Interest | Art & Culture

Review I Wanna Dance with Somebody: Indah, Ironis, Tragis

Sabtu, 24 Dec 2022 13:30 WIB
Review I Wanna Dance with Somebody: Indah, Ironis, Tragis
Jakarta -

Film biopic yang menceritakan perjalanan hidup seorang tokoh selalu menimbulkan ketertarikan sendiri. Contohnya bagaimana kehidupan Queen dan sang vokalis Freddie Mercury yang berhasil diceritakan secara tepat dalam Bohemian Rhapsody (2018). Hal yang sama juga ingin dicoba dalam I Wanna Dance with Somebody yang berfokus kepada perjalanan hidup diva asal Amerika Serikat, Whitney Houston.

Mungkin sosok Whitney kurang akrab dengan generasi sekarang, khususnya Gen Z. Mungkin atas dasar alasan itu pula kenapa film ini dibuat. Generasi yang baru menginjak dewasa diharapkan lebih dapat mengenal kehebatan dan kebesaran Whitney yang sayangnya, luntur secara perlahan-lahan di tengah kontroversi yang tragis hingga merenggut kehidupannya.

Konsistensi Suara Emas

Menonton I Wanna Dance with Somebody akan membawa kita ke dalam kehidupan Whitney sejak ia remaja-bagaimana ia sudah menjadi prodigy sejak dini dengan pita suara emas. Di film ini pun diceritakan bagaimana ia sebenarnya sudah memiliki privilege dari sang ibu yang juga sukses sebagai salah satu penyanyi berbakat. Ia juga turut didukung oleh sang ayah yang memiliki jabatan tinggi, hingga akhirnya Whitney merasakan betapa lebarnya pintu terbuka untuknya masuk ke industri musik Amerika Serikat.

Salah satu hal yang paling saya suka ketika menonton film ini adalah bagaimana kita diberikan persembahan suara terbaik Whitney dalam berbagai penampilan di atas panggung. Tentu saja ketika Naomi Ackie memerankan sosok Whitney dan tampil bernyanyi di film ini, suara yang keluar dari speaker merupakan suara asli Whitney. Saya masih ingat, ada momen yang paling membuat merinding sekaligus terharu, yaitu saat ini menyanyikan lagu "Greatest Love of All". Dalam momen itu, penggambaran film ini tentang betapa hebatnya Whitney bernyanyi benar-benar valid 100%.

.Whitney Houston/ Foto: Picture Alliance

Indah Namun Tragis

Setiap biopic yang dibuat untuk menghormati perjalanan karier seorang artis selalu memiliki sisi tragis tersendiri. Hal ini juga tergambar secara nyata dalam I Wanna Dance with Somebody. Kita disuguhkan betapa toxic-nya kehidupan Whitney sejak dini. Saat ia bisa sukses pun, orang-orang di sekitarnya malah memanfaatkan dirinya. Ditambah lagi, dirinya yang kecanduan narkoba juga digambarkan dalam film ini.

Namun saya merasa sutradara Kasi Lemmons tidak ingin terlalu fokus ke dalam kasus-kasus besar Whitney bersama pasangannya, Bobby Brown. Film ini tetap ingin para penonton fokus terhadap kebesaran karier Whitney   untuk hal-hal berbau tragis hanya menjadi selipan semata. Namun, konflik besar seperti dalam pernikahannya masih tetap digambarkan secara gamblang. Kita pun akan merasa kasihan tentang bagaimana Whitney harus jatuh ke lubang kekelaman tanpa bisa mendapatkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya. Walaupun sempat mendapatkan dukungan untuk bisa bangkit, sejujurnya memang sudah terlalu terlambat.

Jalan Cerita yang Cepat

Saya tahu karier Whitney dipenuhi berbagai pencapaian menakjubkan, seperti menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat sebelum Super Bowl 1991. Namun, hampir semua bagian cerita yang ada di dalam film memang terkesan cepat, bahkan bisa dibilang terlalu terburu-buru. Perpindahan plot cerita sangat cepat hingga sempat membuat saya berpikir kenapa sudah sampai di momen tersebut.

Cerita yang cenderung lompat-lompat hanya untuk merangkum karier Whitney memang patut disayangkan. Padahal film ini sudah memiliki durasi 146 menit, alias hampir 2,5 jam. Tapi kesan jalan cerita yang dipercepat masih sangat terasa. Hasil akhir seperti ini cukup disayangkan karena membuat para penonton yang sama sekali tidak sempat merasakan karier Whitney harus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di beberapa bagian film.

Pada akhirnya, apa yang disajikan dalam I Wanna Dance with Somebody sudah cukup baik untuk merekam perjalanan Whitney, sekaligus memperkenalkannya kepada para generasi baru, baik pada saat ini dan waktu ke depan. Indah, karena bisa mengenal karya-karyanya lebih dalam. Ironis, karena baik dan buruk dalam hidupnya merupakan pilihan Whitney sendiri. Tragis, karena Whitney harus merasakan hidupnya ditutup dalam kepahitan.

[Gambas:Audio CXO]

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS