Interest | Wellness

Apa Itu Perilaku Self-Sabotage?

Minggu, 29 May 2022 16:00 WIB
Apa Itu Perilaku Self-Sabotage?
Jakarta -

Sebagai pribadi yang introvert, saya kerap merasa cemas ketika berada di kerumunan. Saya pun harus meluangkan waktu seorang diri untuk bisa mengisi ulang energi demi bisa berinteraksi dengan orang lain. Namun saat saya sedang sendiri, terkadang pikiran-pikiran buruk menghampiri. Sehabis bercengkrama dengan banyak orang, saya memiliki kekhawatiran yang besar mengenai persepsi orang lain terhadap diri saya. Pikiran-pikiran buruk ini pun kadang menghalangi relasi saya dengan orang lain.

Memang betul yang dikatakan orang-orang, bahwa musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Sebab belakangan baru saya tahu, bahwa saya memiliki tendensi untuk melihat diri saya sebagai korban sehingga saya berlarut-larut dalam kesedihan. Kebiasaan buruk yang saya miliki ini merupakan bentuk self-sabotage.

Self-sabotage adalah perilaku yang mendisrupsi kehidupan sehari-hari dan menjadi hambatan bagi kita untuk mencapai tujuan hidup. Ada banyak sekali bentuk-bentuk perilaku self-sabotage. Mulai dari terobsesi dengan kesempurnaan alias perfeksionis, kebiasaan menunda-nunda sesuatu atau procrastination, overthinking, selalu mengkritik diri sendiri, hingga tendensi untuk menghindari konflik atau tantangan.

.Ilustrasi menyabotase diri/ Foto: Pexels

Setiap orang, bisa secara sadar maupun tidak sadar memiliki tendensi untuk menyabotase diri mereka sendiri melalui perilaku atau kebiasaan yang destruktif. Misalnya, orang yang tidak puas dengan penampilan mereka secara sadar melakukan sabotase diri dengan melakukan diet ekstrim yang membahayakan kesehatan. Atau, ada juga yang secara tidak sadar melakukannya misalnya dengan menunda-nunda pekerjaan padahal deadline sudah dekat, karena sebenarnya ia takut akan kegagalan.

Lalu, mengapa kita memiliki tendensi untuk menyabotase diri kita sendiri? Setiap individu bisa memiliki latar belakang dan alasan berbeda-beda yang mendorong mereka untuk memiliki perilaku self-sabotage. Melansir Very Well Mind, secara umum ada beberapa penyebab yang banyak ditemui. Pertama, masa kecil yang kurang bahagia. Tumbuh besar di keluarga yang disfungsional bisa berdampak terhadap attachment style-mu dengan orang lain serta bagaimana kamu membina hubungan dengan mereka. Kedua, hubungan percintaan yang buruk. Hubungan yang beracun bisa membuatmu memiliki trauma sehingga kamu takut untuk berkomitmen. Tanpa sadar, kamu pun melakukan hal-hal yang bisa menyabotase hubunganmu karena sebenarnya kamu takut akan tersakiti.

Ketiga, tingkat kepercayaan diri yang rendah. Orang yang merasa insecure dengan dirinya sendiri sangat rentan terhadap perilaku menyabotase diri sendiri. Sebab, mereka bisa saja tanpa sadar melakukan hal-hal yang sebenarnya mewujudkan kepercayaan negatif tentang diri mereka sendiri. Mereka pun menjadi takut akan keberhasilan dan memaksa diri mereka untuk tetap berada di fase yang stagnan. Keempat, disonansi kognitif. Disonansi kognitif adalah konflik mental yang terjadi ketika keyakinan, sikap, dan perilaku seseorang tidak sejalan. Ada bagian dalam dirimu yang saling berkontradiksi. Misalnya, kamu tahu bahwa merokok tidak baik bagi kesehatanmu, tapi kamu tetap melakukannya. Ketika kepercayaan dan perilakumu tidak sejalan, maka akan terjadi konflik batin yang membuatmu meragukan dirimu sendiri.

.Self-sabotage/ Foto: Pexels

Lalu, bagaimana kita menghadapi perilaku self-sabotage? Proses untuk bisa mengatasi tendensi menyabotase diri sendiri tentu tidak mudah dan instan. Sebab, kamu juga harus bisa mengungkap penyebab-penyebab yang membuatmu memiliki perilaku tersebut. Dan untuk itu, mungkin kamu harus terbuka dengan masa lalumu dan bersiap membuka luka lama.

Namun, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi apa perilaku self-sabotage yang kamu miliki. Salah satu caranya, kamu bisa mengambil test Positive Intelligence. Atau, setiap kali kamu memiliki emosi atau pikiran buruk, kamu bisa berefleksi sesaat untuk mengetahui polanya. Dengan mengidentifikasi perilaku self-sabotage yang kamu miliki, setidaknya kamu bisa memiliki kesadaran bahwa kamu memiliki kebiasaan yang menghalangimu untuk berkembang.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)