beberapa lagu dari album Manimal, The Osaka Journals, bahkan Apologia. Menjelang akhir dari set, Marcel pun menyatakan bahwa kita yang berada di sana, walau tidak saling kenal, semuanya merupakan manusia yang bisa merasa sedih, senang, dan kesal masing-masing. Namun, di momen-momen bersama seperti inilah semua barrier antara kita bisa melebur. Di tengah kumpulan manusia yang telah serak dan berkeringat, pernyataan tersebut pun saya amini sepenuh hati. Rasanya, Senin yang menjelang pun tak begitu buruk.

(alm/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS