Interest | Art & Culture

Mengapa Valentine Harus Selalu 'Manis'?

Rabu, 14 Feb 2024 14:17 WIB
Mengapa Valentine Harus Selalu 'Manis'?
Foto: Unsplash
Jakarta -

Bunga dan cokelat merupakan dua hal yang sering diasosiasikan bahkan menjadi simbol Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Mungkin pertanyaan mengenai kenapa Valentine selalu identik dengan cokelat jarang terlintas di kepala kita karena entah bagaimana hal tersebut sudah menjadi sebuah kultur yang berjalan bertahun-tahun. Tradisi memberikan makanan manis seperti cokelat merupakan kebiasaan yang sebenarnya tidak setua Hari Valentine itu sendiri.

Melansir Britannica, sejarah Hari Valentine itu sendiri dikatakan berawal dari sebuah legenda Santo Valentine yang menentang perintah kaisar Claudius dengan diam-diam menikahkan pasangan-pasangan untuk menyelamatkan para suami dari perang. Karena alasan inilah hari rayanya dikaitkan dengan cinta.

Tulisan pertama yang menyebutkan Hari Santo Valentine sebagai hari perayaan cinta ditulis oleh Geoffrey Chaucer, seorang penyair Inggris, pada tahun 1382. Pada abad ke-14, ikon yang melambangkan cinta mulai muncul. Seperti ksatria yang memberikan bunga kepada kekasih mereka dan menyanyikan lagu cinta. Namun, pada saat ini gula masih merupakan barang berharga di Eropa, sehingga tidak ada kebiasaan pertukaran hadiah permen atau makanan manis.

Pada tahun 1840, gagasan Hari Santo Valentine dirayakan sebagai hari kasih sayang di hampir semua negara yang berbahasa Inggris. Para Victorian menyukai gagasan ini dan merayakannya dengan saling memberi hadiah. Kemudian, datanglah Richard Cadbury, yang keluarganya berasal dari Britania yang memproduksi cokelat, sedang mencari cara untuk menggunakan mentega kakao murni yang diekstraksi dari proses yang Cadbury ciptakan untuk membuat minuman cokelat yang lebih enak.

Solusinya adalah "makanan cokelat," yang dia bungkus dalam kotak-kotak cantik yang dia rancang sendiri. Richard Cadbury yang merupakan seorang jenius dalam hal pemasaran mulai menaruh gambar cupid dan bunga mawar di kotak-kotak berbentuk hati pada tahun 1861. Bahkan ketika cokelat telah dimakan, orang bisa menggunakan kotak-kotak cantik itu untuk menyimpan kenang-kenangan seperti surat cinta.

Komersialisasi Hari Valentine berkembang pesat di Amerika pada awal abad ke-20. Pelopor cokelat Milton Hershey memulai sebagai pembuat karamel, tetapi pada tahun 1894 mulai melapisi karamelnya dengan cokelat manis. Pada tahun 1907, Hershey memulai produksi "kisses" berbentuk tetesan air mata, yang dinamai karena suara ciuman yang dihasilkan oleh cokelat saat diproduksi. Diproduksi massal dengan biaya terjangkau, Hershey Kisses itu diiklankan sebagai "makanan yang paling bernutrisi."

Namun, terlepas dari sejarah bagaimana Hari Valentine selalu diasosiasikan dengan cokelat, makanan manis yang satu itu memang memiliki kandungan yang dapat membuat Hari Valentine menjadi lebih menyenangkan karena rasanya yang manis.

Cokelat itu sendiri telah dianggap sebagai afrodisiak sejak zaman Aztec. Afrodisiak itu sendiri merupakan sebuah zat yang dapat membuat seseorang memiliki keinginan untuk beromansa. Bahkan, sebuah studi mengungkap bahwa wanita yang makan cokelat dikatakan menunjukkan lebih banyak keinginan untuk romansa dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya. Sehingga, memberikan cokelat pada Hari Valentine bukan hanya sebuah tanda cinta, melainkan sebuah cara untuk mengekspresikan keinginan dan membangkitkan mood seseorang untuk beromansa.

Secara universal, makanan manis memang kerap dianggap sebagai makanan yang dapat membuat perasaan atau mood seseorang menjadi lebih baik. Terlepas dari fakta sainsnya, makanan manis juga dapat menjadi bentuk bahaya tersendiri terhadap kesehatan. Jadi, perlu diingat kembali apabila ingin merayakan Hari Valentine dengan penuh kebahagiaan, jaga juga konsumsi cokelat yang sudah menjadi identitas Hari Valentine agar kebahagiaan tersebut dapat terus menerus dirayakan setiap tahunnya oleh orang-orang terkasih.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS