Interest | Art & Culture

Behind the Scene Ariel Nayaka Tentang Culture Shock

Rabu, 25 Oct 2023 18:52 WIB
Behind the Scene Ariel Nayaka Tentang Culture Shock
Foto: Instagram @arielnayaka
Jakarta -

Genre hip-hop di Indonesia memang selalu ada di balik tirai industri musik lokal. Semuanya selalu fokus dengan pop yang diterima hampir semua kuping masyarakat, atau langsung bergerak di bawah tanah dengan lagu-lagu musisi indie. Sebaliknya, hip-hop Indonesia hanya jadi anak tiri yang punya pendengar tetap, tapi sulit mendapatkan pendengar baru. Beruntung, mati surinya hip-hop tidak pernah terlalu lama.

Bisa dibilang tahun 2015 ke atas menjadi panggung utama dari new wave of Indonesian hip-hop. Penggeraknya memang kebanyakan anak Jakarta Selatan yang berada di dalam payung yang sama, bahkan dalam satu kolektif bareng. Salah satunya adalah Ariel Nayaka yang bisa disebut sebagai rapper paling konsisten dalam new wave of Indonesian hip-hop.

Perkenalan pertama dengan Nayaka dimulai saat mendengar lagu "Die Rich" yang berkolaborasi bersama Ben Utomo. Saat itu, semuanya terasa surreal. "Akhirnya ada rapper berbahasa Inggris yang mulai kelihatan nih," pikir saya. Berangkat dari sana, ada secercah harapan bagaimana musik hip-hop lokal bisa kembali mencuat walaupun masih digempur genre musik lainnya.

Pada kenyataannya, ada rumus yang bisa dipahami tentang kenapa pendengar rapper lokal terkenal cuma itu-itu saja. Selain banyak yang masih terasa asing di kuping, terkadang muncul ejekan bagaimana style hip-hop sekaligus gaya hidupnya di luar sana yang lumayan tidak relate dengan masyarakat Indonesia. Bahkan, penggunaan bahasa Inggris untuk lirik pun juga sempat dianggap "terlalu asing" atau "Jaksel banget".

Nayaka pun melihat pernyataan itu dari sisi berbeda. Sebagai rapper, ia berusaha menjadi dirinya sendiri, yang terus ia buktikan selama lebih dari delapan tahun berkarya. "Hip-hop itu [soal] keeping it real. Gue ngomong Inggris-Indonesia bukan karena sok Jaksel whatever, tapi memang ini cara gue komunikasi setiap hari."

Sikap stay true dan keep it real memang jadi nilai langka di hip-hop. Beruntung, Nayaka tidak pernah lupa dengan roots-nya sendiri. "Gue nggak pernah gabung Cul De Sac, tapi gue temenan sama mereka semua. Kalau mereka bikin event, gue juga sering datang sampai perform. They are my homies," jelas Nayaka saat ditanya awal karirnya bareng kolektif Cul De Sac yang menjadi salah satu penggerak new wave of hip-hop pada masanya.

Long story short, kini Nayaka yang kita tahu sudah menjadi bagian penting dari cerita hip-hop Indonesia dengan beberapa album, EP, hingga single. Pada 27 Oktober 2023 ini, Nayaka juga sudah mengumumkan album terbarunya bertajuk Culture Shock. Misi dari mantan vokalis band metal Jacobs in the Trunk untuk album ini terasa sangat jelas saat bertemu dengannya pada satu bulan lalu untuk membahas karier hingga seluk-beluk full album kelimanya.

Kenapa dari metal ke hip-hop?

Gue [sewaktu] kecil di Houston, kan. Sejak awal gue di sini, semuanya dengerin hip-hop. Pas pindah balik ke Jakarta, gue mau coba fit in dengan pergaulan di sini. Waktu itu lagi ramainya Black Parade dari My Chemical Romance. Gue dengerin itu semua, jadi ya sudah, biar fit in. Akhirnya nge-band tuh, tapi musik yang gue bawa lebih ke Rage Against The Machine, Slipknot-jadi sudah ada akar hip-hop-nya juga.

Pindah ke hip-hop baru pas akhir SMA. Zaman masih nongkrong di dekat sekolah, ada yang jago beatbox. Jadi kayak bikin freestyle kecil-kecilan sama teman-teman gue. Terus gue pikir, 'Wah, kayak pas gue di Amerika nih.' Yang lain cuma iseng doang, tapi gue malah keseriusan sendiri. Pas pulang ke rumah, gue langsung nulis, nyari-nyari beat. Nah zaman kuliah, gue masuk Jacobs in the Trunk. Itu vokalis sebelumnya Matter Mos, kan. Jadi pas dia cabut, gue masuk. All great memories, tapi band ini akhirnya selesai. Nggak officially bubar, tapi mereka kan lebih tua daripada gue ya, jadi pada sibuk masing-masing.

And then gue balik ke hip-hop. Gue tuh ada album Sleepless Nights. Ini so cringe, makanya gue nggak mau dengerin ke lo juga hahaha. Cuma teman-teman gue yang dengerin, dan mereka pengen gue lebih serius ke hip-hop juga.

Pas gue student exchange ke Jerman selama enam bulan. Di situlah gue bikin Curriculum Vitae. Greybox sempet kirim beat, BAP. waktu masih pake nama Yosugi juga ngirimin beat. Gue kenal doi dari aplikasi Line by the way. Pas balik ke Jakarta, gue kelarin itu album terus langsung upload ke Spotify pas tahun 2016.

Emir Hermono abis itu kontak gue, yang akhirnya jadi "3 AM in Jakarta". Itu sih yang bikin gila, apalagi Rayi Putra juga hubungin gue buat bikin "+021". Bahkan album Curriculum Vitae sampai masuk top 20 album 2016 dari Rolling Stone Indonesia. Ngalahin Dewa Budjana!

Masa itu gue bilang sebagai new wave of hip-hop. Ada lu, BAP., Basboi, Laze, Matter Mos, even Abim (Noise From Under). Semuanya muncul circa 2016-2018.

Iya bisa dibilang kayak gitu, cuma agak sayangnya, ada "polisi tidur" bernama pandemi. Itu sih huge speed bump for the whole scene. Tapi at the end of the day, scene ini kayak diayak gitu gara-gara pandemi. Siapa yang masih keliatan, siapa yang masih survive juga.

Nah long story short, kenapa lu rilis album Cold Cuts yang tiba-tiba drill music gitu?

Sebenarnya itu nurutin BM gue aja sih. Pas pandemi, gue lagi dengerin banget UK drill. Lebih kena saja ke gue. Terus, gue pengen prove to everyone kalau walaupun gue masuk label [Def Jam Asia], gue tetap bisa do what I want. Banyak yang bilang ke gue kalau masuk label, bakalan dikontrol. Nah, jadi Cold Cuts buat prove to everyone kalau boleh bikin album yang "kiri" banget di label kayak gini.

Gue liat lu termasuk yang produktif kalau dibandingin sama rapper Indonesia yang lain.

Gue tuh bikin musik cuma buat "bikin" doang. Bagi gue, bikin musik itu udah kayak therapy session. Apalagi studio gue tuh ya di kamar gue sendiri. Bangun tidur, gue langsung ngelihat studio. Jadi kalau lagi good mood, I'm making music. Like everyday, like my shrink. Klise, tapi gue bener-bener pingin selalu buat musik. Kadang bisa seharian di studio tapi nggak jadi apa-apa.

Tapi sering juga seharian terus jadi lagu, kayak "Orang Lain" dan "Marila Berdansa". Dua lagu itu gue bikin in one sitting, ada hook dan verse-nya. Jadi SonaOne [rapper/producer dari Malaysia] kirimin beat pack isi five beats. Gue buka, terus langsung ngerjain "Orang Lain". Same thing with "Marila Berdansa". Gue nggak copot headphone, nggak keluar kamar. Dan langsung jadi tuh.

Lu tuh introvert ya? Karena gue ngelihat kayak "lu suka banget di studio".

Sebenarnya gue tuh extrovert. I have ADHD. Gue clinically diagnosed with ADHD. Gue diagnosed pas umur 12 di Amerika. Waktu mau dikasih obat, nyokap nggak setuju. Nah makin parah kan, tuh. Kemudian balik ke Indonesia, 2018 gue disuruh cek lagi. Ternyata it's getting worse-kayak gue nggak bisa berhenti ngomong, nggak bisa diam. Dan nyokap bilang gue harus live with it. Jadi ya sudah, gue mencoba untuk punya mindset kayak gitu.

Gue pun nggak minum obat. Makanya gue lebih milih exercise kayak sepeda tiap hari like 15 minutes. Itu bantu gue biar lebih tenang.

Dari sekian banyak karya lu, ada yang bahas ADHD?

Nggak ada yang secara spesifik, tapi kalau lu ngelihat cara gue bikin lirik tuh kayak dengar orang ADHD ngomong. Kalimat pertama ngomong A, terus kalimat selanjutnya ngomong yang lain. My mind is just scattered. Cuma Kanye pernah ngomong gini di interview, "If you hear me talking it may seem scattered like some instruments. But if you look at the bigger picture, it's actually a symphony."

Jadi apa yang lu dengar dari gue, harus dilihat dari macro perspective. Kalau lu cuma lihat dari micro perspective, "Ini orang ngomong sana-sini doang". Tapi kalau dari macro perspective, lu bakal paham sama apa yang mau gue sampaikan.

Apa yang udah didapet dari karier lu selama ini?

Yang nomor satu approval dari orang tua sih. Mereka sangat suportif. Nyokap gue sih tetep [ngomong] education is number one, harus kelarin kuliah juga. Jujur, gue nggak lulus kuliah karena music just happens too fast. Setidaknya, sekarang gue sudah dapat approval dari orang tua secara verbal sih-sudah cukup.

Jadi gini ceritanya, pas AMI 2018 yang gue menang sama Dipha Barus, harusnya tahun itu gue lulus kuliah. Ceritanya gue lagi skripsi. Nyokap gue tahunya gue lagi skripsi, padahal lagi bikin album. Sudah diingatkan sama dia kalau tahun ini tuh my graduation year pas awal tahun 2018.

Nah dari sana, gue punya misi khusus pas bikin Cadence Blue. Beruntungnya, bisa masuk Album Terbaik pas AMI 2018. Walaupun kalah, tapi sampai sekarang, Cadence Blue adalah album full English yang bisa masuk kategori tersebut, dan belum terpecahkan juga. The one and only. Intermezzo, gue rasa BAP. bisa masuk ke kategori yang sama dengan Cadence Blue. MOMO'S MYSTERIOUS SKIN itu anjing sih.

Nah pulang dari AMI 2018, gue jujur sama nyokap soal semuanya. Tapi karena liat gue menang sama Dipha Barus, dia akhirnya percaya sama apa yang sudah gue jalani selama ini. That's the biggest achievement in my career.

Jadi gimana kabar album lu, Culture Shock? Masih ada drill?

Hahaha, drill udah nggak ada sih karena pas kemarin gue bikin Cold Cuts, it's done for that kind of music. Nah, album baru gue ini sudah gue dengerin ke beberapa orang. Rata-rata mereka bilang, "Gue nggak pernah dengar sound ini." Pastinya masih ada influence UK garage, Jersey club type beat di sini. Cuma dari mereka yang sudah dengerin, kayak Laze, SonaOne, produser, Joe Flizzow, mereka semua kayak nggak tahu gue ambil influence dari mana.

Emang nggak ada influence pasti yang gue masukin di album ini. Kalau lu dengar Cadence Blue, di situ gue pingin jadi Drake. Terus kalau lu dengar Cold Cults, gue pengen jadi UK drill artist. Tapi ini tuh kayak akumulasi dari semua yang gue dengerin. Ada hip-hop, Pink Floyd, Rage Against the Machine. Gue memang nggak berpatokan sama satu orang atau sound.

Kebetulan gue bikin album ini pas lagi di Bali awal tahun ini. Gue tiga bulan stay di sana, ngajak Greybox buat ikutan juga. Selama tiga bulan, dimulai dari setting semua jadi studio, lalu dimulai from scratch. Beat dibikin semua di sana, mostly sama Greybox dan Jerome Toshiki. SonaOne juga ikutan tapi cuma di dua lagu pertama: "Track 01" dan "Marila Berdansa".

Konsep Culture Shock ini kayak gimana?

Jadi habis Cadence Blue rilis, gue tuh sudah tahu next album bakalan kayak gimana. Gue mau pakai nama Culture Shock karena pengen cerita masa kecil gue sebagai a culturally shocked kid. Cuma waktu itu udah ada Culture Shock 1.0 yang full on English yang kayak biasa gue bikin. Pas zaman pandemi, gue mulai switch ke bahasa Indonesia kan karena bosan sama apa yang biasa gue bikin sebelumnya. Makanya rilis "Orang Lain" dan "Marila Berdansa". Karena sudah mulai nyaman dengan style itu, akhirnya gue fitting konsep ini ke Culture Shock dengan style bilingual. Akhirnya semua mulai from scratch di Bali itu.

Banyak feature di Culture Shock?

Ada beberapa lagu yang punya feature di sini. Dari Indonesia itu cuma Ben Utomo dan Basboi doang. Sisanya ada some of Def Jam's artists, terus ada yang lain juga. Basically gue nyari feature di album ini tuh emang yang bisa genuinely nyambung dengan tiap lagu. Kalau memang mau langsung booming, ya gue tinggal minta Alyph aja.

Gue ada Monica Karina di sini, tapi cuma buat layering background aja. Awalnya dia ngisi verse, dan gue bilang, "Verse lu keren Mon, tapi kayaknya lu bakalan gue jadiin background sound doang deh hehehe." Jadi banyak pengorbanan yang gue lakukan di sini. Gue nggak pengen cuma karena nama besar doang, terus langsung gue ajak. Semuanya beda di sini.

Apa misi utama di album ini?

Misi gue tuh pengen ngasih lihat, "Gue adalah contoh nyata manusia yang grow up pindah-pindah tempat." Itulah kenapa namanya Culture Shock. Banyak kasus orang Indonesia yang lahir di luar negeri, terus balik ke sini, dan akhirnya nggak bisa bergaul, terus ujung-ujungnya malah depressed. "Kok gue nggak kayak yang lain ya?"

Album inilah yang ngasih contoh gimana itu semua terjadi. Dari bahasa yang gue pakai, sound yang beragam. It's okay to be different. Semuanya lebih bagus karena kita berbeda-beda, daripada lu malah sama kayak orang lain terus. Intinya, Culture Shock bukan soal bahasa doang, tapi sound-nya juga dengan UK garage, dancehall, sampai hip-hop yang juga di-highlight. Album ini jadi melting pot dari semuanya.

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS