Interest | Art & Culture

Kembali Mendengar Cerita Para "Juru Keker" di KOPDAR StageID

Kamis, 27 Jul 2023 18:00 WIB
Kembali Mendengar Cerita Para
Foto: Dokumentasi StageID
Jakarta -

Siapa yang menyangka kalau nada-nada gemerlap para musisi dari atas panggung mampu beralih ke satu medium abadi berisi estetika? Tangkapan aksi para musisi yang kini turut beredar luas di media sosial tersebut bahkan merupa satu hal penting lainnya: karya fotografi, yang semakin memantapkan citra objeknya pada ruang dan waktu berbeda.

Kiranya, itulah berkat utama dari kegesitan seorang fotografer, yang setia berdiri mengalungi lensa di bibir panggung; memburu gerak-gerik para penampil setiap detik agar tak kehilangan momen, selagi memperpanjang rona-rona para artis ke satu gambaran seni yang sarat makna.

Penanjakan peran hingga derajat seorang juru keker, khususnya yang bertugas di sekitaran panggung ini bahkan telah sampai ke barisan terdepan dunia pertunjukan. Tanpa mengurangi kecakapan masing-masing stage photographer juga aksi ikonik para musisi, agaknya hal ini menjadi satu dampak positif yang lahir dari gerakan kolektif awak fotografer panggung di Indonesia, yang tergabung ke dalam komunitas StageID.

[Gambas:Instagram]

Berdiri sejak tahun 2011, StageID yang berangkat dari sekumpulan fotografer yang kerap bertugas bersama di sebuah pertunjukan musik terus melebarkan sayapnya hingga menjamah lebih banyak pelaku. Komunitasnya pun telah menyebar ke penjuru Indonesia, terlihat dari kemunculan beberapa chapter StageID di sejumlah kota-kota besar—selain Jakarta.

Di samping mewadahi dan menyalurkan para juru keker pertunjukan musik, awak fotografer StageID juga konsisten menuangkan semangat serikatnya melalui deretan sharing session bertajuk KOPDAR StageID, yang melibatkan banyak praktisi fotografi, dengan berbagai macam pokok bahasan setiap satu bulan sekali.

Hanya saja, sejak perdana dihelat tahun 2015 silam, KOPDAR StageID yang sempat intens di kanal digital sewaktu pandemi malah terbilang angin-anginan. Sebelum benar-benar diadakan kembali pada hari Senin (24/7/2023) malam, di Auditorium SAE Indonesia, Jakarta Selatan, sesi offline KOPDAR StageID sendiri sempat absen setahun lamanya.

Kopdar StageIDSuasana KOPDAR StageID di Auditorium SAE Indonesia, Jakarta (Senin, 24/7/2023)/Foto: Dokumentasi StageID/M. Tubagus Rizky

Walaupun demikian, kebermanfaatan sesi temu antara sesama fotografer panggung yang bukan di habitatnya tetap layak dinantikan. Dan terbukti, pada edisi terbarunya, KOPDAR StageID langsung menampilkan dua fotografer muda bertalenta: Martinus Ragita dan Geri Laksamana, dimoderasi oleh fotografer kawakan, Narendra Kameshwara. Pada kesempatan kali ini, Martinus dan Geri membagikan kisah dan pengalaman karier masing-masing kepada para audiens yang telah terduduk rapi di dalam auditorium, sejak acara KOPDAR StageID paling anyar dimulai pukul setengah delapan malam.

Hijrahnya Seorang Fotografer
Martinus Ragita dikenal publik lewat karya-karya eksperimentalnya untuk Lomba Sihir. Pencapaian lain dari Cah Kebumen ini berupa karya potretnya untuk Sheila on 7, waktu menggelar konser tunggal "Tunggu Aku di Jakarta" awal tahun 2023 kemarin. Sebelum mencapai titik ini, pria yang akrab disapa Martin tersebut mengawali kariernya sebagai fotografer pribadi untuk keluarga musisi Ditto Percussion dan Ayudia Bing Slamet.

Martin kecil sebenarnya telah mencicil kariernya sedari duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, kisaran tahun 2013. Sewaktu mengenakan seragam putih-abu-abu, kegemarannya mengutak-atik kamera hasil lungsuran sang kakak semakin terbentuk. Terlebih ketika, ia mulai dipercaya menjadi fotografer resmi untuk band ska andalan sekolahnya. Eksplorasi Martin akan teknik-teknik fotografi pun semakin berkembang.

Laun waktu berjalan, dirinya yang haus jam terbang sampai-sampai nekat menerobos area pit—pada sejumlah gigs dan pensi yang digelar di sekitaran Jawa Tengah, termasuk di kampung halamannya, Kebumen. Tak henti di sana, skill dan adrenalin Martin sebagai seorang pengabadi momen juga naik satu level, ketika ia terjun menjepret berbagai event olahraga. Berbekal kegigihan dan kecintaannya terhadap fotografi, Martin lantas memberanikan diri hijrah ke ibukota, Jakarta.

Kopdar StageIDMartinus Ragita (kiri) dan Narend Kameshwara berbincang di KOPDAR StageID, Auditorium SAE Indonesia, Jakarta (Senin, 24/7/2023)/Foto: Dokumentasi StageID/M. Tubagus Rizky

"Dulu tuh aku pikir, mungkin di kota besar seperti Jakarta akan ada lebih banyak peluang [untuk menjadi fotografer profesional]. Ya, mungkin di Jogja juga bisa ya, tapi hatiku kayak yakin saja buat pergi ke Jakarta," tutur Martin. "Terus di sini [Jakarta] ada banyak panggung-panggung besar, dan bisa ketemu teman-teman StageID juga kan, kebetulan aku waktu itu sudah tahu StageID."

Dan, benar saja. Di Jakarta, harapannya tidak bertepuk sebelah tangan. Martin semakin dekat dengan apa yang ia impikan, usai menjadi anggota media kampus di salah satu universitas multimedia yang bermukim di pinggiran kota metropolitan—tempatnya kuliah. Pintu menuju panggung-panggung megah pun terbuka lebih lebar, tanpa mengurangi kegemarannya saat memotret momen-momen olahraga. Ia kemudian bergabung bersama teman-teman The Beautiful Game, yang kebetulan menjadi langganan JKT69, tempat ia dipertemukan dengan Ditto Percussion oleh salah seorang kenalan.

Meski sempat berjalan dua kaki—demi mengakali uang saku yang terbatas dan cicilan kamera dari kartu kredit kakaknya—Martin tidak memungkiri kalau pundi-pundi sebagai sports photographer lebih terasa mumpuni walau melelahkan. Kemudian, demi melengkapi jawaban untuk pertanyaan menodong dari Narend soal, "lebih enak stage photography atau sports photography", Martin meyakinkan kalau saat ini ia lebih nyaman bekerja sebagai juru keker panggung.

Di masa mendatang, fotografer Raissa Anggiani itu juga mengungkap kalau dia ingin terus memotret momen para musisi, "kalau bisa sampai pergi ke luar negeri," tukasnya, sambil tertawa malu-malu. Ia juga menyadari, kalau daya upaya dalam mewujudkan ambisinya tidak akan mudah. Karenanya, Martin berkomitmen untuk tidak mudah puas, terus bereksplorasi, dan berani mengambil dan mempertanggungjawabkan kesempatan saat memotret.

[Gambas:Instagram]

"Pawang" Dara-dara Bertalenta
Lain dari Martin yang harus bertandang ke ibu kota demi karir fotografinya, Geri Laksamana sebagai akamsi ternyata memiliki pengalaman yang lebih nekat. Sebagai latar, Geri yang berasal dari Bekasi ini merupakan fotografer andal bagi sederet musisi perempuan kenamaan. Namun, jalan Geri sebagai fotografer panggung tak luput dari lika-liku, lubang, hingga bebatuan. Percaya atau tidak, jalannya pun panjang, sedikit macet, dan agak berputar-putar, persis rute Bekasi menuju Jakarta.

Rekam jejak awal karir Geri pun bisa dilihat dari banyaknya batu lompatan yang dilakukan oleh pria yang hobi mengenakan topi tersebut. Mulai dari bekerja paruh waktu sebagai kontributor foto merangkap penulis dadakan di media online waktu belajar broadcasting, sampai menjajal diri sebagai food photographer selama dua bulan selepas lulus kuliah.

"Waktu awal disuruh kuliah, gue sengaja pilih broadcast. Soalnya, itu satu-satunya kesempatan buat dibeliin kamera sama orang tua. Ya, sedikit mengancam sih, 'kalau nggak di situ [broadcast], gue nggak mau kuliah' gitu," kata Geri, lalu tertawa.

Lantaran merasa jenuh saat menjadi food photographer, Geri akhirnya memulai satu langkah super berani: mengirim pesan berisi approachment kepada DJ Yasmin via surat elektronik—yang berakhir dengan kemitraan sejak tahun 2016 sampai saat ini. "Tapi waktu awal sama DJ Yasmin itu sempat nombok buat bayar teman gue yang gantiin kerja di resto," kesannya dengan nada konyol. Akhirnya, ia memilih resign agar bisa mengawal DJ Yasmin ke berbagai daerah, baik saat tampil di atas maupun saat bertualang ke luar panggung.

KOPDAR StageIDGeri Laksamana (kiri) memamerkan tangkapan layar berisi email bersejarahnya kepada Narend Kameshwara (kanan) dan audiens di KOPDAR StageID, Auditorium SAE Indonesia, Jakarta (Senin, 24/7/2023)/Foto: Dokumentasi StageID/Syafira Muthiary

Pada langkah selanjutnya, Geri sempat bekerja sebagai fotografer untuk sebuah stasiun televisi. Fase yang digiatinya selama dua tahun ini disebut Narend sebagai satu momen relevan antara pekerjaan dengan konsentrasi studinya, sekaligus menjawab pertanyaan pihak orang tua—yang sempat meragukan pilihan karir Geri sebagai juru keker dan pernah menganjurkannya kerja kantoran, seperti menjadi pegawai negeri sipil.

Menariknya, keputusan Geri berkarir di televisi justru menjadi pintu ajaib pembuka segudang kesempatan lainnya sebagai fotografer panggung. Seperti halnya, punya celah untuk mengabadikan penampilan Hailee Steinfeld; memotret Presiden Jokowi dengan Ibu Negara di Istana Bogor; hingga menjadi fotografer lepas untuk program pencarian bakat model yang bergengsi. Belum selesai di sana, Geri yang sekarang memotret untuk diva-diva muda sekaliber Lyodra atau Mahalini menuturkan kalau kunci awalnya berasal dari koneksi rekan-rekan fotografer, relasi dari waktu bekerja di televisi, ditambah hasil berjejaring dengan sesama fotografer panggung lain yang tergabung ke dalam komunitas StageID.

Untuk pokok bahasan utama mengenai pendekatan dalam mengabadikan musisi perempuan Indonesia, Gery membeberkan cerita di bali spesialisasinya meng-handle musisi perempuan. "Karena dari dulu awalnya motret Kak Yasmin, jadi kayaknya lebih nyaman motret solois perempuan sih. Soalnya kalau [memotret] band, mungkin pressure-nya gede juga kan, harus nge-cover semua personel," imbuhnya. "Paling yang agak merepotkan itu waktu menunggu mereka [talent perempuan] siap-siap, sih. Lama banget soalnya kalau dandan, malah kadang jadi agak mepet buat foto OOTD gitu."

[Gambas:Instagram]

Dalam praktiknya, Geri mengungkap bahwa saat menangani musisi perempuan "Attitude adalah nomor satu. Itu penting banget, gimana caranya membuat mereka merasa nyaman dan percaya sama kita [fotografer]." Selain itu, hal yang perlu dilakukan ketika bersama musisi perempuan adalah bersikap wajar. Maksudnya, meskipun dirinya dan para talent sama-sama suka bercanda, akan lebih baik jika sadar akan batasan-batasan, seperti pandai melihat situasi dan kondisi saat berkomunikasi—termasuk menjaga sikap ketika para talent tengah kedatangan siklus PMS atau menjaga mood mereka. Narend yang telah makan asam garam lalu menambahkan kalau saat meng-handle musisi perempuan, itu wajib wangi. Satu hal yang telah dipraktikkan oleh Geri selama ini.

***

Dua sesi obrolan tersebut berlangsung masing-masing sekitar satu jam lamanya. Selain sama-sama diseling sesi tanya-jawab dengan audiens, Narend yang membuka KOPDAR StageID dengan mengirimkan doa kepada teman-teman StageID yang telah berpulang, khususnya Alm. Ardi Anto (@fotokonser) akhirnya mengakhiri edisi terbaru KOPDAR dengan berfoto bersama, sambil mengingatkan bahwa sharing session ini akan kembali digelar bulan depan, dan tentunya dengan pembicara dan topik yang berbeda.

Informasi lebih lanjut mengenai KOPDAR StageID bisa diakses melalui laman Instagram @stageid, sementara rekaman sesi cerita antarfotografer di edisi KOPDAR StageID terdahulu juga bisa ditonton kembali di kanal YouTube StageID.

[Gambas:Instagram]

(RIA/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS