Interest | Wellness

Benarkah Susu Bahaya untuk Tubuh?

Sabtu, 07 May 2022 18:00 WIB
Benarkah Susu Bahaya untuk Tubuh?
Foto: PEXELS ALEXAS FOTOS
Jakarta -

Dulu saat kecil, kita selalu diiming-imingi manfaat susu sapi yang sangat baik untuk kesehatan dan pertumbuhan kita. Bahkan, banyak yang menjadikan mengonsumsi susu sapi sebagai kebiasaan untuk memulai harinya seiring bertambah dewasa. Memang, kita tidak bisa mengelak faktanya bahwa susu memiliki banyak nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh seperti kalsium, folat, magnesium, vitamin A, vitamin B12, protein dan masih banyak lagi. Namun faktanya, beragam penelitian terbaru menunjukkan susu mungkin memiliki efek berbahaya pada tubuh.

Meskipun banyak juga penelitian yang membuktikan bahwa susu memiliki banyak manfaat untuk tubuh seperti kesehatan tulang dan gigi, mencegah diabetes dan lain-lainnya, kali ini kita perlu juga mengetahui hal-hal berbahaya yang dapat diakibatkan oleh susu sapi. Berikut ini adalah beberapa bahaya yang dapat diakibatkan oleh susu sapi terhadap tubuh kita.

Pendarahan usus pada bayi
Bayi dapat mengalami pendarahan pada pencernaannya apabila diberikan susu sapi saat umurnya kurang dari satu tahun. Pendarahan yang terjadi di lapisan usus bayi ini dapat menyebabkannya anemia defisiensi. Karena hal inilah, dokter sangat tidak merekomendasikan susu sapi untuk anak yang belum berumur satu tahun.

Meningkatkan risiko beberapa penyakit
Pada November 2019, The American Journal of Clinical Nutrition menerbitkan analisisnya yang menyoroti efek samping susu dan keju. Mereka menemukan bahwa makanan ini telah dapat menyebabkan kanker prostat dan kolorektal yang lebih tinggi, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah besar.

Tidak hanya itu, sebuah studi epidemiologi di bulan Februari 2020 di International Journal of Epidemiology menemukan hubungan antara minum susu sapi dan kanker payudara. Meskipun jenis penelitian ini tidak begitu klinis karena tidak dapat menentukan sebab dan akibat, tetapi mereka menyatakan bahwa hal ini menunjukkan hubungan yang potensial.

Alergi dan intoleran laktosa
Menurut Mayo Clinic, alergi susu dapat menyebabkan gatal-gatal, pembengkakan pada wajah dan mulut, mata berair, gangguan pencernaan, kram perut, muntah, buang air besar berdarah dan gejala lainnya. Secara umum, reaksi ini dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam setelah minum susu atau makan makanan yang mengandung bahan ini.

Masalah umum lainnya yang terkait dengan produk susu adalah intoleransi laktosa. Menurut U.S. Department of Health and Human Services, kondisi ini mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mencerna dan memproses laktosa dan gula yang terkandung secara alami dalam susu. Gejala intoleransi laktosa hampir mirip dengan alergi susu seperti, kembung, diare, muntah dan sakit perut.

Fraktur tulang
Sebuah studi Oktober 2014 di The BMJ mengaitkan asupan susu yang tinggi dengan risiko kematian dan patah tulang yang lebih besar pada wanita. Seseorang yang minum tiga gelas susu atau lebih setiap harinya juga dapat mengalami peningkatan stres oksidatif dan inflammatory markers. Penelitian juga menemukan bahwa hal ini diakibatkan oleh gula yang disebut D-galaktosa dalam susu. Studi lain juga menunjukkan bahwa patah tulang pada orang dewasa yang lebih tua karena osteoporosis paling tinggi dialami oleh orang-orang yang mengonsumsi lebih banyak susu, protein hewani, dan kalsium.

Susu secara alami memang memiliki banyak nutrisi penting. Namun, masih diperlukan lebih banyak penelitian tentang jumlah susu yang baik untuk dikonsumsi sehingga tidak menimbulkan risiko-risiko seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Namun untuk menghindarinya secara keseluruhan, kamu dapat memilih susu organik dari sapi yang bebas dari injeksi hormon. Alternatif susu pun juga bisa menjadi bagian dari diet yang sehat dan seimbang.

[Gambas:Audio CXO]



(MEL/MEL)