Inspire | Love & Relationship

200 Words Love Story: Kutunggu Hujan Reda

Sabtu, 08 Apr 2023 20:00 WIB
200 Words Love Story: Kutunggu Hujan Reda
Foto: Unsplash
Jakarta -

Awan hitam muncul di atas kepalaku.

Aku sedang tidak berbicara tentang awan di atas langit luas. Awan hitam yang kumaksud menyelimuti pikiranku yang kalut akan segala bentuk masalah dan rintangan kehidupan.

Pekerjaan, percintaan, keuangan, dan masalah hubungan antara aku dengan keluarga tidak pernah usai. Siang dan malam, semuanya aku lalui dengan naik-turunnya suasana hati yang terkadang cerah, tapi tidak jarang juga membiru. Aku melihat hidupku tidak pernah baik-baik saja. Selalu hadir momen yang membuat aku terdorong jatuh ke lubang hitam yang sama. Ketika aku sampai di dasar lubang itu, yang ku temui hanyalah kegelapan, dan awan hitam di atas kepalaku.

Semua orang harus tahu hidupku penuh dengan sengsara. Aku ingin mereka semua yang mampu menunjukkan senyumnya mengetahui betapa tipisnya batas antara aku dengan rasa benci terhadap diriku. Sialnya, aku merasa mereka berdiri kokoh penuh kesombongan karena mampu mencintai diri sendiri. Sedangkan aku? Harus berselisih dengan rasa benci sambil menyadari awan hitam di atas kepalaku telah lagi dan lagi berubah menjadi hujan yang penuh sakit.

"Lho, kita semua kan sudah diajarkan untuk menggunakan payung ketika sedang hujan. Kenapa tidak aku gunakan? Tapi di mana payungnya?"

Kalimat itu muncul sesaat aku mencari tempat berteduh yang dahulu tidak pernah ada. Ternyata ada payung di sebelah sana! Di ujung jalan yang masih jauh dari tempatku berteduh. Sekarang pilihannya: aku harus kebasahan menembus hujan, atau menunggu hujan reda?

Ah, sudahlah. Aku tahu hujan ini pasti akan reda juga. Setelahnya, aku baru pergi dari sini. Sudah waktunya aku menjaga diri dari hujan yang ingin membasahiku tanpa kenal waktu bersama payung yang memang telah disiapkanNya untukku sebagai penyadar: aku harus mencintai diriku sendiri.

[Gambas:Audio CXO]

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS