Interest | Art & Culture

Busting Myths: Bulan Purnama dan Manusia Serigala

Selasa, 19 Jul 2022 18:00 WIB
Busting Myths: Bulan Purnama dan Manusia Serigala
Jakarta -

"Ketika langit menjadi gelap dan bulan purnama memuncak, para serigala akan melolong panjang memecah sunyi malam. Bersama kabut tipis yang hinggap perlahan-lahan, juga dibantu rembulan yang kian benderang, manusia-manusia serigala mulai keluar memangsa setiap makhluk yang berkeliaran."

Sepotong kisah legenda barusan merupakan salah satu cerita mistis yang terus bertahan. Baik sebagai dongeng sebelum tidur, atau dirangkai menjadi sebuah roman populer di novel atau layar lebar. Sebagaimana kisah Jacob dan kawanannya di Seri Twilight, hingga cerita Ganteng-ganteng Serigala yang awet di televisi nasional beberapa waktu lalu. Usut punya usut, mitos satu ini ternyata lahir dari mitologi klasik bangsa-bangsa Eropa, yang menyebut manusia serigala dengan istilah Likantrofi, Lycan, juga Werewolf.

Istilah kata Likantrofi sendiri diambil dari bahasa Yunani Kuno. Tepatnya dari kata lýkos yang berarti serigala, dan anthropos yang berarti manusia. Sedangkan kata Lycan, dirujuk dari puisi seorang penyair Yunani Kuno bernama Ovidius, yang berjudul "Metamorfosis".

.Ilustrasi manusia serigala/ Foto: Pexels

Puisi itu menjelaskan cerita seorang raja barbar asal Arkadia bernama Lycaon, yang suatu ketika tertangkap basah sedang memakan daging manusia. Hal yang membuat Zeus murka itu pun berbuah kutukan, di mana Lycaon diubah menjadi makhluk mengerikan berwujud separuh manusia separuh serigala. Meski dikutuk, Lycaon masih diizinkan bertemu dengan orang-orang dekatnya. Namun, saat bulan purnama tiba, ia akan berubah kembali menjadi seekor serigala besar yang memangsa daging manusia. Itulah kenapa akhirnya Lycaon, sang manusia serigala pertama di dunia lari ke hutan dan mengasingkan diri.

Selain itu, asal-usul legenda manusia serigala juga ditemukan pada era paganisme Jerman dan mitologi Proto-Indo-Eropa. Pada versi ini, lycanthropy (perubahan wujud manusia menjadi monster serigala) ditanamkan sebagai aspek inisiasi bagi kelas prajurit semasa peperangan. Lebih jauh lagi, mitos yang berkaitan antara bulan purnama dengan manusia serigala tidak hanya berputar soal lycanthropy.

.Ilustrasi bulan purnama/ Foto: Pexels

Masih menurut mitologi dan kisah Yunani Kuno, bulan purnama disinyalir dapat mengakibatkan kegilaan pada manusia, karena masa tersebut merupakan masa di mana sang dewi bulan, Luna, mengendarai kereta peraknya di langit malam. Tak ayal jika kata "lunacy" atau "lunatic" dalam bahasa inggris diartikan sebagai kondisi kegilaan. Bak bersambut-sambutan, mitologi yang laris sepanjang zaman ini juga menyebutkan bahwa sesosok manusia serigala yang muncul ketika purnama, hanya bisa dihentikan dengan menembakkan peluru perak ke manusia serigala tersebut atau digerogoti habis oleh sekelompok vampire pada kasus cinta segitiga Jacob, Bella Swan dan Edward Cullen di film Twilight.

Kendati telah didengar selama berabad-abad, cerita yang banyak mengilhami film atau rekaan populer tersebut justru tidak pernah dibuktikan secara nyata apalagi menggunakan data ilmiah. Atau dengan kata lain, kisah manusia serigala dan bulan purnama hanyalah bualan turun-temurun yang mengesankan belaka. Khususnya, bagi para orang tua yang sulit meredam hasrat anak-anak nakal yang ngotot berkeliaran sekalipun waktu malam telah tiba.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/MEL)