Insight | Science

Mengenal Eunice Foote, Aktivis Pelopor Climate Science

Senin, 16 May 2022 16:00 WIB
Mengenal Eunice Foote, Aktivis Pelopor Climate Science
Jakarta -

Climate science mungkin merupakan salah satu bidang pengetahuan yang paling kita butuhkan saat ini. Sebab meski pemanasan global dan kerusakan lingkungan semakin kritis, masih banyak orang yang meragukan kebenaran dari fenomena ini. Menurut survei yang dilakukan oleh YouGov, Indonesia merupakan negara dengan jumlah climate deniers terbanyak di dunia. Sebanyak 18 persn dari populasi survei mengatakan mereka tidak percaya bahwa perubahan iklim disebabkan oleh perbuatan manusia. Padahal, terjadinya pemanasan global sudah diprediksi sejak tahun 1800an, melalui sebuah eksperimen yang dilakukan oleh seorang aktivis perempuan bernama Eunice Foote.

Sepanjang sejarah, ada banyak sekali kontribusi ilmuwan perempuan yang tidak tercatat dan terlupakan oleh banyak orang, dan Eunice Foote adalah salah satunya. Eunice Foote adalah aktivis perempuan sekaligus ilmuwan yang pertama kali menemukan bahwa kadar gas karbondioksida yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan suhu. Eunice Newton Foote dilahirkan di Connecticut, Amerika Serikat, pada tahun 1819. Eunice memang tidak asing dengan dunia sains, sebab ayahnya merupakan kerabat jauh dari Isaac Newton. Ia mendalami sains ketika menempuh pendidikan di Troy Female Seminary, di mana ia diajar oleh Amos Eaton, salah satu tokoh pelopor pendidikan sains modern.

Eunice sendiri pada waktu itu merupakan ilmuwan amatir. Tapi, ini tak mengurangi besarnya kontribusi dirinya terhadap dunia sains. Pada tahun 1856, Eunice melakukan sebuah eksperimen sederhana yang memberikan pemahaman mengenai fenomena yang kita kenal saat ini sebagai efek rumah kaca. Eksperimen yang dilakukan Eunice sederhana, ia memasukkan termometer ke dalam dua gelas silinder. Lalu ia memompa gas karbondioksida ke dalam salah satu gelasnya, dan memompa udara ke gelas yang lain. Kemudian, ia meletakkan dua gelas tersebut di bawah sinar matahari. Gelas silinder yang mengandung gas karbondioksida pun memiliki temperatur yang lebih panas dibandingkan dengan gelas yang diisi dengan udara.

.Ilustrasi rumah kaca/ Foto: Piqsels

Hasil temuan dari penelitian ini ia tuangkan ke dalam tulisan ilmiah berjudul Circumstances affecting the Heat of the Sun's Rays. Meski hasil penelitian ini dipresentasikan di American Association for the Advancement of Science dan diterbitkan dalam American Journal of Science and Arts, temuan Eunice tidak mengundang perhatian banyak orang, termasuk dari kalangan akademisi. Kredit atas penemuan mengenai efek rumah kaca justru diberikan kepada ilmuwan laki-laki bernama John Tyndall pada tahun 1861.

Penelitian Eunice memang tidak secara spesifik mengungkap bagaimana kadar gas di atmosfer mempengaruhi perubahan temperatur. Hal ini baru muncul dalam penelitian John Tyndall yang menemukan bahwa uap air dan gas rumah kaca menyerap panas dari matahari sehingga menyebabkan kenaikan suhu. John sendiri mengatakan pada saat itu ia tidak mengetahui eksperimen yang telah dilakukan oleh Eunice Foot. Hal ini menegaskan bahwa meski keduanya sama-sama melakukan terobosan (dan Eunice melakukannya lebih dulu), karya ilmuwan perempuan seringkali tidak mendapatkan pengakuan dari banyak orang dan berakhir dilupakan.

Memang, pada saat itu dunia sains masih didominasi oleh laki-laki. Pun mungkin sampai hari ini mungkin masih banyak ilmuwan perempuan yang kontribusinya kurang mendapat apresiasi. Eunice Foote sendiri merupakan seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Ia turut mengkampanyekan isu kesetaraan gender, termasuk hak perempuan untuk berpartisipasi dalam pemilu.

Dunia sains berhutang banyak kepada Eunice Foote. Terutama karena saat ini, kita sedang menghadapi krisis yang telah diprediksinya lebih dari satu abad yang lalu.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/MEL)