Interest | Wellness

Mengenal Gender Dysphoria

Jumat, 16 Sep 2022 12:17 WIB
Mengenal Gender Dysphoria
Foto: Unsplash
Jakarta -

Ada sebuah pandangan umum bahwa identitas gender seseorang harus sama dengan jenis kelamin biologisnya. Pandangan ini turut mendorong lahirnya perilaku diskriminatif terhadap kelompok LGBTQ    semua orang yang dipandang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya akan dicap tidak normal. Namun pada kenyataannya, seseorang bisa saja merasakan ketidakcocokan antara jenis kelamin biologis dengan identitas gendernya. Hal ini disebut sebagai gender dysphoria.

Kata dysphoria sendiri memiliki arti merasa tidak tenang atau tidak puas, sehingga orang yang mengalami gender dysphoria bisa merasakan kecemasan dan ketidakpuasan yang mendalam terhadap diri mereka. Karakteristik biologis berbeda dengan identitas gender, sebab gender menyangkut sense of self atau bagaimana kita mengidentifikasi diri kita sendiri. Beberapa orang yang terlahir secara biologis sebagai laki-laki bisa saja ketika tumbuh dewasa merasa bahwa identitas gendernya adalah perempuan, dan juga sebaliknya.

.Ilustrasi gender dysporia/ Foto: Pexels

Gender dysphoria bisa berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-hari. Misalnya, merasa tertekan gender pilihannya tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya atau karena harus memenuhi tuntutan masyarakat dalam mengekspresikan diri sebagai laki-laki atau perempuan. Hal ini bisa pun bisa berakibat pada masalah psikis seperti kecemasan, depresi, gangguan makan, dan tendensi untuk melukai diri sendiri.

Meski gender dysphoria adalah permasalahan psikologis, tapi permasalahan utamanya terletak pada kecemasan dan stres yang muncul akibat ketidakcocokan yang dirasakan dan bukan karena memiliki rasa ketidakcocokan tersebut. Maka dari itu, penanganan untuk gender dysphoria bukan untuk mengubah persepsi seseorang mengenai gender seseorang, tapi untuk menangani kondisi emosional dan stres yang diakibatkannya. Sayangnya, orang-orang yang mengalami gender dysphoria masih sulit untuk mencari bantuan. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali gejala-gejala gender dysphoria. Dilansir dari Mayo Clinic, seseorang harus mengalami setidaknya dua dari kondisi di bawah ini selama 6 bulan berturut-turut:

.Ilustasi gender dysporia/ Foto: Pexels
  • Adanya perbedaan antara identitas gender dengan alat kelamin atau karakteristik biologis yang dimiliki.
  • Adanya keinginan untuk menghilangkan atau menghambat pertumbuhan ciri kelamin sekunder.
  • Adanya keinginan kuat untuk memiliki alat kelamin dan ciri kelamin sekunder dari gender lain.
  • Adanya keinginan untuk diperlakukan sebagai gender yang berbeda.
  • Memiliki keyakinan kuat untuk merasakan dan bereaksi seperti gender lain.
  • Gejala-gejala di atas bisa muncul sejak usia anak-anak. Namun dalam kasus orang dewasa, gejala yang dirasakan harus disertai dengan gejala masalah psikis yang menghambat kehidupan sehari-hari.

Apabila kamu merasa mengalami gejala gender dysphoria, kamu bisa mencoba menghubungi psikolog atau psikiater untuk membicarakan ketidaknyamanan yang kamu rasakan. Patut diingat, sesi konseling ini tidak bertujuan untuk mengubah kepercayaan terhadap gender yang dimiliki melainkan untuk mengatasi rasa stres yang dialami.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/DIR)