Interest | Art & Culture

Efek Rumah Kaca Gairahkan Malam di 'Lucy in The Sky'

Rabu, 21 Sep 2022 14:00 WIB
Efek Rumah Kaca Gairahkan Malam di 'Lucy in The Sky'
Foto: Riz Affrialdi - CXO Media
Jakarta -

Minggu (18/9) malam di Jakarta yang sedang banjir pentas dan festival, saya berkesempatan menghadiri pertunjukan intim Efek Rumah Kaca (ERK), pada sebuah bar kelas atas di jantung kota metropolitan. Rasanya, pengalaman ini akan menjadi sangat menarik. Sebab, sejauh yang saya ketahui, bar bohemian-tempat ERK manggung malam itu    bukanlah habitat utama bagi lagu-lagu satiris dengan lirik provokatif milik Cholil dan kawan-kawan.

Selama ini, karya ERK memang kadung lekat dengan nilai-nilai perjuangan dan pergerakan. Artinya, jarang sekali diksi puitis dan kritis mereka berperan sebagai pengantar momen "melepas dahaga". Sebagai contoh, sebut saja lagu Di Udara dari ERK, yang seperti wajib dinyanyikan para aktivis setiap aksi kamisan di depan istana, sambil mengepalkan tangan. Oleh karena itu, saya jadi penasaran, mengenai pengalaman atau kesan seperti apa yang bisa ditimbulkan ERK, ketika tampil di hadapan muda-mudi    yang dicap jarang melepas kepal tangan mereka dari gawai dan doyan bersulang.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, akhirnya ERK tampil juga. Persis setelah Hursa, unit 'Pop Turbo' asal Jakarta, yang memperkenalkan ketukan unik pada lagu-lagu mereka. Bagi sebuah intimate showcase yang digelar di pusat sektor hiburan metropolitan, waktu ERK tampil masih terbilang sore    meski aslinya cukup larut malam. Namun secara menyeluruh, 'Lucy in The Sky' malam itu tetap dipadati orang tanpa terasa sesak.

Sebagai pembuka, band yang berdiri tahun 2001 itu melantunkan Biru. Saya rasa, pilihan tembang yang menekankan: "pasar bisa diciptakan" tersebut sangatlah bijak. Mengingat mereka sendiri, sedang tampil di pasar yang sedikit berbeda dari biasa. Setelahnya, Cholil cs. mulai memancing crowd mengangguk dan bernyanyi perlahan lewat Insomnia, juga Seperti Rahim Ibu.

Menariknya, di bar yang penuh kesenangan dunia ini, ERK turut menghadirkan nomor-nomor mereka yang lebih reflektif, dan sarat nilai kedekatan manusia menuju Tuhan. Seperti, Putih, Palung Mariana, dan Lagu Kesepian, yang juga pantas disebut bernuansa muram. Nuansa tersebut baru pecah, ketika Desember dan sehabis hujannya yang ikonik, memantik crowd    yang sedang sibuk dengan hidangannya     kembali bergairah dan bernyanyi bersama.

Malam itu, sebenarnya ERK tampil tanpa song list dan lebih terkesan menuruti permintaan pengunjung. Namun karena sayup yang terdengar kebanyakan meminta Sebelah Mata sedari awal, saya lebih sepakat dengan pilihan Cholil, yang mendahului single anyar: Heroik, yang menghidupkan malam. Di mana warna upbeat andalan ERK, sukses menjingkrak    kan sebagian yang hadir berkat sajian Balerina, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, juga Tiba-tiba Batu.

Sampai titik ini, trio: Cholil, Poppie dan Akbar memang pantas disebut sebagai penampil yang brilian. Maksud saya, meski demand ERK belakangan erat dikaitkan unsur politik, mereka justru memilih materi lainnya yang lebih universal, dan terkesan lebih relate dengan kehidupan kaum urban. Alhasil, tembang seperti Di Udara dan Mosi Tidak Percaya baru dibawakan menjelang akhir aksi mereka di 'Lucy'.

Sehabis itu, ERK kembali memainkan tempo lewat Melankolia, dan menyemarakkan kembali dengan hit Sebelah Mata    yang ikut dinyanyikan hampir seluruh pengunjung malam itu tanpa lupa mengabadikannya di cerita Instagram. Di penghujung penampilan, Laki-laki Pemalu versi Pandai Besi yang menyenangkan dinyanyikan pula, sebelum benar-benar ditutup oleh Cinta Melulu.

[Gambas:Instagram]

Total, 18 lagu dinyanyikan Efek Rumah Kaca malam itu. Meski tidak begitu terasa spesial, penampilan mereka cukup meninggalkan kesan bagi "party people". Misal, tak semua lagu perlu direspon dengan mengangkat handphone. Kadang "tinju" ke udara pun sudah lebih dari cukup. Selain itu, dan yang paling penting, pasar (benar-benar) bisa diciptakan.

Secara keseluruhan, menyaksikan ERK memang tidak pernah mengecewakan. Buktinya pun jelas, meski tidak terlalu akrab, ERK tetap bisa disambut hangat di 'Lucy in The Sky'; sebuah venue yang saya kira cukup istimewa bagi intimate showcase   tanpa jarak berarti antara penampil dengan audiens.

Semoga, intimasi yang muncul di 'Lucy' ini menjadi pertanda baik bagi tipikal pentas di tanah air, yang belakangan cenderung padat dengan festival berskala masif. Di lain sisi, semoga gairah yang dihadirkan ERK malam itu, bisa menjadi momentum baik menuju perilisan album ke-4 mereka, yang sudah dinantikan para Penerka.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)