Inspire | Love & Relationship

Blame Game: Bahayanya Selalu Menyalahkan Orang Lain

Jumat, 11 Mar 2022 18:00 WIB
Blame Game: Bahayanya Selalu Menyalahkan Orang Lain
Jakarta -

Apa itu blame game?

Sering kali ketika kita melakukan kesalahan, kita merasa takut, cemas, dan kadang timbul perasaan terancam. Hal ini membuat banyak orang cenderung mencari pembelaan buat diri sendiri. Terkadang malah mencari kambing hitam untuk menumpahkan sebuah kesalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Dibanding mencari jalan keluarnya, kita malah mengalihkan kesalahan itu ke tempat yang tidak semestinya.

Mengutip Sabrina Romanoff, Psy.D., psikolog klinis dan profesor di Universitas Yeshiva, blame game dapat diartikan sebagai, "Ketika orang menghadapi akibat atau konsekuensi yang tidak diinginkan setelah melakukan kesalahan, ketakutan mereka dapat menyebabkan mereka membela diri dengan mengalihkan kesalahan dari diri mereka sendiri dan menjadi kambing hitam."

Kenapa melakukan blame game?

Takut bertanggung jawab akan konsekuensi yang ditimbulkan dari permasalahan tersebut bisa menjadi salah satu alasan kita jadi suka menyalahkan orang lain. Mereka menghindari tanggung jawab dan mengalihkannya ke orang lain. Selanjutnya, ketakutan akan reputasi yang hancur juga sering muncul ketika kesalahan itu membahayakan posisi kita dan nama baik kita, misalnya di dalam karier dan pekerjaan.

Padahal, blame game, atau permainan menyalahkan itu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Berharap masalah selesai? Tidak juga, karena masalah yang ada tidak kita perbaiki maupun dicari solusinya, tapi hanya kita tunda dengan membebaninya pada orang lain. Kita hanya akan terpaku mencari kesalahan dan siapa yang bisa disalahkan.

Dampaknya?

Blame game akan berdampak bukan hanya pada orang lain, tapi juga terhadap diri sendiri. Untuk diri sendiri, menyalahkan merupakan pembelaan diri. Terus-menerus membela diri akan membuat kita menutup diri pula terhadap pembelajaran yang dapat diambil ketika kita berbuat salah. Belajar menerima kesalahan yang kita dan orang lain buat akan membuat kita dapat mengidentifikasi sumber permasalahannya dan memperbaiki diri maupun situasi ke depannya agar kesalahan tidak terulang kembali.

Blame game juga akan mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain, selain dapat menciptakan hubungan yang tidak harmonis serta ketegangan, dapat juga menjadi pengalaman traumatis yang menyakitkan dan memalukan bagi orang yang disalahkan. Kita pun akan sulit membina hubungan yang baik dan kuat dengan orang-orang di sekitar kita karena akan kehilangan kepercayaan terhadap diri kita.

Bagaimana menghindarinya?

Kita perlu menetapkan tanggung jawab dan mengembannya dengan baik. Penting untuk bisa memetakan tanggung jawab dengan jelas sehingga kita tahu batasan dan tugas yang harus dilakukan. Berikutnya, biasakan diri untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Bahkan jika seseorang telah disalahkan secara tidak adil, kita bisa mencoba untuk meminta orang yang bertanggung jawab agar meminta maaf. Kita dapat meminta maaf atas nama mereka jika ini tidak memungkinkan. Terakhir, jika kita melihat orang lain melakukan kesalahan, kita juga perlu menanggapinya dengan empati, bukan malah menambah masalah dengan menyalahkannya secara membabi buta. Cari tahu alasannya dan tawarkan juga dukungan untuk bisa sama-sama memperbaikinya.

Kesalahan tidak dapat dihindari, dan merupakan bagian dari pengalaman hidup. Maka dari itu, daripada melakukan blame game, lebih baik kita fokus untuk mencari solusi dari permasalahan itu dan cara mencegahnya. Menyalahkan hanya akan memperkeruh masalah dan membuatnya sulit untuk diperbaiki.

[Gambas:Audio CXO]



(SAS/HAL)