Interest | Art & Culture

Budaya Menulis Tangan yang Kian Terkikis di Era Teknologi

Sabtu, 26 Feb 2022 16:00 WIB
Budaya Menulis Tangan yang Kian Terkikis di Era Teknologi
Jakarta -

Terakhir kali saya menulis dengan tangan adalah dua tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Mencatat merupakan salah satu kegiatan yang saya sukai, karena dengan mencatat otak saya juga bisa dengan lebih mudah mencerna apa yang dikatakan oleh pengajar.

Sebab terkadang, menulis bisa membantu saya mengurai dan memproses ide pengetahuan yang saya tangkap dan ide yang berkembang di dalam pikiran. Sekarang setelah saya bekerja, pulpen dan buku catatan nyaris tidak pernah saya sentuh kembali. Handphone dan laptop telah menggantikan pulpen dan buku catatan yang dulu nyaris saya bawa kemana-mana.

.Ilustrasi menulis tangan / Foto: SHVETS production/Pexels

Teknologi memang telah perlahan menggeser dan menggantikan budaya manusia, salah satunya menulis tangan. Dulu ketika di sekolah, ada suatu kebanggaan tersendiri kalau tulisan tanganmu dipuji. Bahkan, kemampuan menulismu bisa diuji dalam pelajaran Menulis Indah. Sekarang, indah atau tidaknya tulisanmu menjadi tidak begitu berarti, sebab kamu bisa mengetiknya melalui sebuah gawai.

Apalagi dengan adanya pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita untuk tetap di rumah, teknologi pun menjadi pilihan utama untuk berkomunikasi. Menulis di handphone dan laptop memang lebih mudah dan cepat, efisiensi inilah yang membuat orang-orang sekarang mulai meninggalkan tulisan tangan. Selain itu, berbeda dengan kertas dan buku yang bisa hilang sewaktu-waktu, tulisan yang kamu simpan di gawaimu akan lebih mudah untuk diarsipkan.

Nilai utama dari penggunaan teknologi terletak pada efisiensi dan kepraktisan yang ditawarkannya. Atas dasar ini, teknologi mampu mengakomodasi fungsi dasar dari tulisan yaitu sebagai bentuk komunikasi dan media untuk menuangkan gagasan. Namun, menulis tangan ternyata memiliki nilai yang lebih dari sekedar fungsinya sebagai media komunikasi.

.Ilustrasi menulis tangan di kertas/ Foto: Cottonbro/Pexels

Menurut The National Handwriting Association, menulis merupakan komponen literasi yang menjadi kemampuan istimewa dari manusia. Dengan menulis manusia bukan hanya berkomunikasi, tapi juga mengekspresikan dirinya. Sebab, tulisan tangan bersifat personal. Tulisan tangan satu orang dengan yang lainnya pasti berbeda. Sehingga kemudian, tulisan tangan bisa menjadi salah satu penanda dari identitas seseorang.

Selain itu, melalui tulisan pengetahuan bisa diturunkan dari generasi ke generasi. Sejak zaman pra-sejarah, manusia purba telah meninggalkan prasasti berupa coretan dan lukisan di gua. Hingga akhirnya, bahasa berkembang menjadi aksara. Maka terlepas dari fungsi tulisan tangan sebagai bentuk untuk menuangkan ide dan berkomunikasi, tulisan memiliki nilai ideologis sebagai bagian dari budaya manusia.

Di samping itu, menulis dengan tangan terbukti memiliki dampak positif terhadap perkembangan otak. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Claudia Aguirre yang mengatakan bahwa menulis dengan tangan bisa meningkatkan kreativitas. Sebab, fokus dari tulisan tangan bukanlah menyampaikan sesuatu dengan cepat. Melainkan, menulis dengan membuat kita memproses pikiran secara lebih tenang dan fokus, mirip seperti meditasi.

.Ilustrasi menulis tangan/ Foto: Karolina Grabowski/Pexels

Menulis berbeda dari kemampuan motorik lainnya, seperti misalnya berlari atau melompat. Sebab, menulis berhubungan erat dengan kemampuan manusia yang lain seperti kemampuan untuk berpikir dan kemampuan untuk mengingat. Maka dari itu, menulis bisa meningkatkan kemampuan kognitif, meningkatkan kreativitas, dan di saat yang bersamaan memberikan efek therapeutic.

Meski budaya menulis kian digantikan oleh teknologi, bagi saya tulisan tangan tidak akan tergantikan. Ada sesuatu yang memuaskan ketika membaca tulisan tangan sendiri. Lagipula, fitur teknologi yang hanya mengakomodasi bentuk tulisan terstruktur terkadang sulit digunakan untuk brainstorming atau proses mencari ide. Terkadang hanya melalui tulisan tangan saya bisa mengurai benang kusut yang ada di kepala saya. Meski sudah terkikis, pada kenyataannya masih ada banyak orang yang masih bergantung pada pena dan kertas.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS