Inspire | Love & Relationship

Stonewalling, Pelecehan Emosional dalam Hubungan yang Jarang Disadari

Kamis, 28 Jul 2022 14:00 WIB
Stonewalling, Pelecehan Emosional dalam Hubungan yang Jarang Disadari
Foto: FREEPIK
Jakarta -

Tak semua pasangan mampu berkomunikasi dengan cara yang tepat dan baik. Tak heran kesalahpahaman kerap muncul dan pertengkaran tidak terhindarkan. Meski begitu, pertengkaran adalah sesuatu yang sehat dalam sebuah hubungan bila kedua belah pihak tahu cara berdebat dengan baik dan meluruskan kesalahpahaman yang ada. Jika salah satu aja ada yang tidak mampu untuk melaluinya dan justru menghindar dari masalah, tidak jarang menyebabkan pelecehan emosional secara tidak langsung, seperti Stonewalling.

Matt Lundquist, psikoterapis dan direktur klinis di Tribeca Therapy, dilansir Bustle mengatakan stonewalling adalah penolakan yang dilakukan oleh seseorang agar tidak terlibat dalam percakapan yang sulit, perselisihan, atau menanggapi seseorang yang mengungkapkan rasa sakit atau kebutuhannya. Dr. Racine Henry dari Sankofa Therapy NYC setuju dan mencatat seorang stonewaller sering memiliki respons kosong dan tenang terhadap ekspresi emosi seseorang.

Misalnya kamu mencoba untuk mengungkapkan apa yang kamu inginkan dari pasanganmu. Tapi kekasihmu cenderung menghindari percakapan serius dan justru mengalihkan pembicaraan. Atau ketika kamu bertengkar dengan pasanganmu, ia lebih suka pergi menghindari pertengkaran denganmu. Lalu saat pasanganmu kembali, dia tidak ingin lagi membahasnya karena menganggap hal itu sudah lalu.

Sadar atau tidak, stonewalling sebenarnya kerap kita abaikan dan menganggapnya sebagai respons biasa. Tapi siapa sangka perilaku ini justru memiliki dampak emosional bagi para korban. Apa saja ya?

Dampak Emosional Stonewalling

Stonewalling bisa berdampak besar pada hubungan bahkan dianggap sebagai faktor 'pembunuh' suatu hubungan. "Untuk individu yang memiliki orang tua yang kerap menghindari emosi anaknya, stonewalling bisa memunculkan pengalaman yang sulit," kata Lundquist.

Alih-alih berdebat atau berusaha memahami perasaan pasangannya, para stonewaller akan menutup diri dan menolak untuk maju dalam percakapan karena menganggap akan merugikan kedua belah pihak dan tidak ada masalah yang bisa diselesaikan. Bagi seseorang yang mengalami perilaku stonewalling dari pasangannya dengan sengaja, biasanya ditandai seperti perilaku acuh tak acuh saat pembicaraan serius. Kurangnya timbal balik emosional juga bisa menyebabkan keraguan diri atau rasa tidak aman.

Sehingga orang yang mengalami perilaku stonewalling terus-menerus bisa membuat mereka merasa cemas, marah, tidak valid, atau terisolasi dalam situasi mereka. Mereka akan terus merasa bahwa tidak ada orang yang peduli dengan perasaan mereka yang sebenarnya karena tidak diakui.

Stonewalling Tak Sama dengan Gaslighting

Stonewalling kerap disamakan dengan gaslighting. Gaslighting sendiri adalah bentuk pelecehan emosional di mana seseorang mencoba memanipulasi orang lain untuk mempertanyakan realitas mereka sendiri. Lundquist menjelaskan bahwa stonewalling bisa menjadi bentuk implisit dari gaslighting. Selain itu, menolak untuk terlibat dari percakapan dan sengaja membuat orang lain merasa bersalah adalah bagian stonewalling.

Menurut Dr. Henry, perbedaan utama antara stonewalling dan gaslighting adalah niat di balik tindakan tersebut. "Perbedaan antara gaslighting dan stonewalling adalah bahwa gaslighting melibatkan upaya meyakinkan orang lain tentang kenyataan yang berbeda dari yang mereka alami. Stonewalling lebih kepada menutup diri untuk menghindari konfrontasi atau menyakiti perasaan orang lain. Stonewalling lebih kepada mekanisme pertahanan seseorang yang berakar dalam melindungi perasaannya. Tapi gaslighting lebih cenderung memanipulasi orang lain," paparnya.

Cara Menanggapi Para Stonewaller

Ketika dalam hubungan, ada baiknya kamu menjelaskan perasaanmu terhadap pasangan. Misalnya jujur dengan apa yang kamu rasakan dan bagaimana hubungan itu mempengaruhimu selama ini. Jika pasanganmu menolak untuk melakukan perubahan ini, ada baiknya tinggalkan mereka. Tapi bila kamu memilih untuk menghadapinya, Lundquist menyarankan melakukan argumen yang sehat dan menyatakan perasaanmu dengan benar, hindari bahasa menuduh seperti menggunakan istilah stonewalling, karena akan membuat pasanganmu bersikap makin defensif dan memulai argumen lainnya yang tak perlu.

"Setelah tenang, biarkan mereka tahu bahwa kamu tidak akan mentolerirnya, bahwa itu adalah masalah yang lebih besar bagimu tanpa dia sadari dan mereka perlu menemukan cara lain untuk menghadapi percakapan sulit," ujarnya.

Intinya adalah bersikap jujur dan bicara lebih terbuka adalah cara ampuh untuk memulai komunikasi yang sehat. Kebiasaan stonewalling akan lambat laun menghilang dan kepercayaan pasanganmu pada kamu semakin bertambah. Jadi komunikasi yang efektif dan solutif akan memperkuat hubungan itu sendiri seiring berjalannya waktu.

[Gambas:Audio CXO]



(DIR/MEL)