Interest | Art & Culture

Review Sara: Pergulatan Identitas dan Kompromi Terhadap Hidup

Rabu, 28 Feb 2024 19:00 WIB
Review Sara: Pergulatan Identitas dan Kompromi Terhadap Hidup
Foto: Bosan Berisik Lab
Jakarta -

Menginjakkan kaki di kampung halaman selalu menimbulkan reaksi emosional yang mendalam bagi mereka yang merantau. Alasan perantauan yang berbeda bagi setiap orang tentu juga memberi reaksi emosional yang unik terhadap individu tersebut. Ini pula yang dialami oleh karakter titular dalam film Sara (2023), seorang transpuan yang kembali ke kampung halaman setelah lama merantau untuk mengunjungi pemakaman ayahnya. Pertama ditayangkan pada 28th Busan International Film Festival, Sara tayang perdana di Indonesia pada Plaza Indonesia Film Festival, Selasa (20/2) lalu.

Review Sara

Digarap oleh sutradara Ismail Basbeth, Sara memiliki fokus cerita yang terhitung "kecil". Narasinya tidak melebar jauh dari perjalanan personal Sara (Asha Smara Darra) dalam menemui kembali lingkungan dan kehidupan yang ditinggalkannya bertahun-tahun lalu. Selain kematian ayahnya, ia juga harus menghadapi bahwa ibunya, Muryem (Christine Hakim), mengalami hilang ingatan karena shock atas kepergian sang suami. Dalam situasi seperti ini, Sara yang telah menjadi "asing" bagi ibunya harus menemukan kembali sesuatu yang bisa menghubungkannya.

Tanpa ego, Sara memperkenalkan diri dengan deadname-nya, Panca, pada sang ibunda. Sia-sia, karena sang ibu meyakini bahwa Panca telah meninggal di perantauan. Ia bahkan tidak percaya bahwa suaminya telah meninggal dunia. Langkah selanjutnya yang dilakukan Sara lewat berpura-pura menjadi keponakan Ustaz Said (Landung Simatupang), Imam di masjid kampungnya, yang datang untuk merawat Muryem.

Ketika menemani ibunya sebagai Sara tidak cukup mengobati kesedihan Muryem, Sara pun mengambil langkah drastis. Ia meminta bantuan pada Ayu (Mian Tiara), sahabat masa kecilnya, untuk mencukur rambutnya agar ia bisa berpura-pura menjadi sang ayah, Muh. Bahagianya sang ibu mesti ditukar dengan identitas lain yang kini harus diperankan oleh Sara. Meski membohongi diri sendiri dan sang ibu, tampak bahwa ada rasa bahagia juga dari dalam diri Sara, yang kini bisa kembali dekat dengan Muryem. Namun, sampai kapan kebohongan ini bisa berlanjut?

Walau mengangkat konflik internal seorang transpuan, Sara tidak berkutat pada isu persekusi. Penolakan terhadap identitas Sara tidak pernah diperlihatkan secara hostile, walau sejak awal film terdapat jarak yang tidak terlihat antara Sara dan lingkungan di sekitarnya. Gestur-gestur halus seperti kebingungan Sara mengenai barisan mana yang perlu ditempatinya saat salat berjamaah di masjid, turut memperdalam pergolakan internal Sara.

Bahkan ketika warga setempat menyampaikan keresahan mereka terhadap kehadiran Sara di masjid, tone yang dibawa tidak bernada konfrontasional, melainkan tetap halus-bahkan dengan sentuhan empati. Meski tidak bisa saling mengerti, terdapat rasa hormat di antara Sara dan lingkungannya.

Pada satu momen pivotal di film ini, pencarian Sara terhadap acceptance sang ibu ditampilkan dengan perih dan efektif. Baik sebagai Sara, Panca, atau Muh, yang ia inginkan sebenarnya hanyalah agar sang ibunda bisa melihatnya kembali. Pada akhirnya, Muryem yang membalas keinginan Sara secara tidak kondisional pun tidak pernah menyatakan, apakah yang dilihatnya adalah Sara, Panca, atau Muh, namun resolusi yang ada harus diterima semua orang.

Dalam film yang mengalun tenang dan understated ini, seluruh konflik implisit berperan dalam membangun betapa kompleksnya pergolakan di dalam diri sendiri, serta orang-orang (yang seharusnya) paling dekat dengan kita. Terkadang, menghindari konfrontasi dan berkompromi bisa membantu kita menemukan kedamaian, serta jalan pulang.

(alm/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS